
Reina menghela nafas lega, saat interogasi yang dilakukan Alfian padanya berjalan lancar.
Hari ini Alfian buru-buru masuk kantor, hingga tak ada yang mengetahui kedatangannya kecuali Tony. Karena sesaat setelah tiba di bandara Alfian langsung menghubungi Tony untuk mempersiapkan beberapa dokumen.
Reina kembali melanjutkan pekerjaannya. Berkas yang kembali menumpuk di atas meja kerjanya harus segera dia selesaikan, agar Alfian tidak menganggapnya seorang yang tidak profesional.
Hampir 3 jam lamanya Reina berkutat dengan laptop dihadapannya. Bahkan Alfian bosnya belum terlihat sama sekali ke luar dari ruangannya.
Reina merenggangkan jari-jemarinya yang mulai kaku. Lalu melirik pada ponsel yang ada di samping laptop. "Apa! Sudah jam setengah satu", gumamnya saat melihat jam digital pada ponselnya. Lalu dia merapikan semua berkas yang masih berserakan.
Ceklek.
Pintu ruangan Alfian di buka.
"Reina, tolong pesankan saya makanan dari restoran bundo. Pesan makanan yang menurutmu enak di sana", seru Alfian sambil memegang handle pintu.
"Oh, baik pak", sahut Reina dengan sedikit bingung. Lalu sorot matanya beralih pada telepon kantor yang ada di atas mejanya. "Oo, pantes. Ternyata gagangnya menggantung. Untung pak Alfian gak marah." Reina menempatkan kembali gagang telepon pada posisi yang benar. Lalu meraih ponselnya untuk memesan makanan di restoran bundo. Baru saja Reina akan menekan tombol hijau di layar ponselnya, tiba-tiba nomor tidak di kenal menghubunginya.
"Siapa ini?" ucap Reina sambil menatap layar ponselnya.
Dengan sedikit ragu, namun dia tetap menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo, ini siapa?" tanya Reina saat sambungan telepon terhubung.
"Reina... Ini aku Yunda", sahut Ayunda dari seberang telepon.
"Yunda, kau di mana? Kenapa nomormu sangat asing?"
"Aku di London melanjutkan kuliahku."
"Apa? London! Jauh amat! Kenapa tidak di Indonesia saja." sahut Reina dengan berteriak hingga orang-orang disekitarnya dapat mendengar ucapan Reina.
"Telingaku tidak pekak, kenapa kau berteriak?" sahut Ayunda masih dari seberang telepon.
"Maaf", ucap Reina.
"Iya, aku cuma bercanda. Sebenarnya aku mendapatkan beasiswa sekaligus tempat magang disini."
"Wah, keren. Kau beruntung Yunda."
"Bukan... "
Tut... Tut...
"Halo... Yunda... Halo..."
Reina memeriksa sambungan teleponnya. "Lha, kok putus. Apa Yunda kehabisan pulsa, karena ini kan panggilan telepon ke luar negeri." ujarnya sambil meletakkan kembali ponsel ditangannya.
"Reina!" panggil Alfian tiba-tiba.
"Eh, iya pak", sahut Reina kelabakan.
"Apa kau sudah memesannya?"
Reina terdiam sesaat. "Oh, iya", ucapnya saat baru saja menyadari telah melupakan sesuatu. Lalu dia mencari komtak bunda Ayunda.
"Tidak perlu. Berikan ponselmu padaku", pinta Alfian yang membuat Reina merasa bersalah. Dengan ragu dia memberikan ponselnya pada Alfian.
__ADS_1
"Sekali lagi maaf, pak", ujarnya dengan penuh penyesalan. Kali ini aku tidak tertolong lagi, batin Reina.
Alfian membawa ponsel Reina ke dalam ruangannya.
***
Di kota London.
Ayunda berlari dengan kencang saat derap langkah dua orang pria terus mengikutinya dari belakang.
"Aww..." ringisnya saat dia terjatuh di atas aspal. Lalu dia mencoba untuk bangkit.
"Tidak!" teriak Ayunda saat tangan seseorang memegang pundaknya dari belakang.
"Hai, Yunda", panggil pria itu padanya.
Ayunda merasa suara pria itu tidak asing. Dengan cepat dia membalikkan badannya. "Dafa!" ucapnya tak percaya bahwa Dafa ada di sana, berdiri tepat dihadapannya.
"Kenapa kau seperti ketakutan?" tanya Dafa sambil mengernyitkan keningnya.
"Tadi seperti ada yang sedang mengikutiku", sahut Ayunda sambil mengatur nafasnya yang sedikit memburu.
"Sepertinya daerah sini aman. Tidak pernah terjadi pelecehan atau perampokan sebelumnya."
"Ya, menurut informasi yang aku dapat juga begitu. Tapi tadi mereka memang mengikutiku."
"Mereka?" tanya Dafa.
"Ya. Ada 2 orang pria memakai hoodie, pakai maaker dan menutup kepalanya."
