
Malam berganti pagi dengan begitu cepat. Pagi ini Ayunda sedang bersiap untuk pergi ke kantor setelah berpamitan pada seluruh anggota keluarga dan tak lupa dia mencium gemas pipi gembul Azzam.
Baru saja Ayunda melangkah keluar rumah, dia dibuat kaget oleh seseorang yang sedang berdiri tepat di depan pintu rumahnya. Sorot mata tajamnya penuh dengan kebencian.
"Ada perlu apa kau datang sepagi ini?"
"Cih, dasar perempuan tak tahu diri. Sudah diberi perhatian, di sayang bahkan lebih diutamakan dari siapapun, tapi ini balasanmu, hah!" teriak Sherly dengan penuh emosi. Air matanya pun jatuh dengan bebas membasahi pipinya.
Tiba-tiba keluarga Ayunda datang menghampiri mereka, karena mendengar suara teriakan Sherly.
"Ada apa, nak?"
"Yunda juga tidak tahu, bun. Tiba-tiba saja Sherly datang dan langsung marah-marsh."
"Apa kau tahu? Akibat ulahmu saat ini Dafa sedang kritis di rumah sakit", ujarnya dengan terisak.
Ayunda tersentak kaget kala mendengar ucapan Sherly. "Berarti sepulang dari sini, dia... " Ayunda menutup mulutnya yang menganga, tubuhnya pun merosot saat kakinya tak sanggup lagi menumpunya. "Dafa maafkan aku", ucapnya penuh penyesalan dengan meneteskan air mata.
"Dafa tidak butuh air matamu!" Sherly beranjak dari posisinya berdiri, lalu berjalan meninggalkan seluruh keluarga Ayunda tanpa berpamitan.
"Dimana dia dirawat?" teriak Ayunda yang membuat Sherly menghentikan langkahnya. Namun sesaat kemudian dia melanjutkan langkahnya tanpa mengucapkan sepata kata.
"Kakak akan mencari beritanya. Barangkali ada yang menyiarkan", ujar Adrian yang turut syok mendengar kabar yang disampaikan Sherly.
"Kakak juga akan memcari tahu dari Reina." Winda berjalan masuk untuk mencari ponsel miliknya.
Sang ayah dan bunda hanya bisa menghibur Ayunda. "Kamu yang sabar ya, nak. Ini semua ujian dari Allah", ujar sang ayah lirih.
Ayunda menganggukkan kepalanya. "Ya, ayah. Insya Allah Yunda bisa melewati ujian ini."
"Apa Yunda tetap ngantor hari ini?" tanya sang ayah.
"Gak ayah. Yunda mau pergi jenguk Dafa."
"Kalau begitu ayah dan bunda kamu ikut. Sekarang kami mau siap-siap dulu."
"Ya, ayah", sahut Ayunda. Lalu dia meraih ponsel miliknya dari dalam tas dan menghubungi kantornya untuk meminta izin tidak masuk kerja hari ini.
Keluarga Ayunda tampak kelabakan saat akan mencari informasi tempat rumah sakit di mana Dafa di rawat.
"Sudah dapat infonya kakak ipar?" tanya Ayunda saat Winda baru saja memutus sambungan telepon.
"Sudah, Yunda. Ayo, kita ke sana sekarang!"
__ADS_1
Seluruh keluarga Ayunda buru-buru masuk ke dalam mobil, kecuali Winda. Karena mereka tidak ingin membawa Azzam yang masih kecil itu ke rumah sakit.
Abian baru saja memarkirkan kendaraannya di halaman parkir kantor Ayunda. Dia keluar dari dalam mobil dengan menenteng 2 kotak makanan ditangannya.
"Untuk pertama kali dalam.hidupku, aku membawa makanan seperti ini hanya demi seorang wanita", ucap Abian bergumam. Dia berjalan dengan gagahnya memasuki kantor Ayunda.
"Pagi pak Abian", sapa sang resepsionis dengan ramah.
"Pagi. Bu Yundanya ada?"
"Dari tadi saya gak melihat bu Yunda masuk, pak. Tapi tunggu sebentar pak, saya tanyakan pada sekretarisnya dulu." Sang resepsionis langsung menekan nomor extension sekretaris Ayunda.
"Pagi, mba. Bu Yundanya ada?" tanya sang resepsionis dengan ramah. Lalu dia mendengar jawaban dari ujung telepon.
"Oke terimakasih mba", balasnya lalu menutup telepon.
