
Setelah Ayunda menyudahi perbincangannya di telepon bersama dengan Abian. Dia bergegas menghubungi sang kekasih. Dengan tersenyum dia menempelkan ponsel ditelinganya sembari menunggu Alfian menangangkat telepon darinya.
Ayunda berdecak kesal saat panggilan telepon darinya tidak di angkat Alfian. "Apa dia marah, karena aku baru merespon pesan darinya?" tanya Ayunda bermonolog.
Kemudian Ayunda mencoba menghubunginya sekali lagi. Namun hasilnya masih tetap sama. Ayunda merasa yakin kalau Alfian sedang marah padanya. Dia pun berinisiatif mengirimkan pesan pada Alfian.
Lima belas menit berlalu, namun Alfian tidak juga membaca, apalagi membalas pesan darinya. "Apa my honey benar-benar marah?" tanya Ayunda dengan rasa khawatir.
Ayunda mencoba menghitung waktu mulai dari Alfian mengirim pesan hingga jam saat ini. "Sudah 2 jam setelah dia mengirimkan pesan, harusnya my honey sudah di rumah", gumamnya.
Sesaat kemudian Ayunda kembali menghubungi Alfian. "Barangkali ponselnya dia silent", gumam Ayunda seraya menunggu Alfian mengangkat telepon darinya. "Tidak di angkat juga", ujarnya berdecak kesal. Namun Ayunda tidak putus asa, dia terus mencoba menghubungi Alfian hingga telinganya kapalan.
"Kemana perginya my honey?" tanya Ayunda frustasi. Ponsel ditangannya dia letakkan dengan sembarang, lalu dia meringkuh di atas tempat tidur.
Drrt. Drrt.
Ponsel Ayunda bergetar. Dia pun bergegas untuk melihat nama kontak yang muncul di layar ponsel miliknya. "Dafa", gumamnya. Ayunda menggeser tombol hijau diponselnya, karena rasa penasaran.
"Assalamualaikum Dafa", ucap Ayunda dengan ramah.
"Waalaikumsalam. Mungkin aku belum ingat sepenuhnya, tapi aku senang karena kau masih menyimpan kontakku."
Ayunda terhenyak mendengarnya. Dia sadar sikap dan keakrabannya selama di LN telah membuat Dafa salah paham. "Dafa apa kabar?"
"Aku baik", sahutnya dengan nada suara bergetar. "Aku dengar kau akan menikah besok."
"Syukurlah kalau keadaan Dafa baik", balas Ayunda seraya menghela nafas. "Besok hari pernikahanku. Maaf undangannya aku titip ke ART, karena saat itu katanya Dafa sedang check up."
"Tidak apa-apa. Yang penting kau memberiku undangan."
"Apa kau akan datang?" tanya Ayunda ragu.
"Pasti datang. Aku dan Mama sudah sepakat untuk datang kepernikahanmu", sahut Dafa dengan suara bergetar.
"Terimakasih, karena kau dan Tante mau datang. Aku tunggu kedatangannya."
__ADS_1
"Oke, sampai jumpa besok. Assalamualaikum", ucap Dafa yang langsung memutus sambungan telepon sebelum Ayunda membalasnya.
Segudang pertanyaan berputar di kepala Ayunda. Dia menduga-duga kalau ingatan Dafa sudah pulih saat ini. "Kenapa Papanya Dafa tidak dia disebut tadi. Apa Papanya tidak akan datang?" tanya Ayunda di dalam pikirannya.
Ayunda kembali menatap layar ponselnya. "Lebih baik aku memikirkan keberadaan my honey lebih dulu", katanya seraya melihat jam digital diponselnya. "Sudah jam 11, apa mungkin dia belum sampai di rumah", ucapnya bermonolog.
Ayunda kembali menghubungi Alfian, namun kali ini ponsel Alfian tidak aktif. Meskipun Ayunda mengulanginya berkali-kali, namun hasilnya tetap sama. Dia pun semakin resah, karena tidak tahu harus berbuat apa.
Tiba-tiba nomor tidak dikenal menghubungi Ayunda. Dia pun mengabaikannya, karena sedang tidak ingin berdebat dengan seorang penipu. Namun nomor yang sama kembali menelepon setelah panggilan yang pertama tidak di jawab oleh Ayunda. Dengan malas Ayunda menggeser tombol hijau di layar ponselnya, namun dia tidak mengucapkan sepata kata pun.
"Assalamualaikum... Ini dengan Ayunda?" tanya suara pria dari seberang telepon.
"Waalaikumsalam... Iya benar, tapi maaf ini dengan siapa?"
