Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Mirip Mama


__ADS_3

Sebuah hubungan kerjasama telah disepakati antara Adrian dan Conny. Sejak kerjasama pertama mereka berjalan lancar, Conny pun memutuskan berinvestasi pada restoran yang ingin di buka oleh Adrian. Sebuah hadiah yang ingin diberikan oleh Adrian pada sang ibu, tepat di hari ulang tahunnya.


"Senang bekerja sama kembali", ucap Adrian saat berjabat tangan dengan Conny. Conny pun menyatakan hal yang sama sambil tersenyum. Kemudian Adrian memanggil pelayan dan meminta buku menu.


"Aku pernah berjanji akan mentraktirmu, jadi jangan sungkan-sungkan, ya", ucap Adrian pada Conny sambil memilih menu.


"Oke", balas Conny dengan menautkan jarinya sambil tersenyum ke arah Adrian.


Setelah beberapa saat melihat menu.


"Saya mau bebek panggang", ucap mereka bersamaan. Adrian dan Conny tersenyum sekilas, sambil melihat menu lainnya.


"Cah kangkung", ucap mereka hampir bersamaan.


"Minumnya pak, bu?" tanya pelayan ramah.


"Orange juice", jawab mereka. Seketika tawa mereka pun pecah. "Bhuahaha..."


Sang pelayan pun ikut tertawa, hingga para pengunjung restoran yang lain menatap mereka penuh tanda tanya.


"Kalian memang pasangan yamg serasi", ucap sang pelayan yang masih menyisakan tawa, sambil menunjukkan jari jempolnya. Dengan ramah sang pelayan meminta mereka menunggu pesanannya, lalu dia beranjak pergi.


Tatapan Adrian dan Conny saling mengunci saat mendengar ucapan sang pelayan. Setelah tatapan itu di rasa semakin dalam, mereka membuang pandangannya ke sembarang arah dengan rasa grogi.


Aku tidak ingin jadi pelakor, batin Conny.


Namun tanpa mereka sadari ada seorang wanita yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik mereka. Mulai dari pintu masuk hingga tatapan penuh arti Adrian kepada Conny. Semua dia saksikan dengan sangat jelas. Batin wanita itu meringis saat mengingat banyak hal yang tidak cocok di antara dirinya dan Adrian. Bukan hanya mengenai selera makanan, bahkan hobby mereka pun jauh berbeda.


Winda yang saat ini duduk di sudut kaca restoran sambil menahan genangan air di pelupuk matanya agar tidak jatuh, akhirnya menyerah. Butiran kristal itu pun jatuh bebas membasahi wajahnya. Dengan cepat Winda mengusapnya, lalu memakai masker dan kaca matanya untuk menutupi kesedihannya.


Gelak tawa Adrian yang terdengar nyaring di telinga Winda seakan mengiris tajam hatinya. Adrian tidak pernah tertawa selepas itu saat mereka sedang bersama. Dadanya yang semakin sesak, memaksa Winda untuk segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan restoran. Adrian dan Conny yang duduk salng berhadapan tidak dapat mengenali Winda, saat Winda dengan sengaja berjalan melewati mereka.


***


"Ahhh...", teriak pelepasan seorang pria yang sedang memadu asmara dengan sang kekasih.


"Beb, Kau sangat berbeda kali ini", bisik sang pria dengan tersenyum puas pada wanita di sampingnya. "Biasanya kau memintaku untuk membuangnya di luar", ucapnya dengan menyentuh lembut wajah wanita yang masih bertubuh polos itu, karena semua pakaian wanita itu telah dilucutinya saat pergulatan hebat yang baru saja selesai mereka lakukan.


Seakan membuat pria itu candu. Dia pun kembali memberi kecupan mesra pada wanitanya.


"Beb, sudah on lagi, nih" bisiknya.


Sang wanita menatap pria itu dengan tersenyum, lalu mengangguk memberi isyarat setuju untuk lanjut.


Setelah mendapat signal dari wanitanya. Dia pun langsung beraksi, bagai singa yang sedang kelaparan. Hingga suara ******* yang bersahutan dengan suara decitan sofa memenuhi ruangan yang minim penerangan itu.


***


Citt...


Winda mendadak menginjak pedal rem, saat seorang ibu tiba-tiba saja melintas di depan mobilnya. Debaran jantungnya yang masih memburu membuat Winda tidak langsung turun dari mobil. Dia juga takut bahwa itu adalah sebuah kedok penipuan.


Kemudian mata Winda terbelalak, saat melihat ibu yang hampir saja dia tabrak itu berdiri tanpa mengalami cedera apapun, lalu sang ibu pergi tanpa mengatakan sepata kata. Namun yang menjadi perhatian Winda bukan keselamatan sang ibu, tapi wajah sang ibu yang sangat mirip dengan almarhumah mamanya.

__ADS_1


"Mama", gumamnya. Lalu dia bergegas ke luar dari dalam mobil dan berlari untuk mengejar ibu tersebut.


Titt...


Suara klakson panjang memaksanya mundur, hampir saja dia menjadi korban penabrakan.


"Woy", pekik sang supir saat melewati Winda yang sedang berdiri dengan kaki gemetar.


"Ma.. Maaf, pak", sahut Winda dengan gugup.


Setelah Winda merasakan degupan jantungnya kembali stabil. Dia langsung melanjutkan pengejarannya, namun sang ibu tadi sudah hilang dari pandangannya.