"Mungkin itu orang yang kebetulan lewat."
Dafa pun manggut-manggut. "Oke, bagaimana kalau kita berangkat bareng setiap hari?"
"Ehm, ide yang bagus. Tapi ngomong-ngomong ada keperluan apa kau di sini?" tanya Ayunda yang menatap curiga Dafa.
"Lanjut kuliah", sahut Dafa dengan santai.
"Bukankah kau akan segera menikah dengan Sherly?"
"Batal", sahut Dafa. Lalu melangkahkan kakinya.
"Kenapa?" tanya Ayunda yang mulai penasaran sambil mensejajarkan langkahnya dengan Dafa.
"Ayo, kita bicara di sana saja", sahut Dafa sambil menunjuk pada sebuah cafe. Lalu mereka berjalan bersama menuju cafe. Tiba-tiba ponsel Ayunda berbunyi.
"Halo, Reina. Kau pasti tidak percaya. Aku bertemu Dafa di sini. Dia..."
Tut. Tut.
"Eh, kenapa terputus?" tanya Ayunda dengan bergumam.
"Siapa?" tanya Dafa saat melihat wajah bingung Ayunda.
"Ini telepon dari Reina. Tadi aku sempat berbicara dengannya di telepon, tapi terputus sewaktu dua orang pria itu mengikutiku."
"Oo..." balas Dafa singkat seakan tidak tertarik saat Ayunda menceritakan tentang Reina.
__ADS_1
***
Di tempat lain yakni di restoran bundo sedang ramai didatangi pengunjung, bahkan bunyi telepon orderan seakan tak berhenti berdering yang membuat ayah Adrian sedikit kewalahan.
"Ayah, biar Adrian yang gantikan", ujar Adrian yang sedari tadi duduk, karena belum mempunyai pekerjaan.
"Tidak perlu, nak. Kerjakan saja pekerjaanmu", balas sang ayah sambil merapikan catatannya.
"Iya, tapi..."
"Sudah, jangan membantah. Walaupun kau sedang punya masalah dengan pekerjaan, jangan jadi diam saja. Coba hubungi temanmu yang lain atau Winda barangkali", ujar sang ayah menasehati Adrian.
"Winda siap membantu, ayah", sahut Winda yang baru saja datang menghampiri mereka.
Adrian menoleh ke arah Winda dan menatapnya yang sedang tersenyum manis.
"Hai, apa kabar?" tanya Adrian sedikit kaku, namun Winda tidak langsung membalas ucapan Adrian.
"Ayah, boleh Winda culik Adrian sebentar?"
"Silakan, nak. Gak dikembalikan juga tidak apa-apa", guyon sang ayah yang membuat Winda tertawa.
Adrian hanya diam menatap keakraban Winda dan ayahnya. Mereka tidak seperti hubungan calon mertua dan calon menantu. Mereka layaknya ayah dan anak.
"Ayo", ajak Winda sambil menarik tangan Adrian. Lalu mereka duduk di tempat Adrian duduk semula.
"Sekarang katakan, menurutmu apa hubungan kita?" tanya Winda to the point.
Adrian menatap lekat wajah Winda, semakin dalam hingga Winda tersipu malu.
"Sudah tahu jawabannya?" tanya Adrian yang telah berhasil membuat pipi Winda merona.
Winda menetralkan debaran jantungnya yang mulai memacu. "Kau tidak mengatakan apa-apa", jawab Winda dengan sedikit grogi.
"Tapi pipimu memahaminya", goda Adrian sambil mencubit pipi Winda.
"Hentikan!" seru Winda yang tidak dapat menyembunyikan rasa malunya.
Sang ayah tersenyum bahagia saat melihat senyuman mereka. Namun ada sepasang mata yang menatap tidak suka dengan membaiknya hubungan mereka. Dia pun berlari ke luar restoran saat baru saja beberapa langkah masuk ke dalamnya
"Mau makan apa?" tanya Adrian dengan manis.
"Melihatmu saja aku kenyang", jawab Winda menirukan gaya pasangan-pasangan muda pada umumnya.
"Yakin?" tanya Adrian saat mendengar suara perut keroncong Winda.
Winda pun menatap Adrian dengan wajah cemberut. "Ih, gak asyik."
"Jangan sok manja, aku tahu itu bukan gayamu", sahut Adrian sambil tersenyum.
"Oke, aku ikut sama pilihanmu saja."
"Jangan di paksa kalau tidak suka. Setiap pasangan tidak harus punya selera yang sama."
"Tapi ini tidak terpaksa kok. Aku pengen nyoba aja makanan yang kamu biasa makan. Mencoba sesuatu yang baru kan tidak salah."
"Oke, tapi harus dihabiskan ya."
__ADS_1
"Siap sayang", sahut Winda yang membuat Adrian tersenyum padanya.
Manisnya senyum calon suamiku, batin Winda.