Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Mengejar kembali cintanya


__ADS_3

Tok. Tok.


Seseorang sedang mengetuk di depan pintu rumah Ayunda.


"Siapa", teriak suara ayah Ayunda dari dalam rumah. Lalu dia mendorong kursi rodanya menuju pintu


Ceklek.


"Assalamualaikum, pak."


"Waalaikumsalam. Bapak cari siapa?"


"Saya dari pihak yang berwajib, datang kemari ingin memberikan surat ini pada bu Ayunda. Apa bu Ayunda ada di rumah pak?"


"Yunda sedang tidak berada di rumah. Kalau saya boleh tahu surat apa itu, ya?"


"Surat panggilan atas pelaporan tertabraknya saudara Dafa 2 hari yang lalu."


Ayah Ayunda terkesiap saat mendengar penuturan pihak berwajib tersebut. Dia tidak menyangka Ayunda akan secepat ini dipanggil oleh pihak yang berwajib. "Ba-baik pak. Suratnya saya saja yang menerima." Tangan gemetar ayah Ayunda terpaksa meraih surat berlogo kepolisian itu.


"Kalau begitu kami permisi pak", ucap pihak yang berwajib itu dengan sopan. Lalu mereka beranjak meninggalkan kediaman Ayunda.


Ayah Ayunda mendengus kasar saat baru saja menutup pintu. Tangannya seakan tak berdaya saat mendorong kursi roda manual itu. Air matanya pun jatuh berderai memikirkan sesuatu kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada Ayunda.


"Assalamualaikum... Ayah!" Baru saja Adrian membuka pintu dan mengucapkan salam, dia di buat kaget saat melihat sang ayah bersandar di kursi roda dengan tubuh lunglai. "Apa yang terjadi, yah?" tanya Adrian yang mulai panik. Dia langsung menggendong tubuh sang ayah dan membaringkannya di sofa.


Sang ayah menyodorkan sebuah amplop berisi surat itu pada Adrian.


Adrian menautkan kedua alisnya. "Surat apa ini, yah?" tanya Adrian sembari meraih amplop itu dari tangan sang ayah.


"Bacalah dulu", sahut suara lesu sang ayah.


Adrian langsung membuka dan membaca surat berlogo kepolisian itu. "Surat panggilan buat Yunda", ucap Adrian yang tak kalah syok saat baru saja membaca perihalnya. "Kenapa Yunda di panggil? Bukankah tidak ada bukti jelas yang menunjukksn Yunda pelakunya. Kita juga bersama Yunda malam itu."

__ADS_1


"Assalamualaikum... " ucap salam Ayunda dan Winda saat baru saja masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam..." balas Adrian dan sang ayah hampir bersamaan.


Winda langsung membawa Azzam yang sedang tertidur itu ke dalam kamar, sedangkan Ayunda berjalan menghampiri sang ayah. "Kenapa dengan ayah, kak?" tanya Ayunda saat melihat kondisi lemah sang ayah. Ayunda langsung memijit pelan kaki sang ayah. "Apa ayah merasakan sakit?" tanyanya yang terus memijit dengan berhati-hati.


"Tadi ayah syok sewaktu menerima surat ini", ujar Adrian dengan menyerahkan dua lembar surat ditangannya pada Ayunda.


"Surat apa ini kak?" tanya Ayunda sembari membaca isi surat ditangannya. Ayunda menutup mulutnya yang menganga saat baru saja membaca beberapa point penting dalam isi surat itu.


"Kamu harus tenang, ya. Coba pergi sesuai jadwal dalam surat itu. Kakak akan menyelidiki kejadian sebenarnya.


Ayunda membalas dengan mengangguk, lalu dia menatap wajah sendu sang ayah yang masih berbaring di sofa.


"Surat apa itu?" tanya Winda yang baru saja keluar dari dalam kamar setelah menidurkan Azzam.


"Surat panggilan, kak", balas Ayunda "Apa kakak sudah mendapatkan hasil rekaman CCTV di tempat kejadian?"


"Info dari Tony mengatakan tidak ada CCTV yang mengarah persis di tempat kejadian. Dia hanya melihat satu kamera CCTV dipersimpangan jalan tak jauh dari lokasi kejadian.


"Jangan patah semangat, dek. Insya Allah pasti ada jalan keluar yang terbaik dari Allah."


