Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Kedatangan sang kakek


__ADS_3

Happy reading


***


Mentari pagi menyeruak melalui celah jendela kamar Ayunda. "Umm... Sudah pagi", ucap suara paraunya sambil tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Kemudian dia turun dari tempat tidur dan berlari kecil menuju kamar mandi.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya dan berpakaian rapi, Ayunda keluar dari dalam kamar menghampiri sang ibu dan sang kakak yang sudah terlebih dahulu menikmati sarapan pagi di meja makan.


"Pagi bun, pagi kak", sapanya dengan guratan senyum yang menghiasi wajah manis Ayunda.


Adrian melongo menyaksikan pemandangan pagi ini.


"Tenang, kak", ucap Ayunda saat melihat ekspresi sang kakak. "Yunda sudah melakukan seperti yang kakak sampaikan ke Yunda... Alhamdulilah, sekarang Yunda sudah mulai tenang, karena Yunda serahkan semua pada Allah", ujarnya dengan menengadah ke atas lalu tersenyum lebar.


"Syukurlah adikku yang manis ini sudah paham", sahut Adrian. "Tapi ingat, harus tetap yakin ya", ucapnya memberi nasehat.


"Asiyap kakakku sayang", seru Ayunda sambil meletakkan telapak tangannya di sebelah kanan wajahnya dengan sikap hormat.


Adrian pun tersenyum riang melihat tingkah sang adik. Sang bunda yang sedari tadi hanya menonton interaksi keduanya juga ikut tersenyum, walaupun saat ini di dalam hatinya masih ada perasaan gusar karena menanti sebuah keputusan persidangan sang mantan suami.


"Bunda..." panggil Adrian yang membuyarkan lamunan sang bunda. "Adrian ada janji bertemu dengan klien hari ini", serunya sambil berdiri, lalu menghampiri sang bunda. "Doakan semoga Adrian berhasil ya, Bun." Adrian memeluk dengan merangkul sang bunda dari belakang.


Sang bunda menepuk pelan punggung tangan Adrian. "Bunda selalu mendoakan yang terbaik buat anak-anak bunda. Insya Allah Ijabah Allah." sahut sang bunda dengan nada lembut sambil mendongak ke arah Adrian, lalu tangan kirinya mengelus lembut rambut Adrian yang sudah tertata rapi. "Semoga sukses", seru bunda yang dibalas dengan ciuman oleh Adrian.


Adrian pun berpamitan pada sang bunda dan Ayunda yang masih menikmati sarapan pagi spesial dari sang bunda. Lalu dia berjalan ke luar meninggalkan rumah.


***


Ting. Suara pintu lift terbuka.


Tampak Alfian ke luar dari dalam lift saat dia sudah berada pada lantai gedung yang ingin dia tuju. Pagi ini dia berjalan menuju ruang kerjanya dengan mengabaikan sapaan beberapa karyawan yang kebetulan berpas-pasan dengannya. Guratan wajah seriusnya menunjukkan bahwa saat ini dia sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat.


"Ada apa dengan pak Alfian?" tanya beberapa karyawan pada sesama rekan kerjanya. Namun mereka tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan sesama rekan kerja.


"Pagi, Pak", sapa Tya sambil berdiri.


"Pagi, Pak", Tya mengulangi sapaannya, menduga bahwa sang bos tidak mendengarnya.


Benar saja Alfian tidak mendengarnya meskipun Tya sudah menyapanya dua kali. Alfian langsung melongos masuk ke ruangannya dan membiarkan pintu tertutup secara otomatis.


"Pagi Tya", sapa Winda yang melihat Tya berdiri dengan wajah bingung.


"Eh, pagi, Bu", sahut Tya dengan ekspresi kaku.

__ADS_1


"Hmm, masih pagi Tya. Kamu sudah bengong saja."


Tya pun membalas dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum pada Winda.


"Pak Alfian ada?" tanyanya.


"Oh, ada Bu. Baru saja masuk", jawabnya cepat.


"Oke, saya masuk ya", ucap Winda sambil melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan Alfian tanpa menunggu persetujuan dari Tya.


"Siapa..." ucapan Alfian terputus saat dia akan meneriaki seseorang yang baru saja masuk ke ruangannya.


"Ini aku", sahut Winda. "Kenapa harus berteriak", ucapnya dengan mengernyitkan keningnya.


"Bukan apa-apa", balas Alfian singkat. "Ada keperluan apa kau kemari?"


Winda duduk di hadapan Alfian, meskipun dia tidak dipersilahkan duduk oleh sang pemilik ruangan. "Setidaknya persilahkan aku duduk dulu", sahutnya.


"Sekarang kau sudah duduk. Ayo, katakan apa keperluanmu", ujar Alfian.


