Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Ayunda sedang badmood


__ADS_3

Tony baru saja selesai membantu membawa koper Siera ke dalam sebuah apartemen yang hanya memiliki 1 kamar itu. Ponselnya tiba-tiba berbunyi.


"Bu Winda", ucapnya bergumam saat melihat nama.yang muncul di layar ponselnya.


"Assamualaikum bu Winda. Ada yang bisa saya bantu, bu?" ucap Tony dengan ramah, saat sudah menggeser tombol hijau diponselnya.


"Waalaikumsalam, Tony. Iya, aku memang sedang butuh bantuanmu", sahut suara Winda dari ujung telepon.


"Ibu butuh bantuan seperti apa?"


"Saya mau kamu selidiki kejadian kecelakaan tadi malam pukul 10, yang terjadi di jalan pahlawan. Cek apakah ada CCTV di sana atau para saksi yang melihat. Karena kejadian itu dikaitkan dengan adik iparku Yunda."


Mendengar nama Ayunda disebut Tony sedikit tertarik. "Apa hubungannya dengan Yunda, bu?"


"Mereka mengatakan bahwa Yunda yang telah mendorong Dafa, hingga dia tertabrak mobil. Memang kami melihat Dafa datang ke rumah ini kemaren malam. Tapi pukul 8 malam dia sudah pergi dari tempat ini. Jika kejadiannya pukul 10 malam itu artinya dia berhenti lama di tempat kejadian itu."


Tony paham maksud ucapan Winda. "Oke, akan saya selidiki kejadian sebenarnya bu."


"Terimakasih sebelumnya." Suara Winda masih dari ujung telepon.


"Sama-sama, bu. Ini saya langsung berangkat ke tempat kejadian."


"Oke, saya tunggu kabar baiknya ya."


"Oke, bu."


Lalu mereka saling mengakhiri sambungan telepon.


 


Tony sudah berada di lokasi kejadian. Dia melihat ke arah sekeliling tenpat itu. Dia pun tersenyum saat melihat 1 buah kamera CCTV ada di dekat sudut persimpangan jalan itu. Dengan cepat dia menelpon seseorang untuk menanyakan posisi DVR kamera yang ada di jalan itu.


Setelah mendapatkan informasinya, dia pun bergegas menuju tempat yang baru saja disebutkan oleh orang tersebut.


Tak butuh waktu yang lama Tony sampai di lokasi yang dimaksud. Dia bergegas menanyakan DVR CCTV itu, namun mereka tidak mau menunjukkan hasil rekaman CCTV padanya, dengan alasan sudah ditangani oleh pihak yang berwajib. Dia pun tidak mau menyerah begitu saja. Berbekal koneksi sang ayah, dia menghubungi seseorang. Dan benar saja seolah keberuntungan berpihak padanya, orang tersebut dapat membantunya.


 


Di kantor Alfian sedang duduk berpangku tangan sembari memikirkan masa depannya. Sudah satu setengah tahun sejak kepergian Siska, dia tak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun, meskipun sang kakek sudah menyodorkan beberapa orang wanita cantik dan pintar yang persis seperti Ayunda. Semua wanita itu langsung di tolak oleh Alfian sebelum mereka bertemu.


Hari ini sebenarnya Alfian ingin bertemu dengan Ayunda untuk menyatakan isi hatinya dan menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi, namun Ayunda tidak masuk kerja.


Tok. Tok.

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Alfian. "Masuk!" ucapnya dengan tegas.


"Permisi pak", ucap Reina sembari menghampiri Alfian. "Rekanan kerjasama yang dari Singapura sudah tiba di bandara dan sekarang mereka dalam perjalanan kemari."


"Oke. Kau bisa menanganinya kan?"


"Bisa pak. Saya kan sudah kursus 5 bahasa pak." Reina tersenyum dengan percaya diri.


"Bagus. Apa ada lagi yang ingin kamu sampaikan?"


"Tidak ada pak. Kalau begitu saya undur diri dulu, pak."


"Oke", sahut Alfian singkat. Lalu dia menyiapkan berkas untuk dipresentasikan.


 


Setelah menyelesaikan pekerjaan yang sangat padat hari ini. Alfian pun bergegas untuk pulang ke apartemennya. Rasa rindunya pada Zahra membuatnya tidak ingin berlama-lama di kantor.


