Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Ferdo dan Ayunda saling suka


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Setelah Adrian masuk ke dalam kamarnya, sang bunda berjalan ke luar dari arah dapur dengan wajah sendu, karena dengan tidak sengaja mendengar perbincangan Adrian di telepon dengan seseorang.


"Bunda", panggil Ayunda dengan tersenyum saat melihat sang bunda berjalan menghampirinya. Lalu Ayunda memeluk erat sang bunda yang sudah berada di sampingnya.


Kemudian Ayunda melepas pelukannya dan menatap wajah sendu sang bunda dengan mengernyitkan keningnya. "Bunda kenapa?" tanya Ayunda yang mulai khawatir.


Sang bunda berusaha menghindar dengan memaksakan senyumannya, tak ingin Ayunda curiga. padanya "Emangnya bunda kenapa?" Sang bunda berusaha mengalihkan perhatian Ayunda dengan mencubit gemas hidung Ayunda.


"Ah... sakit Bun", teriaknya sambil memegang hidungnya.


"Kakakmu ke mana, Nak?" tanya sang bunda dengan berpura-pura mencari Adrian ke sekeliling.


"Lagi mandi, Bun", sahut Ayunda yang masih mengelus hidungnya.


"Oh... " sahut sang bunda singkat. Lalu sang bunda kembali diam. Dia masih terus memikirkan ucapan Adrian di telepon. Ayunda mulai curiga saat melihat sikap sang bunda yang tidak seperti biasanya.


Bunda pasti menyembunyikan sesuatu, tapi lebih baik aku tidak bertanya dulu, batin Ayunda.


Ayunda meraih ponselnya di atas meja, lalu membuka galery yang berisi sebuah video saat dia mengikuti lomba pembawa acara di kampusnya.


"Bunda coba lihat ini", ucap Ayunda untuk menarik perhatian sang bunda. "Yunda sudah seperti pembawa acara profesional, kan?" Ayunda mengedipkan matanya.


Sang bunda tersenyum sambil mengacak rambut Ayunda. "Ya, Kamu memang hebat, Nak", sahutnya.


"Bunda, rambut Yunda jangan di acak, dong. Entar imutnya hilang", tuturnya yang kembali membuat sang bunda tersenyum. "Nah, gitu dong Bun. Kalau Bunda tersenyum cantiknya semakin nyata", godanya pada sang bunda, yang membuatnya mendapat cubitan kembali.


"Ah, Bunda... " rengeknya dengan manja pada sang bunda.


"Wah, sepertinya di sini ada yang lagi seru", ujar Adrian sambil berjalan menghampiri Ayunda dan sang bunda.

__ADS_1


Sang bunda langsung menoleh ke arah Adrian. "Bunda... " ucapnya dengan memeluk erat sang bunda, saat Adrian duduk di samping sang bunda. "Memang hanya pelukan Bunda yang bisa membuat semua beban dalam pikiranku jadi ringan", ucapnya kemudian dengan tersenyum, lalu melepaskan pelukannya.


Sang bunda membalasnya dengan tersenyum, namun sesuatu yang ada dalam pikirannya masih terus menggangunya, dia ingin menanyakannya saat ini juga pada Adrian.


"Ada apa, Bun?" tanya Adrian yang melihat sang bunda menatapnya tidak seperti biasanya.


"Ah, bukan apa-apa", balas sang bunda sambil menggelengkan kepalanya. Dia menundanya menanyakan pada Adrian, karena keberadaan Ayunda di sana.


Apa bunda sudah mendengar ucapanku di telepon tadi? batin Adrian.


"Ayo, kita makan", ajak sang bunda memecah keheningan di antara mereka.


Ayunda langsung beranjak dari sofa. "Ayo, Bun", balas Ayunda dengan tersenyum.


"Untuk urusan makan Yunda memang jagonya ya, Bun. Tapi tidak untuk memasak", ledek Adrian sambil berlari menuju ruang makan.


"Kakak!" teriak Ayunda yang langsung mengejar Adrian. Sang bunda pun memandang dengan bahagia keakraban ke dua anaknya itu.


***


Ferdo melirik ponselnya yang terletak di atas meja, saat mendengar notifikasi pesan masuk. Baru saja dia melihat nama pengirim pesan di ponselnya, wajahnya langsung tersenyum sumringah. Dengan tidak sabar dia membuka isi pesan itu, hatinya semakin bahagia saat isi pesannya adalah foto tulisan tangannya yang selalu menuliskan nama dengan inisial A.


