Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Ajakan Makan Siang


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Mentari yang telah menyeruak dari balik awan, memberikan kehangatan pagi hari ini. Derap langkah yang terdengar saling bersahutan di trotoar menunjukkan ada hal penting yang harus segera dikerjakan.


Ayunda membuka lebar kaca mobil, lalu menjulurkan sebagian kepalanya ke luar kaca jendela untuk merasakan hangatnya sinar mentari, yang merasuk ke dalam pori-pori wajahnya.


"Yunda jangan lakukan itu!" teriak Adrian yang tiba-tiba saat menoleh ke samping, karena sedari tadi sibuk dengan ponsel di tangannya. Lalu menarik tangan Ayunda, agar Ayunda masuk kembali ke dalam mobil. "Apa Kau tahu, itu sangat berbahaya!" sergah Adrian dengan penuh kecemasan.


"Aku tahu, Kak. Aku bukan anak kecil lagi", balas Ayunda yang mulai cemberut.


"Ya, Kau memang bukan anak kecil lagi. Tapi bagiku Kau tetap adik kecilku, jadi aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada adik kecilku ini", sahut Adrian dengan penuh penekanan.


"Ya, maaf Kak. Aku tidak akan mengulanginya", tutur Ayunda sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Anak baik", tutur Adrian dengan tersenyum, sambil mengacak rambut Ayunda.


"Arghh... Kakak kebiasaan. Rambutku jadi berantakan, kan", ucap Ayunda yang kembali cemberut.


"Maaf, ya. Habis Kamu itu gemasin", balas Adrian yang tetap tersenyum.


Tony menepikan kendaraan di gerbang kampus Tri Karya. Ayunda langsung ke luar dari dalam mobil, saat kendaraan sudah berhenti sempurna.


"Bye, Kak", ucap Ayunda sambil melambaikan tangannya. "Jangan ngebut-ngebut ya, Mas!" teriak Ayunda pada Tony, yang di balas dengan senyuman oleh Tony, sebelum mobil yang dikendarai menjauh dari Ayunda.


***


Ting.


Pintu lift terbuka lebar, Ferdo berjalan melangkah ke luar dari dalam lift yang sudah dikhususkan itu.


"Pagi, Pak", sapa beberapa karyawan yang sedang berjalan berseberangan dengannya, yang di balas dengan senyum ramah oleh Ferdo


"Pagi Pak Ferdo", sapa Adrian dengan tersenyum. "Sepertinya suasana hati Bapak baik. Senyum Bapak sangat manis sekali", ledek Adrian membuatnya mendapat tatapan tajam dari Ferdo.


"Kau suka sekali meledekku. Baiklah, aku akan membalasnya", ujarnya dengan berlalu meninggalkan Adrian yang masih mematung di posisinya berdiri.

__ADS_1


"Ternyata Kau seorang pendendam, ya", seru Adrian sambil berjalan dengan langkah lebar mengejar Ferdo. "Baiklah, aku akan meminta maaf dengan mengajakmu makan siang ke cafe dekat kampus Ayunda", ucap Adrian yang berhasil membuat Ferdo menoleh ke arahnya. "Ayunda juga ikut", ucapnya melanjutkan, sambil menunggu respon Ferdo.


"Hmm... oke, kali ini aku maafkan", sahut Ferdo dengan wajah serius. Lalu mereka berjalan bersama menuju ruangan masing-masing.


*


"Tya, tolong beritahukan jadwal untuk hari ini", pinta Ferdo sambil berlalu masuk ke ruangannya. Dengan sigap Tya sang sekretaris membawa agenda di tangannya ke dalam ruangan Ferdo. Tya langsung membacakan jadwal Ferdo pada har ini.


Ferdo meminta Tya mengatur ulang jadwal pada jam sebelas, lalu Tya menganggukan kepalanya, "baik, Pak", sahut Tya dengan sopan. "Apa, ada lagi yang perlu saya lakukan, Pak?" tanya Tya yang sedikit mencondongkan tubuhnya sambil menatap Ferdo.


"Tidak ada lagi", jawab Ferdo dengan membalas menatap Tya.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi", ucap Tya sambil beringsut mundur, lalu ke luar dari ruangan Ferdo.


Ceklek.


Pintu ruangan Ferdo kembali terbuka, memunculkan wajah sang kakek dari balik pintu.


"Kakek", panggil Ferdo, sambil berdiri menghampirinya. "Ayo, silahkan duduk, Kek", ucapnya kemudian menuntun sang kakek untuk duduk di sofa. "Bukannya Kakek akan kembali ke kota B sore ini?" tanya Ferdo saat badannya telah menempel di sofa.