"Saya Kakeknya Alfian", sahut suara pria di seberang yang membuat Ayunda tersentak kaget.
"Iya, Kek. Ada apa malam-malam begini menelepon Yunda?"
"Saya mau bertanya tentang keberadaan Alfian. Apa kamu tahu dia dimana sekarang?" tanya sang Kakek.
Ayunda terkesiap mendengar penuturan sang Kakek. "Jadi Kak Alfian belum pulang ke rumah?" tanya Ayunda dengan suara lirih.
"Baik, Kek. Tolong kabari Yunda jika Kak Alfian sudah ditemukan ya, Kek."
"Oke, tapi jika sudah terlalu larut malam Kakek hanya akan mengirimkan pesan padamu."
"Baik, Kek. Terimakasih sebelumnya."
"Oke", sahut sang Kakek seraya menutup sambungan telepon.
Ayunda meletakkan kembali ponselnya. "Apa yang terjadi pada my honey?" Ayunda bangkit dari posisinya lalu berjalan mondar mandir seraya menggigit jarinya. "Di mana kau my honey?" tanyanya dengan gelisah.
Sudah 1 jam lamanya Ayunda menunggu kabar dari sang Kakek, namun belum ada juga pesan atau panggilan masuk di ponsel Ayunda. Matanya pun mulai lelah, bahkan kepalanya berulangkali jatuh, karena tidak kuat menahan rssa kantuk.
...---...
__ADS_1
Ayunda tersentak kaget kala mendengar gedoran pintu yang seperti mengajak perang. Dia bangkit dari tempat tidur seraya mengucek matanya.
"Iya, sebentar", ucap Ayunda dengan membuka lebar mulutnya saat masih merasa mengantuk.
Ceklek.
"Yunda, kenapa kamu baru bangun? Ayo, segera mandi. Perias sudah menunggu", ujar sang Bunda dengan panik.
Kesadaran Ayunda belum kembali sepenuhnya. Dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dia menatap sang Bunda. "Apa Yunda sedang bermimpi?" tanyanya dengan wajah bingung.
"Kamu tidak sedang bermimpi. Hari ini kamu akan menikah, nak", sahut sang Bunda seraya menggoyang tubuh Ayunda.
"Apa hari ini!" teriak Ayunda panik. Lalu dia berlari masuk ke dalam kamar mandi dan menyelesaikan ritual mandinya dalam waktu 15 menit.
Sang Bunda membantunya mempersiapkan pakaian dan perlengkapan yang akan dia kenakan. Lalu perias masuk ke dalam kamar Ayunda.
Saat sedang di rias Ayunda teringat pada Alfian. Dia langsung meraih ponsel miliknya yang ada di atas meja. Dengan cepat jarinya mengotak atik ponsel ditangannya untuk mencari tahu kabar Alfian. Karena gak lucu jika dia menikah tanpa pengantin pria.
Netra Ayunda berbinar kala mendapat pesan dari sang Kakek yang mengatakan bahwa Alfian sudah kembali ke rumah pada pukul 12 malam. Dia mengalami bocor ban dan seseorang telah mengambil kesempatan mencuri ponsel dan dompet Alfian yang ketinggalan di dalam mobil.
Ayunda bernafas lega. "Syukur pencuri itu tidak mengambil hidup seseorang yang berharga bagiku", ujar Ayunda bergumam, namun masih dapat di dengar oleh perias.
"Apa sesuatu yang buruk terjadi?" tanya perias saat sedang mempersiapkan peralatan riasnya.
"Bukan, Mba. Hanya ada hal yang membuatku khawatir."
"Syukurlah, tidak ada hal buruk yang terjadi. Jangan sampai pernikahan ini batal karena sesuatu yang buruk terjadi", ucap mulut cerewetnya.
Ayunda menatap perias dari pantulan cermin dengan tersenyum. "Sudah, jangan berfikir yang bukan-bukan."
Sang perias melanjutkan tangan terampilnya merias Ayunda. Hampir 1 jam lamanya Ayunda di rias bak seorang Ratu yang akan duduk di singgasana.
"Sangat cantik", puji sang perias saat melihat pantulan wajah Ayunda.
Sang Bunda yang baru saja masuk ke dalam kamar Ayunda juga ikut memuji kecantikannya. "Ini benar Yunda, kan?" tanya sang Bunda yang pangling melihat kecantikan putrinya.
__ADS_1
"Ayo, kita berangkat, nak", ajak sang Bunda seraya menggandeng tangan Ayunda.
Seluruh keluarga Ayunda sudah bersiap pergi menuju tempat akad nikah dilaksanakan.