Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Siapa yang bertamu


__ADS_3

Keesokan harinya keluarga Ayunda masih sibuk dengan rutinitas yang biasa mereka lakukan.


"Bunda, hari ini ayah tidak ikut ke restoran", kata sang ayah seraya mendorong kursi rodanya mendekati meja makan.


"Iya, tidak apa-apa Ayah. Nanti bunda pergi dengan Papa Azzam saja", jawab sang bunda saat tangannya sibuk mempersiapkan sarapan pagi.


"Papa Azzam mau menemani bunda sampai sore?"


"Tidak Ayah! Adrian hanya mengantar bunda, setelah itu Adrian pulang", sahut Adrian setelah meneguk segelas air putih hangat.


"Owh, seperti itu. Kalau begitu bunda jangan lama di sana."


"Ayah jangan khawatir. Di sana bunda tidak sendirian, ada beberapa orang karyawan yang menemani bunda."


Sang ayah terdiam sesaat mendengarkan ucapan sang istri. "Oke, kalau begitu. Tapi bunda harus tetap waspada ya."


"Kalau Ayah ragu, biar Adrian menemani bunda sampai selesai", kata Adrian dengan wajah serius.


"Jangan, nak. Kamu lebih dibutuhkan di sini", tukas sang bunda.


Tok. Tok.


"Siapa yang bertamu sepagi ini?" tanya sang ayah.


"Biar Adrian yang lihat", katanya sembari berjalan menuju ruang tamu.


...---...


"Mama!" teriak Winda saat baru saja membuka pintu. Lalu dia memeluk sang ibu, meskipun sedang menggendong Azzam.


"Sudah cukup, nak. Kasihan cucu mama, nanti dia menangis", imbuhnya dengan mendorong tubuh Winda.


Tiba-tiba Adrian datang menghampiri Winda dan sang Ibu mertua. "Mama kapan datang? Kenapa tidak memberitahu kami lebih dulu, biar Adrian jemput."


"Mama mau memberi kalian kejutan", ujar Ibu Winda dengan tersenyum.


"Mama berhasil membuat kami terkejut," sahut Winda dengan rasa haru. Sudah 1 tahun lamanya Winda tidak bertemu dengan Ibunya itu. Dia berencana meminta sang Ibu tidak lagi balik ke Paris.


"Ayo, mssuk, ma", ajak Winda.


Ibunya Winda melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. "Di mana ayah dan ibu mertuamu, nak?"


"Mereka ada di rusng makan, ma. Ayo, kita ke sana", ujarnya seraya menuntun sang ibu menuju ruang makan.


"Halo, besan", sapa ibunya Winda dengan ramah. Lalu dia memberi salam.


"Owh, hai besan. Kapan besan datang?" tanya sang bunda dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Tadi subuh. Setelah sampai di bandara saya istirahat sebentar, lalu datang kemari."


"Kalau begitu besan pasti lapar telah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Ayo, kita sarapan", ajak sang bunda seraya meletakkan piring kosong dihadapan Ibu Winda.


"Terimakasih besan", sahut Ibu Winda saat bokongnya menempel sempurna di kursi.


Ibu Winda mengulurkan tangannya meraih semangkok nasi goreng di atas meja. Lalu dia mengisi piring kosongnya.


"Jangan sungkan besan. Nasi gorengnya masih banyak", kata sang bunda.


"Iya, besan. Makanku memang tidak banyak", balas Ibu Winda saat baru saja memasukkan beberapa suap nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Kalau begitu habiskan saja dengan perlahan."


"Baiklah besan", sahut Ibu Winda


"Setelah ini apa ibu akan tetap tinggal di kota ini?" tanya sang bunda.


"Saya sangat ingin tinggal di kota ini, tapi saya masih punya urusan yang harus saya selesaikan di sana. Setelah masalah itu selesai, mungkin saya akan balik ke kota ini."


"Winda sangat senang mendengarnya, ma. Jika mama perlu bantuan kami, jangan sungkan untuk mengatakannya", kata Winda dengan penuh perhatian sembari menyuapi Azzam di kursi makan khusus anak.


"Mama tidak akan sungkan", jawabnya seraya tersenyum. Namun tiba-tiba dia terperangah saat melihat Ayunda yang datang menghampiri mereka. "Kamu kenapa, nak?"


"Kejadiannya sedikit rumit, besan. Nanti biar mama Azzam saja yang ceritakan", ujar sang bunda.


