
Ayunda menepikan kendaraannya kala melihat keramain di tempat Alfian melihat sosok itu. Lalu dia menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa, pak?" tanyanya pada salah seorang bapak yang sedang berdiri di trotoar jalan.
"Ada kecelakaan tunggal bu. Mobil nabrak pohon."
Ayunda terkesiap mendengarnya. "Kapan kejadiannya pak?"
"Mungkin malam tadi bu. Belum ada kabar pastinya."
"Keadaan supirnya gimana pak?"
"Dengar-dengar, katanya supirnya meninggal di tempat. Ibu ini wartawan, ya? Dari tadi nanya melulu", ucap sang bapak dengan berdecak kesal.
"Siapa tahu saya kenal, pak", ujar Ayunda sembari mengedarkan pandangannya untuk melihat mobil yang mengalami kecelakaan itu. "Mobilnya sudah dibawa ya pak?"
"Sudah bu. Kalau ibu mau tahu lebih lanjut lebih baik ibu ke kantor polisi saja", usulnya agar tidak di ganggu oleh Ayunda lagi.
"Oke, pak. Terimakasih infonya", balas Ayunda seraya menaikkan kembali kaca mobilnya, lalu dia melajukan kendaraannya menuju kantor.
Di ruang rawat Dafa, tampak Sherly sedang duduk sambil menyuapi Dafa. Wajah tirusnya tiada henti tersenyum kala mengingat Dafa memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Sudah cukup sayang." Lagi-lagi Dafa memanggil Sherly dengan sebutan sayang yang membuat Sherly semakin bahagia.
"Oke, minumlah dulu", pinta Sherly sembari menyodorkan segelas air minum. Dafa pun meminumnya dalam sekali tegukan.
"Sayang mau buah?" tanya Sherly dengan penuh perhatian.
"Nanti saja, aku masih kenyang", jawab Dafa sambil meraih tisu dari atas laci, lalu mengusap bibirnya dengan lembut.
"Wah, pasangan yang romantis ini kayaknya gak bisa saling jauh", ujar mama Dafa saat baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Tante bisa aja. Gimana dengan perkembangan kesehatan Dafa, tante. Apa kata dokter?" tanya Sherly dengan nada lembut.
"Kamu gak perlu kuatir Sherly. Dafa sudah semakin membaik. Itu semua, karena kamu yang selalu memberinya support."
Sherly pun tersipu malu mendengarnya. "Tante terlalu memuji", ujarnya seraya menunduk.
"Tante cuma berkata yang sebenarnya. Tadi dokter berkata kesehatan Dafa semakin membaik."
"Syukurlah kalau begitu. Jadi kapan Dafa bisa keluar dari rumah sakit, tante?"
"Mungkin.besok atau lusa. Kalau keadaan Dafaa terus membaik, kemungkinan besok sudah bisa pulang."
"Bagus dong kalau begitu, tante. Besok-besok Sherly datang mengunjungi Dafa di rumah om dan tante bukan di rumah sakit lagi."
"Emang kenapa kalau di rumah sakit?"
__ADS_1
"Sherly kadang suka pusing kalau mencium aroma obat-obatan di rumah sakit, tante", ujarnya berbohong. Sebenarnya dia sering merasa dihantui oleh Salsa yang berada di kamar mayat, karena belum ada keluarganya yang datang untuk mengambilnya.
Tiba-tiba terdengar suara tangis histeris di lorong rumah sakit. Seorang ibu sedang berjalan dengan kaki gemetaran menuju kamar mayat. "Salsa..." teriaknya yang membuat Sherly tersentak kaget.
"Di mana putriku?" tanya ibu Arsih yang baru datang dari desa tempat tinggalnya.
"Sedikit lagi di depan sana bu", ujar perawat yang menuntun ibunya Salsa itu.
Ibu Arsih mempercepat langkahnya menuju kamar mayat. Sedangkan Sherly tampak berdiri dengan gelisah.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Dafa kala melihat wajah bingung Sherly.
"Entah kenapa sejak wanita yang mendorong Dafa itu tiada. Aku sering mimpi buruk."
"Mungkin karena Sheely yang merekam kejadian Dafa di dorong waktu itu, jadi Sherly teringat terus sama wajah orang itu, akhirnya terbawa mimpi deh."
"Sejak kapan kau memimpikannya sayang?"
