
Setelah lelah seharian bekerja, kembali ke rumah adalah tempat yang selalu dirindukan sebagian orang. Demikian juga bagi keluarga Adrian. Saat ini ayah dan bunda Adrian baru saja tiba di rumah.
"Ah, penatnya", ucap sang ayah saat bobot tubuhnya mendarat di sofa.
"Iya... Bunda juga, nih", timpal sang bunda sambil duduk di samping suaminya. Meskipun saat ini dia sudah mempunyai 2 orang asisten yang handal, namun rasa penat tetap dia rasakan.
Setelah beberapa menit berlalu, rasa penat pun berganti menjadi rasa lapar. Sang ayah dan bunda bergegas masuk ke dalam kamar, untuk mandi dan berganti pakaian.
Sedangkan Adrian yang sudah pulang lebih dulu dari ke dua orang tuanya itu, telah menyibukkan diri dengan merapikan beberapa berkas yang akan dia bawa saat akan menemui para investor yang sudah menghubunginya siang ini. Dengan sedikit rasa resah Adrian bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Kenapa mereka meminta berkas di hari yang bersamaan", gumamnya sambil meletakkan dokumen di atas meja.
Tok... Tok...
"Adrian... Ayo makan, nak", seru sang bunda dari balik pintu kamar Adrian. Sang bunda harus memanggilnya karena tidak biasanya Adrian melewatkan makan malamnya hingga di atas pukul 8.
"Iya, bun... Sebentar lagi", sahut Adrian dari dalam kamarnya.
"Iya, jangan lama-lama, nak." Sang bunda mengingatkan. Lalu beranjak meninggalkan pintu kamar Adrian.
Adrian pun melangkahkan kakinya berjalan menuju pintu. Tiba-tiba nada dering ponselnya mengisi sepi ruang kamarnya. Dengan sedikit terburu-buru dia meraih ponselnya yang ada di atas nakas.
"Conny", gumamnya saat membaca kontak nama yang muncul di layar ponselnya.
***
Di kota Paris
Alfian dan Siska sedang berkeliling menyusuri keindahan kota Paris. Mereka bak pengantin baru yang sedang menikmati bulan madunya. Namun tidak seperti pengantin baru biasanya. Hanya Siska yang antusias dalam perjalanan itu, sedangkan Alfian tetap dengan ekspresi datarnya. Sudah berulang kali Siska meminta Alfian untuk tersenyum, namun selalu gagal hingga semua hasil jepretan kamera Siska seperti tidak nyata. Seolah-olah Siska sedang berpose bersama patung.
"Ayo, kita pulang", ucap Siska dengan berdecak kesal.
"Ayo", balas Alfian singkat.
Sepanjang perjalanan pulang Siska menggerutu di dalam batinnya. Semua rencananya harus berakhir sebelum di mulai.
Setelah 15 menit di perjalanan mereka tiba di rumah. Siska buru-buru ke luar berjalan sambil menghentakkan kakinya, hingga mengalihkan perhatian papanya yang sedang duduk menikmati secangkir kopi.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya sang papa dengan tatapan serius, namun Siska semakin kesal mendengar pertanyaan itu. Dia menapaki anak tangga tanpa mengucapkan sepata kata.
Lalu papanya Siska menoleh ke arah Alfian. Tanpa mengulangi pertanyaannya dia menatap, seakan matanya berbicara.
"Aku juga tidak tahu, Pak", ujar Alfian sambil menaikkan bahunya. Lalu melangkah hendak meninggalkan mertuanya yang masih duduk ditempatnya.
Papanya Siska seolah tahu permasalahan yang biasanya terjadi di antara keduanya.
"Apa kau masih belum mencintainya?" tanya sang mertua yang berhasil menghentikan langkah Alfian.
"Maaf, Pak. Selain pertanyaan itu akan Alfian jawab."
Sang ayah mertua terdiam sesaat. Dia tidak ingin apa yang terjadi dalam rumah tangganya juga terjadi pada putrinya itu.
"Berikan dia kesempatan untuk membuatmu jatuh cinta padanya."