Ayunda tersenyum sembari memeluk erat sang ayah. "Ayah sudah dengar apa yang kakak dan kakak ipar katakan? Mereka akan selalu membantu Yunda, sampai Yunda benar-benar bebas dari masalah ini. Jadi ayah jangan bersedih lagi ya", ucap Ayunda menenangkan sang ayah, lalu di balas dengan anggukan oleh sang ayah, setelah Ayunda melepas pelukannya.


Adrian menghela nafas lega kala melihat sang ayah mullai tenang. Dia pun mencoba semua usaha terbaiknya untuk memmbantu sang adik.


Tiba-tiba suara dering ponsel Ayunda memenuhi ruang tamu sunyi itu. Dia langsung meraih benda pipih miliknya itu dari dalam tas jinjing. "Tidak ada namanya", ucapnya bergumam, dengan ragu dia menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan menjauh dari sang ayah.


"Assalamualaikum...", ucapnya.


"Waalaikumsalam, Yunda", sahut suara dari ujung telepon. Suara yang tidak asing pada pendengaran Ayunda.


"Kak Alfian?" tanya Ayunda memastikan.

__ADS_1


"Ya, ini kakak. Kakak senang, karena kamu masih mengenal suara kakak", balas Alfian dengan nada suara bahagia.


Ayunda terdiam sejenak.


"Halo, Yunda. Apa kau masih di sana?" suara Alfian yang terdengar panik, karena kebisuan Ayunda.


"Iya, maaf kak. Tadi ada iklan yang lewat", ujarnya dengan lawakan garing. "Kakak masih tinggal di apartemen yang lama?"


"Tidak lagi. Kakak pindah sejak... " ucapan Alfian terhenti, lidahnya seakan tercekal untuk melanjutkan perkataannya itu.


"Sejak kakak menikah dan punya anak kan kak", sambung Ayunda yang tahu sedikit mengenai kehidupan Alfian.


"Maaf, Yunda. Kakak telah menyakiti hatimu saat itu. Kakak tidak pernah mengatakan alasan yang jelas saat menjauh darimu. Mungkin saat itu kamu menanti-nantikan sebuah penjelasan dari kakak, namun kakak mengabaikan perasaanmu itu. Setelah bertahun-tahun lamanya kakak baru bisa menjelaskan semuanya, walau itu sudah terlambat karena Yunda sudah punya seseorang yang menyayangi Yunda."


Tiba-tiba Alfian menjeda ucapannya, hingga menciptakan kebisuan di antara mereka. Tanpa aba-aba, air mata Ayunda yang sedari tadi menggenang akhirnya jatuh bebas.


"Kakak sungguh meminta maaf atas kesalahan kakak pada waktu itu, meskipun pernikahan itu dipaksa oleh kakek dan akhirnya dinyatakan tidak sah, namun kakak seharusnya memberitahu Yunda. Jujur pada waktu itu kakak masih sangat menyayangi Yunda, bahkan sampai detik ini."


"Yunda sudah memaafkan kakak", balas Ayunda sembari menahan suara tangisnya.


"Terimakasih Yunda. Kakak merasa lega telah mengatakan tentang hal yang tertunda lama ini padamu. Kalau begitu tolong sampaikan salam kakak pada ayah dan bunda Yunda ya."


"Baik kak", balas Ayunda dengan suara lirih.


Setelah mengucapkan salam, mereka pun saling memutus sambungan telepon.


Ayunda menengadah menatap langit senja yang ingin kembali keperaduannya. Hatinya resah setelah mendengar penjelasan dari Alfian. Sebuah kebohongan yang dia buat sendiri menjadi beban dalam pikirannya, namun dia juga berdecak kesal karena sikap pasrah Alfian atas hubungan palsu itu. Dia menghirup udara dan melepasnya mencoba menenangkan diri sejenak.


---


Di dalam kamar rawat inap Zahra, Alfian sedang menatap nanar langit-langit kamar itu. Dia merasa lega setelah mengungkapkan semuanya pada Ayunda. Dia pun bertekad akan mengejar kembali cintanya itu, cinta yang sudah tumbuh di masa lalu. Tak peduli dengan status hubungan Ayunda dan Abian.


"Papa.." panggil Zahra yang baru saja terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Ya, sayang", balas Alfian sembari menghampirinya.


"Ara haus", ucap bibir mungilnya. Lalu Alfian bergegas menberikan segelas air minum pada putrinya itu. Papa yakin Ayunda akan menerimamu juga saat dia menerima papa, batin Alfian.


__ADS_2