"Kemana dia?" Winda bergumam sambil mengedarkan pandangannya.


"Mama...", ucapnya lirih sambil mengusap butiran kristal yang jatuh bebas di pipinya. "Apa karena aku terlalu merindukanya, hingga aku berhalusinasi", rengeknya.


Lalu Winda kembali masuk ke dalam mobil, memajukan kendaraannya meninggalkan tempat itu.


***


Di dalam ruang kerja Alfian duduk termenung sambil berpangku tangan. Entah apa yang sedang mengusik pikirannya saat ini. Namun sejak kepulangannya dari rumah sang mertua, pekerjaannya seakan tidak ada habisnya. Bahkan masalahnya pun seakan mengantri datang padanya.


"Apa karena aku telah menyakiti hati Yunda, ya?", gumamnya, seakan menghubungkan semua masalah yang menimpanya. "Bahkan aku pun tidak berusaha untuk menjelaskan padanya", Alfian masih terus bergumam sambil menyalahkan dirinya. "Bodohnya aku!" rutuknya.


Tok... Tok...


"Masuk", ucap Alfian dari dalam.


"Permisi, pak", ucap Tya sopan, sambil berjalan ke arah sang atasan.


"Saya mau menyerahkan ini, pak", ucap Tya sambil menyodorkan sebuah amplop.


"Apa ini", ucap Alfian sambil membukanya. "Resign!" pekik Alfian yang tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Ehm, iya pak", jawab Tya gugup.


"Tapi kenapa?" selidik Alfian.


"Saya akan menikah, pak. Dan calon suami saya bekerja di kota B. Jadi saya tidak mau menjalin hubungan LDR", sahut Tya yang sudah mulai tenang.


Alfian diam sesaat. Dia paham akan keinginan Tya tersebut. "Tapi aku minta kau keluar setelah ada penggantimu", pinta Alfian yang mulai gusar.


"Baik, pak. Tapi hanya 1 bulan pak", sahut Alfiian yang semakin membuatnya pusing.


"Oke", jawab Alfian singkat.


Lalu Tya beranjak ke luar meninggalkan sang atasan yang menyandarkan punggungnya dengan wajah lesu.


Tidak lama kemudian Siska masuk yang diikuti Tya dari belakang.


"Sudah biarkan saja dia", seru Alfian.


Tya mengangguk. "Baik, pak", sahutnya, lalu berjalan ke luar dari ruangan sang atasan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Alfian malas.


"Aku ingin mengajakmu makan siang", ucapnya lembut sambil mendekati Alfiam.


"Apa kau tahu jam berapa sekarang?" tanyanya dengan nada mengejek.


"Iya, sekaramg masih jam 2 siang", sahutnya dengan santai.


"Dan aku sudah makan", jawabnya kesal.


"Oh... kalau begitu kau bisa makan cupcake ini sayang", ucap Siska sambil meletakkan sekotak cupcake di atas meja.


"Aku tidak mau", tolak Alfian. "Jika tidak ada keperluan lain, silakan ke luar", seru Alfian dengan menunjuk pintu.


Tanpa mengucapkan sepata kata, Siska langsung menghentakkan kakinya berjalan menuju pintu.


"Tunggu dulu", ucap Alfian yang membuat Siska membalikkan badannya dengam tersenyum sumringah.


"Aku tahu..."


"Ambil ini!" seru Alfian memotong ucapan Siska lalu menunjuk kotak cupcake dengan lirikan matanya.


Siska yang semula bahagia saat Alfian memanggilnya kembali, langsung meraih kotak kue di atas meja dengan kasar, dia meninggalkan Alfian tanpa berpamitan.


Wajah emosi Siska saat ke luar dari ruangan Alfian membuat Tya heran, namun sesaat kemudian ekspresinya berubah bahagia.


"Cih, dasar tidak tahu malu", ucap Tya yang senang jika Siska dipermalukan oleh sang atasan.


"Siapa yang tidak tahu malu?" tanya Winda seakan menangkap basah Tya.


"Ehm, bukan siapa-siapa bu", balas Tya tersipu malu.


"Bohong", seru Winda yang membuat Tya kaget. "Pasti orang itu Siska, kan?" tanya Winda dengan menaik turunkan alisnya.


"Yuhu, bu", jawab Tya dengan menggerakkan tangannya. Winda pun langsung membalasnya. Lalu mereka tertawa bersama-sama.


"Oh iya, pak Alfian ada?" tanya Winda masih dengan sisa tawanya.


"Ada sih bu. Tapi kayaknya bapak lagi banyak masalah", sahut Tya.


"Oh gitu ya. Tapi saya coba masuk dulu", ucap Winda sambil melangkah menuju pintu ruangan Alfian.


Ceklek.


Baru saja wajah Winda muncul dari balik pintu. Alfian memintanya ke luar dengan menggunakan isyarat tangan. Winda pun langsung mundur.


"Gimana buk?" tanya Tya penasaran.


"Kayaknya Alfian sangat sibuk, dan sepertinya tadi dia sedang menerima telepon penting", sahut Winda yang di balas dengan anggukan oleh Tya.


"Kalau begitu saya balik ke ruangan, dulu. Jika pak Alfian sedang tidak sibuk telepon saya, ya", pinta Winda.


"Baik, bu", sahut Tya.

__ADS_1


Lalu Winda berjalan meninggalkan Tya.


__ADS_2