"Hah, akhirnya Kau tahu juga siapa yang sudah mengirimkanmu kotak makanan selama magang", ucapnya masih dengan tersenyum. Lalu Ferdo mengetik balasan pesan itu dengan kata-kata manis. Tak menunggu waktu yang lama si pengirim pesan yang tak lain adalah Ayunda sendiri, membalas kembali balasan pesan dari Ferdo.


Ferdo seperti seorang anak remaja yang baru saja mengenal cinta, dia melompat kegirangan saat membaca balasan pesan dari Ayunda, yang mengatakan bahwa dia menerima ajakan Ferdo untuk bertemu dengannya sesuai dengan tempat yang sudah di tentukan oleh Ferdo.


Ayunda mulai membuka hati untuk Ferdo meskipun dia tahu saat ini Ferdo sudah bertunangan. Sejak sang kakak memberitahunya sebuah kebenaran. Kebenaran yang telah membuat Ayunda merasa tak tega, jika Ferdo bersama wanita yang jahat seperti Siska. Siska yang sudah bertunangan dengan Ferdo, namun tetap menjalin hubungan dengan pria lain. Adrian juga memberikannnya beberapa rekaman, yang menunjukkan betapa teganya Siska. Dia telah membuat rencana jahat bersama papanya untuk mencelakai Ferdo saat mereka pulang kampung beberapa hari yang lalu. Hal itu yang menjadi alasan Ayunda membuatnya mau untuk memulai hubungan dengan Ferdo.


Saat ini Ferdo sedang menatap dengan bahagia ponsel di tangannya. Ingin rasanya dia melakukan panggilan video call, namun dia urungkan niatnya, karena dia belumlah seakrab itu dengan Ayunda.


"Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu", ucap Ferdo masih dengan tersenyum.


Ting... tong.

__ADS_1


Bel apartement Ferdo berbunyi. "Kurasa itu Ayunda", ucapnya yang berlari dengan buru-buru untuk membukakan pintu, karena mengira bahwa Ayunda telah datang ke apartementnya untuk memberinya kejutan malam ini. Namun betapa terkejutnya Ferdo saat melihat wanita yang datang bertamu ke apartementnya adalah Winda dan seorang wanita yang sangat ingin dihindarinya.


"Maaf, aku sedang sibuk. Kalian bisa datang lain kali, saja", ucapnya tanpa berbasa basi, lalu menutup pintu.


Ting... tong.


Bel kembali berbunyi, namun Ferdo hanya memberi pesan melalui interkom, agar mereka datang di lain waktu saja. Siska yang kesal dengan penolakan Ferdo langsung membalas dengan ancaman. Dia mengatakan akan menghubungi sang kakek untuk mempercepat pernikahan mereka.


"Cih, bisanya hanya mengancam." Ferdo bergumam.


Ferdo yang merasa muak dengan ancaman Siska, kembali membalas melalui interkom, "silahkan!" teriaknya yang membuat Siska melongo, karena kehabisan kata-kata. Dia tidak punya cara lain untuk mengancam Ferdo, selain menghubungi sang kakek.


"Baiklah!" balas Siska yang langsung menghubungi sang kakek. Namun sepertinya niatnya tidak bisa terlaksana, karena sang kakek tidak bisa dihubungi.


"Aarrgghhh... !" teriak Siska frustasi.


Winda langsung mengajak sang sepupu kembali ke apartementnya, agar tidak menjadi amukan para penghuni apartement lain.


***


Ayunda yang sedari tadi tersenyum sambil berdiri di atas balkon, menengadah ke langit yang bertaburan bintang. Indahnya malam seakan menemani hatinya yang sedang bersemi. Bahkan dia tak menyadari kedatangan sang kakak.


Adrian pun berjalan menghampiri Ayunda. "Apa langit sudah berubah atau - " ucap Adrian saat berdiri di samping Ayunda yang ikut menengadah ke langit.


"Kakak!" Ayunda berjingkat sambil menoleh ke arah Adrian. "Kenapa Kakak datang dengan diam-diam?" ucap Ayunda sambil megelus dadanya.


"Mikirin apa sih?" Adrian berbalik menoleh ke arah Ayunda. "Kakak datang aja kamu gak tahu", ucapnya dengan menowel hidung Ayunda.


Ayunda langsung mengalihkan pandangannya ke atas. "Bukan apa-apa", sahutnya dengan tersenyum malu.


Adrian yang sudah mengetahui perasaan sang adik, ikut tersenyum sambil memandang langit. Dia tak ingin terus-terusan menggoda sang adik.


"Semoga tidak ada yang menghalangi cinta kalian", ucap Adrian dengan merangkul Ayunda.

__ADS_1


__ADS_2