"Sehari setelah berita kematiannya disiarkan."
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kita juga tidak bisa berbuat banyak, karena dia adalah pelaku kejahatan", sela mama Dafa.
"Baik, tante", balas Sherly dengan lesu. Semoga Salsa yang bodoh itu tidak pernah menyebut namaku pada ibunya, batin Sherly yang semakin cemas.
--
Di lobi kantor Ayunda, tampak Abian sedang berjalan menghampiri Ayunda yang baru saja menuruni anak tangga.
"Pagi, pak Abian. Maaf, pak. Apa kita punya janji sebelumnya? Barangkali saya lupa."
"Tidak ada bu. Tapi kalau ibu pengennya ada, kita bisa adakan sekarang."
Ayunda tersenyum ramah mendengar penuturan Abian. "Maksud saya bukan begitu, pak. Sekarang saya buru-buru mau ke rumah sakit. Keponakan saya sedang di rawat."
"Oke, kalau begitu saya ikut mengantarkan bu Yunda ke rumah sakit."
Ayunda menautkan kedua alisnya seraya menatap Abian. "Maaf sebelumnya pak, saya bukan bermaksud melarang pak Abian ikut, tapi keperluan bapak apa ya?"
"Keperluannya ya pasti untuk menjenguk orang sakit. Bu Yunda kayaknya suka bercanda deh."
Ayunda menatap jengah pria yang sudah menyita waktunya itu. "Maksud saya, hubungan bapak dengan pasien."
"Kan itu keponakan bu Yunda."
"Iya, keponakan saya pak."
"Kata bu Yunda kita ini sahabat, berarti gak salah dong menjenguk keponakan sahabat."
"Iya, terserah bapak deh", jawab Ayunda pasrah.
__ADS_1
Lalu mereka berjalan bersama menuju kendaraan mereka di parkir.
Hanya dalam waktu 15 menit mereka tiba di rumah sakit.
Ayunda melangkah keluar dari dalam mobil. Abian pun melakukan hal yang sama. Lalu mereka berjalan bersama menuju kamar Azzam di rawat.
"Di lantai berapa keponakannya di rawat, bu?"
"Lantai 2."
"Owh, berarti hanya perlu naik 1 lantai."
Ting.
"Ayo, pak", ajak Ayunda saat pintu lift terbuka lebar. Abian mengikuti langkah Ayunda masuk ke dalam lift.
"Emangnya keponakan ibu sakit apa?" tanya Abian saat menekan tombol angka 2.
"Demam tinggi, kata bunda sih karna tumbuh gigi. Tapi nanti saya tanyakan langsung pada kakak saya."
Ting.
"Ayo, pak", ajak Ayunda kembali saat mereka sudah berada di lantai 2. Lalu mereka melangkah keluar dari dalam lift dan berjalan menyusuri lorong sunyi.
"Ini kamarnya", ujar Ayunda saat sudah berada di kamar yang ingin di tuju.
"Kakak dan kakak ipar mau kemana lagi?" tanya Ayunda saat Adrian dan Winda tiba-tiba keluar dengan membawa Azzam.
"Kata dokter Azzam sudah boleh pulang."
"Sudah gak demam lagi?" tanya Ayunda memastikan.
"Tadi pagi suhu tubuhnya masih panas, tapi setelah dua jam yang lalu di cek suhu tubuhnya sudah kembali normal sampai sekarang."
"Syukurlah gantengnya tante ini gak kenapa-napa. Kalau begitu Yunda balik ke kantor saja."
"Gak sekalian jenguk Zahra?"
"Emangnya Zahra kenapa, kak?" tanya Ayunda dengan panik.
"Makanya kalau di telpon itu di angkat dong. Coba kamu hitung ada berapa panggilan tak terjawab dari kakak di ponsel Yunda. Itu artinya ada yang sangat penting."
"Iya, Yunda minta maaf kak. Semalam Yunda tidurnya pulas banget, karena terlalu lama menunggu kabar dari kak Alfian."
"Ya, sudah lain kali jangan diulangi. Sekarang kamu jenguk saja Zahra di kamar 211."
"Oke kak. Yunda pergi ke sana sekarang."
__ADS_1
"Permisi pak", ucap Abian yang sedari tadi berdiri di samping Ayunda dengan rasa canggung.
Ayunda berjalan menuju kamar 211 yang diikuti Abian dibelakangnya.