"Pak Abian. Hari ini bu Yunda gak masuk kerja."
"Owh, kenapa? Apa dia sakit?"
Sang resepsionis tersenyum melihat kepanikan Abian. "Bukan pak. Bu Yunda ada urusan mendadak."
Abian terdiam sesaat sembari memikirkan kotak makanan ditangannya. "Kalau begitu ini buat kamu saja." Abian memberikan satu kotak makanan menyisakan satu lagi ditangannya.
Abian hanya membalasnya dengan tersenyum. Lalu dia berpamitan pada sang resepsionis. Dan melangkahkan kakinya berjalan ke luar kantor.
Setelah kepergian Abian dari kantor Ayunda. Seseorang juga datang mencarinya.
"Permisi, mba."
"Ya, ada yang bisa saya bantu pak?" tanya sang resepsionis.dengan ramah.
"Saya mau ketemu Yunda."
"Apa bapak sudah buat janji sebelumnya?" tanya sang resepsionis sembari meletakkan pulpen di atas meja.
"Belum!"
"Kalau begitu bapak harus buat janji dulu."
__ADS_1
"Oke, kedepannya saya akan buat janji terlebih dahulu."
"Maaf dengan bapak siapa?"
"Saya Alfian. Tolong sampaikan pesan saya ini pada Yunda, ya", ujar Alfian sembari menyerahkan sebuah amlop.
"Baik, pak.
Alfian pun berpamitan keluar dari gedung.
"Bu Yunda keren, masih pagi tapi sudah digandrungi 2 orang pria tampan sekaligus", ucap sang resepsionis dengan tersenyum sembari menatap kepergian Alfian.
Ayunda datang bersama keluarganya ke rumah sakit Medika. Mereka langsung menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan Dafa. Setelah mendapat informasi keberadaan Dafa, mereka langsung berjalan menuju lift dan naik ke lantai 3.
Di lantai 3 mereka di hadang oleh penjaga. "Pagi bapak dan ibu. Mau ke kamar berapa?"
Ayunda pun langaung menyahut penjaga itu. "Ke kamar 305 pak, korban kecelakaan kemaren malam."
"Maaf pak, bu. Pasien sedang kritis, jadi hanya boleh di jenguk 1 orang saja."
"Ya, sudah. Yunda saja yang pergi. Kami menunggu di sini", ujar Adrian.
"Oke, kak", sahut Ayunda. "Ayah dan bunda tunggu di sini sebentar bareng kak Adrian, ya. Yunda masuk dulu." ucapnya kemudian. Lalu dia berjalan menuju ruangan tempat Dafa di rawat.
Tak. Tak.
Suara tumit sepatu Ayunda memenuhi lorong sunyi itu. Dia lupa mengganti sepatunya karena kepanikannya.
Krek.
Ayunda membuka pintu perlahan, namun masih menimbulkan suara. Lalu dia melepas sepatu heelsnya dan mengenakan pakaian steril yang disediakan rumah sakit. Dia berjalan menghampiri sisi ranjang tempat Dafa berbaring. Wajah lebam dan beberapa selang yang terpasang di tubuh Dafa membuat hati Ayunda terenyuh.
"Dafa.. Aku minta maaf, jika penolakanku telah membuatmu mengalami hal ini. Aku orang yang egois. Aku bahkan tidak memberimu kesempatan untuk menjadi kekasihku walau kau sudah memohon berkali-kali. Please, bangunlah! Aku janji akan mencoba menjadi kekasihmu, jika kau bangun saat ini." Ayunda menangis tersedu-sedu sembari memegang tangan Dafa.
"Tapi kami tidak akan mengijinkan itu terjadi. Kau pembawa petaka bagi anak kami. Jadi jangan pernah dekat-dekat dengan anak kami. Pergi dari sini! Kami tidak butuh air matamu!" usir mamanya Dafa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Yunda minta maaf bu. Yunda tidak ber..."
"Pergi!" usirnya kembali yang tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari Ayunda.
Terpaksa Ayunda keluar dari ruangan itu. Dia tak ingin ada keributan di sana yang membuat Dafa terganggu.
__ADS_1
"Yunda pamit pulang, bu", ucap Ayunda dengan sopan, namun mamanya Dafa tidak menggubris sama sekali.
Ayunda berjalan keluar dari ruangan Dafa setelah membuka pakaian sterilnya. Dia terus melangkah menjauhi ruangan itu dengan raut wajah sendu.