Sang kakek memandang Ferdo dengan tersenyum, "aku hanya rindu pada cucuku ini", ucapnya sambil menepuk pelan pundak Ferdo "Bagaimana dengan wanita yang ingin Kau perkenalkan pada kakek?" tanya sang kakek.


Sang kakek membalas dengan menganggukkan kepalanya, "ya", jawabnya singkat.


*


Di kampus Tri Karya, para mahasiswa sedang berkerumun di mading kampus. Ayunda dan Reina yang kebetulan lewat, tak ingin ketinggalan berita. Mereka membelokkan langkah yang semula akan ke kantin, beralih mendekati kerumunan.


"Ada apa?" tanya Reina dengan menarik paksa seorang mahasiswi yang baru saja ke luar dari kerumunan.


Mahasiswi itu memandang tak suka pada Reina, "bisakah Kau lebih sopan lagi?" sergahnya dengan melepas paksa pegangan Reina.


"Iya, maaf. Tadi tidak sengaja aku menarik dengan kasar", ucap Reina dengan penyesalan.


"Nah, gitu dong. Itu ada pengumuman acara mencari bakat", ucap mahasiswi itu menjelaskan.


"O, seperti Idol gitu ya?" tanya Reina kembali. Sedangkan Ayunda tersentak mendengarkannya, dia teringat akan obrolannya dengan Ferdo. Dia yakin pengumuman itu ada hubungannya dengan Ferdo.

__ADS_1


"Apa itu mencari bakat pembawa acara?" tanya Ayunda tiba-tiba.


"Nah, itu dia tahu", ucap mahasiswa dengan menunjuk Ayunda. "Kalian lihat sendiri, saja", ucapnya sambil berlalu meninggalkan Ayunda dan Reina.


Ayunda terdiam saat mengingat perkataannya dengan Ferdo. Apa secepat itu dia bertindak, batinnya.


"Hei, Ay!" teriak Reina, sontak membuat Ayunda kaget. "Ada apa?" tanya Reina saat Ayunda masih mengelus dadanya yang hampir saja membuat jantungnya copot.


"Bukan apa-apa. Ayo kita ke kantin", ajak Ayunda dengan sedikit menarik paksa Reina, karena Reina belum puas jika tidak melihat langsung pengumuman di mading. "Ayo... nanti kita masih bisa melihatnya", ucapnya kemudian, membuat Reina terpaksa mengikuti Ayunda.


*


Setelah di kantin Ayunda hanya memesan segelas juice. Reina pun memandangnya dengan bingung, "kenapa Kau tidak memesan makanan, Ay?" tanya Reina saat baru saja berhasil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Aku tidak lapar", jawab Ayunda dengan tenang.


"Aku fikir Kau sangat lapar, sampai-sampai tanganku harus Kau tarik paksa tadi", ucap Reina kemudian, setelah menelan makanan di dalam mulutnya.


"Sudah, jangan banyak bicara lagi. Selesaikan saja dulu makananmu", seru Ayunda yang kesal, karena Reina berbicara sambil mengunyah makanan.


"Baiklah", jawab Reina dengan tersenyum.


Tak berselang lama Ayunda mendapat panggilan telepon dari sang kakak. Adrian memintanya untuk bertemu di cafe tempat biasanya. Ayunda pun menyetujui permintaan sang kakak. Setelah mereka membuat janji akan bertemu di cafe, mereka saling memutus sambungan telepon.


"Siapa, Ay?" tanya Reina yang selalu ingin tahu orang-orang yang berhubungan dengan sahabatnya itu. Lalu dia meletakkan sendok dan garpu, setelah menghabiskan semangkok mie ayam bakso kesukaannya.


"Kak Adrian", balas Ayunda tanpa menjelaskan tujuan sang kakak menelponnya.


Reina kesal karena Ayunda hanya mengucapkan beberapa kata, dia pun berusaha mencari informasi yang lengkap "hmm, itu..."


"Yuk, ke kelas", ajak Ayunda memotong ucapan sahabatnya itu. Dia tahu Reina pasti sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan Adrian padanya. Apalagi jika berhubungan dengan mas Tony.


"Kenapa cepat banget? Bakso yang aku makan saja belum turun!" seru Reina yang mencari alasan, untuk mendapat informasi lebih dari Ayunda.


"Kakak mengajakku makan siang di cafe tempat biasa", ucap Ayunda memberi penjelasan pada Reina, agar mereka segera kembali ke kelas.


"O, oke deh. Ayo, kita ke kelas", ajak Reina dengan sikap biasa saja, seolah tidak butuh informasi Ayunda.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2