"Dasar aneh", gerutu Winda. Namun tiba-tiba dia merubah ekspresi wajahnya. "Alfian bantu aku", rengeknya.


Alfian mendengus kasar, lalu menatap Winda dengan berpangku tangan. "Apa masalahmu lebih besar dari masalahku?" tanyanya dengan menaikkan kedua alisnya.


"Cepat katakan!" Alfian berdecak kesal karena mulai jengah dengan sikap Winda.


Winda pun langsung mengatakan tujuannya sebelum Alfian berubah pikiran nantinya. "Sekarang kekasihku mengabaikanku. Aku hanya bisa meminta bantuanmu, karena kau dan dia adalah sahabat karib, jadi kau pasti sangat memahaminya."


"Oh...", balas Alfian singkat.


Winda mengernyitkan keningnya. "Oh..." ucapnya mengulangi perkataan Alfian.


"Ternyata kita punya masalah di keluarga yang sama", ucap Alfian sambil mendengus kasar.


Winda beranjak dari tempat duduknya menghampiri Alfian yang masih duduk dengan muka lesu. "Bisa dikatakan masalah kita hampir sama, ya?" tanya Winda saat sudah berada di samping Alfian.


"Tapi tunggu dulu, aku rasa masalahmu masih bisa di atasi", seru Winda. Tangannya refleks menepuk pundak Alfian yang membuat Alfian sedikit berjingkat. "Eh, maaf", ucap Winda. Lalu dia berjalan di belakang Alfian seakan mengitarinya. "Kau bisa mengatasinya dengan memberikan bunga. Trus, selipkan kata-kata romantis di dalamnya. Pasti dia luluh", ujar Winda dengan menjentikkan jarinya.


"Semudah itu?" tanya Alfian yang tidak begitu yakin dengan ide Winda.


"Ya," balasnya singkat, lalu berbalik mengitari Alfian dari arah yang berbeda. "Itu langkah pertama. Dan ingat, biarkan kurir yang mengantarnya."


Alfian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Trus langkah kedua apa?" tanyanya sambil mendongak ke arah Winda.

__ADS_1


"Kau belum memberikanku satu solusi apa pun", sergah Winda. "Sekarang mau minta langkah yang kedua, huh!" Winda melangkahkan kakinya menjauhi Alfian.


"Oke, oke. Aku juga akan membantumu, tapi setelah ini berhasil ya", sahut Alfian.


"Lho, seharusnya tidak seperti itu!" bantah Winda. "Harus adil dong", ucapnya sambil duduk kembali di hadapan Alfian. "Berikan satu saran darimu, sekarang. Tidak peduli itu berhasil atau tidak nantinya."


"Tapi aku belum bisa memikirkan satu ide pun", sahut Alfian.


"Waktumu masih ada, cepat pikirkan sekarang juga." pinta Winda dengan sedikit memaksa pada Alfian. Sorot mata tajamnya pun tidak dia alihkan dari pria dihadapannya itu.


Ceklek.


Suara pintu ruangan di buka mengalihkan pandangan Alfian dan Winda.


"Maaf Pak", ucap Tya yang merasa bersalah tidak memberitahu sang bos terlebih dahulu saat ada tamu yang akan masuk ke ruangannya.


"Kakek", seru Alfian dan Winda bersamaan.


"Kapan kakek datang?", tanya Alfian dan Winda hampir bersamaan. Namun tiba-tiba ekspresi mereka berubah saat melihat Siska berjalan di belakang sang kakek.


"Tya, sekali lagi saya tekankan, Kakek boleh masuk tanpa izin dariku kecuali wanita itu!" seru Alfian.


"Sudah... Sudah. Jangan marahi Tya", ujar sang kakek sambil berjalan menuju sofa, lalu duduk. Siska pun mengikutinya, kemudian duduk di sebelah kakek. Alfian menjadi kesal, moodnya bertambah buruk dengan kehadiran Siska.


"Tya..."


"Ya, pak", sahut Tya.


Tanpa melanjutkan ucapannya sang kakek menatap ke arah Winda.


"Winda... " panggilnya.


"Ya, kek", sahut Winda.


"Tolong kalian berdua keluar sebentar", ujarnya.


Tya langsung berjalan keluar diikuti oleh Winda dibelakangnya.


Setelah berada di luar ruangan, Tya dan Winda pun memulai ghibah. Mereka membicarakan ketidaksukaan mereka pada Siska. Ada firasat buruk yang mereka rasakan saat ini.


"Kasihan pak Alfian, ya", celetuk Tya seakan memahami kondisi sang bos, walaupun dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan di dalam ruangan Alfian.


Winda pun mengangguk. "Iya", sahutnya.

__ADS_1


__ADS_2