Ibunya Winda hanya bisa manggut-manggut mendengar perkataan besan dan putrinya itu. "Baiklah", jawabnya.


"Saya dan papa Azzam mau berangkat ke restoran. Saya tinggal sebentar ya, besan."


"Oke, silakan besan. Jangan sampai kehadiran saya menghambat pekerjaan kalian."


"Terimakasih buat pengertiannya besan. Saya akan pulang cepat hari ini."


Sang bunda dan Adrian langsung berpamitan pada semuanya. Lalu mereka melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju ke luar rumah.


...---...


Di restoran bundo.


Tampak seluruh karyawan restoran bundo sedang sibuk mempersiapkan semua menu hidangan yang menjadi andalan mereka.


"Maaf bu, kami belum buka!" kata salah seorang karyawan pada seorang ibu paruh baya yang tiba-tiba menyelonong masuk.


"Owh, belum buka ya. Tapi saya sudah lapar sekali. Bagaimana ini?"


"Apa Ibu masih kuat menunggu kira-kira setengah jam lagi?"

__ADS_1


"Jangankan setengah jam, setengah menit pun saya tidak akan kuat lagi", ujarnya dengan penuh kekesalan.


"Bagaimana kalau Ibu coba makan roti sebagai pengganjal perut sambil menunggu hidangan dari restoran kami selesai di masak", ujarnya dengan sopan.


Namun Ibu itu melihat kedatangan bunda dan Adrian. "Saya ke toilet sebentar", katanya seraya beranjak dari posisinya, lalu dia berjalan menuju toilet meskipun karyawan itu belum menjawab.


"Kenapa bengong Idris?" tanya sang bunda yang melihat ekspresi aneh sang karyawan.


"Eh, maaf Bu. Tadi saya melihat seorang Ibu yang sikapnya sangat aneh."


"Mana orangnya?" tanya Adrian dengan sikap waspada.


"Ke toilet, pak", sahutnya.


Adrian bergegas berlari menuju toilet. Lalu dia mencari keberadaan sang ibu yang di ceritakan oleh karyawannya dengan mengecek toilet satu per satu.


Semua toilet kosong. Apa dia sudah kabur, kata Adrian di dalam benaknya.


"Bagaimana, nak?" tanya sang bunda yang ikut menyusul Adrian.


"Tidak ada siapa-siapa, bun. Mungkin dia kabur setelah melihat kita datang."


"Maaf kalau saya lancang bertanya, Pak. Apa Pak Adrian mengenal Ibu itu?"


"Bisa kau katakan ciri-cirinya?"


"Ibu itu tampak seumuran dengan Bunda. Rambutnya ikal dan postur tubuhnya tidak gemuk dan juga tidak kurus."


"Itu pasti Bi Arsih, Bun!" tebak Adrian.


"Jika itu Bi Arsih, berarti dia sudah mengincar kita sampai kemari. Sepertinya dia benar-benar akan membalas dendam", ujar sang bunda dengan raut wajah cemas. "Beritahu orang di rumah, agar mereka waspada kalau ada tamu yang datang ke rumah kita", titah sang bunda.


"Baik, Bun", balas Adrian. Lalu dia meraih ponsel dari dalam saku celana, untuk menghubungi sang istri. Namun sang istri tak kunjung mengangkat telepon, meskipun Adrian sudah mengulanginya beberapa kali. "Kemana mama Azzam ini?" tanyanya dengan berdecak kesal.


"Sabar, nak. Mungkin ponselnya tertinggal di dalam kamar. Coba kamu hubungi Ayunda atau ayahmu saja."


Adrian pun menuruti perkataan sang bunda. Dia langsung menghubungi kontak Ayunda, namun yang menjawab operator. Adrian mulai resah. Dia mencoba kembali, namun ke nonor sang ayah.


Tut. Tut.


Panggilan terhubung. Karena panik Adrian mengabaikan salam yang diucapkan sang ayah.


"Apa di sana semua baik-baik saja, Ayah?" tanya Adrian dengan tidak sabar.


"Di sini baik-baik saja, nak. Ayah tutup teleponnya dulu, ada tamu datang", sahut sang Ayah dengan buru-buru memutus sambungan telepon.


Adrian kembali menghubungi sang ayah, namun panggilan telepon darinya tidak diangkat. Siapa yang bertamu ke rumah? Tanya Adrian di dalam benaknya.

__ADS_1


__ADS_2