Alfian melirik sang mertua. "Maaf, Pak", sahutnya tanpa memberi alasan. Dia melangkahkan kakinya menapaki anak tangga menuju balkon yang berada di ruangan lain.
Saat berada di balkon, dia merentangkan tangannya menghirup bebas udara yang semakin terasa dingin. Perasaan sedih dan kecewa atas keputusan yang dia ambil seakan kembali mengganggunya. "Yunda", gumamnya saat merindukan sosoknya berada disampingnya saat ini.
***
"Masak apa bunda malam ini, ya?" gumamnya saat memikirkan sang bunda.
"Pardon, me?." Bule di sebelah Ayunda memintanya mengulangi ucapannya, karena mendengar samar ucapan Ayunda.
"Oh, sorry. I just talk to myself."
Bule disebelahnya pun mengangguk heran, lalu kembali membaca katalog ditangannya.
Ini bule telinganya tajam juga, batin Ayunda.
***
Di kantor Santoso Station.
Sebagian besar karyawan sudah pulang. Hanya menyisakan pembawa acara malam beserta krunya. Namun Tya yang bukan lagi menjadi karyawan Santoso Station harus tetap bekerja lembur setelah mendapat ancaman dari Winda. Perusahaan tidak akan membayar kompensasi sebagai ungkapan terimakasih dan tidak akan mengeluarkan surat rekomendasi, jika Tya tidak melakukan apa yang Winda minta.
__ADS_1
Malam ini Tya masih sibuk mengajari Reina yang antusias dengan catatan ditangannya. Sesekali Tya mengujinya untuk memastikan Reina benar-benar paham atas apa yang dia ajarkan.
Suara dering ponsel Tya seakan menjadi penyelamat baginya. Dengan cepat dia menggeser tombol hijau diponselnya.
Reina mengulang kembali apa yang diajarkan Tya, sambil menunggu Tya selesai berbicara di telepon.
"Maaf bu Winda", ucap Tya yang membuat Winda menatap tajam kearahnya. "Calon suami saya sudah menunggu di bawah."
Winda berdehem. "Silakan datang lagi besok", sahut Winda yang membuat Tya terdiam. Tanpa bantahan, dia melangkahkan kakinya meninggalkan Winda dan Reina setelah berpamitan pada mereka.
"Besok datanglah lebih awal", pinta Winda pada Reina yang sedang merapikan berkas berserakan di atas mejanya.
"Baik, bu", sahutnya dengan sopan.
***
Malam berganti pagi dengan begitu cepat. Adrian yang bangun lebih pagi dari biasanya harus berangkat lebih awal untuk menemui para investor yang telah dijadwalkan.
Tit... Tit
Suara klakson mobil mengalihkan perhatian sang bunda yang sedari tadi menyibukkan diri di dapur.
"Siapa ya, bun?" tanya sang ayah yang baru saja keluar dari dalam kamar.
"Bunda juga tidak tahu. Coba ayah yang lihat", ucap sang bunda sambil memasukkan bumbu ke dalam wajan.
Baru saja sang ayah akan melangkah menuju pintu, Adrian keluar dari dalam kamarnya.
"Mau kemana sepagi ini, nak?" tanya sang ayah yang menghentikan langkahnya saat mendengar pintu kamar Adrian di buka.
"Ada janji dengan beberapa klient, yah", sahutnya sambil membawa tas laptop di tangannya.
Sang bunda yang mendengarkan ucapan Adrian langsung mematikan kompornya, lalu berjalan menghampiri Adrian.
"Semua baik-baik saja kan, nak?" tanya sang bunda yang mulai khawatir karena tidak biasanya Adrian bertemu klient sepagi ini.
"Bunda gak perlu khawatir", sahut Adrian sambil tersenyum. "Adrian pergi dulu ya, bunda, ayah. Assalamualaikum." Adrian melangkahkan kakinya setelah berpamitan pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam", balas sang ayah dan bunda. Sang bunda masih menatap kepergian Adrian dengan sedikit rasa khawatir, karena Adrian bahkan tidak sempat untuk sarapan.
Setelah berada di luar rumah, Adrian melangkah menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumahnya. Lalu dia masuk ke dalam mobil dan menyapa Conny yang sudah sabar menunggunya.