"Reina, kamu belum pulang?"


"Sebentar lagi pak. Ini sedikit lagi selesai."


"Oke, jangan terlalu larut pulangnya. Entar Tony dapat perhatian dari yang lain, kamu nangis lagi."


"Jangan sedih gitu dong, saya cuma bercanda kok."


"Bukan pak. Mungkin saya sedikit lelah saja, makanya terlihat seperti sedang sedih."


"Kalau gitu saya duluan ya."


"Baik pak", sahut Reina dengan ramah.


 


Langit malam ini tampak indah. Banyak bintang yang bertaburan menghiasi langit gelap itu.


"Wah, cantik pa", ucap bibir mungil Zahra saat mereka berdiri di atas balkon kamarnya.


"Iya, sayang. Biasanya kalau papa rindu sama kakek dan nenek Ara, papa selalu melihat bintang yang jauh di sana", ujar Alfian menunjuk dengan jarinya.


Zahra tersenyum mendengar ucapan Alfian. "Kalau gitu kakek dan nenek jumpa mama dong, pa."


Alfian tampak berfikir sejenak. "Hem, bisa jadi. Tapi mama kayaknya pengen jumpa sama Ara deh."

__ADS_1


"Iya, pa?" Zahra mulai antusias.


"Iya dong sayang. Makanya Ara harus bobok, biar bisa jumpa sama mama dalam mimpi."


"Oke, pa", sahut Zahra dengan riang. Lalu Alfian membawanya masuk ke dalam kamar.


 


Pagi ini begitu cerah, memberi semangat yang baru dan melupakan kesusahan di hari yang telah berlalu.


Abian dan Alfian bertemu di kantor Ayunda saat masih pagi sekali.


"Ada keperluan apa pak Alfian datang ke tempat ini?" tanya Abian penuh selidik.


Alfian sadar jika Abian adalah pacar Ayunda. Dia pun tidak bisa banyak mengatakan keperluannya datang ke tempat itu. "Aku cuma mau bertanya hal yang penting padanya", ujarnya.


"Bukankah bisa melalui telepon?" ucap Abian seakan menunjukkan sikap posesif pada sang pacar.


"Masalah ini gak bisa melalui telepon. Aku harus bertemu langsung dengannya", sahut Alfian dengan wajah serius.


Di sela perdebatan mereka, Ayunda tiba-tiba datang menghampiri keduanya. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Ayunda yang baru saja menaiki anak tangga menuju lantai 2 itu.


"Oh, bukan apa-apa. Kami hanya.."


"Katanya pak Alfian ingin mengatakan sesuatu pada bu Ayunda secara langsung", ujar Abian memotong ucapan Alfian.


Ayunda melirik Alfian, yang membuat Alfian termangu. Tatapan sendu Ayunda membuatnya merasa bersalah, karena selama ini dia tidak pernah menjelaskan pada Ayunda, apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Siska, bahkan hubungannya dengan Zahra pun tidak pernah dia beritahukan. Hari ini dia ingin menjelaskan semuanya meski sudah terlambat.


"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Alfian memecah kebisuan di antara mereka.


Ayunda masih terdiam, karena sebenarnya dia ingin menenangkan diri sejenak setelah masalah yang terjadi dengan Dafa. "Apa kita bisa bicara di lain waktu?" Pertanyaan Ayunda itu membuat Alfian sedih. Dia mengira Ayunda sudah tidak mau lagi bicara padanya.


"Oke, kita bicara lain waktu saja. Apa aku bisa meminta nomor ponselmu?"


Ayunda langsung memberikan kartu namanya pada Alfian. "Di sini ada nomor ponselku", ujar Ayunda dengan memaksakan senyumannya, agar Alfian tidak merasa sedih.


"Oke, kalau begitu aku pamit", ucapnya setelah menyimpan kartu nama pemberian Ayunda. Lalu dia melangkahkan kakinya menjauhi Ayunda dan Abian.


"Apa kalian punya hubungan spesial sebelumnya?" tanya Abian yang sedari tadi penasaran.


"Apa saya harus menjawabnya pak? Karena seingat saya itu tidak ada di dalam MoU."


Abian tak ingin menjawab pertanyaan Ayunda, dia sepertinya tahu Ayunda sedang dalam keadaan badmood.

__ADS_1


__ADS_2