Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Bencana Di hari Pernikahan


__ADS_3

Setelah melewati serangkaian adat yang menjadi tradisi keluarga. Akhirnya MC membuka acara ijab kabul dengan bismillah.


Kedua pengantin telah duduk sesuai posisi masing-masing, bahkan Alfian yang sudah tidak sabar sesekali mencuri pandang untuk melihat wanita cantik disisinya yang sebentar lagi akan menjadi istri sahnya.


Acara sudah di mulai wali pengantin dengan melafazkan ijab kabul.


Kini tiba giliran Alfian. Dengan rasa gugup dia menjabat tangan. "Saya terima nikah dan kawinnya Ayunda Milly binti Renda dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana para saksi... Sah?" tanya Pak Penghulu.


"Sah..." jawab suara serempak yang mampu mengharubirukan perasaan sebagian orang.


Dengan di iringi doa, pernikahan Alfian dan Ayunda pun selesai setelah kedua pengantin saling menyematkan cincin.


Kini Alfian leluasa menatap paras cantk sang istri. Meskipun Alfian pernah mengikuti pernikahannya sendiri, namun ini pertama kali dia merasakan nikmatnya.


Para tamu undangan mulai maju untuk memberi selamat kala kedua pengantin sedang bersanding disinggasananya.


"Conny", ucap Adrian bergumam yang membuat wanita disampingnya spontan mendelik. Adrian pun terdiam, dia urungkan niatnya untuk sekedar menyapa wanita yang pernah menjadi rekan bisnisnya itu.


"Hai Adrian", sapa Conny dengan tersenyum dan mengabaikan Winda yang sedang sibuk memberi makan putranya.


"Owh, hai", balas Adrian sedikit canggung. "Ini istri dan anakku", ucapnya kemudian yang membuat Conny merubah ekspresi wajahnya.


"Hai Winda", sapa Conny dengan terpaksa.


Winda pun menoleh sekilas. "Oh, hai", balas Winda dengan tersenyum sekedarnya.


"Saya mau ketemu Kakek sebentar ya. Dia rekan bisnis saya sekarang", ujarnya seraya melirik Winda.


"Oke, silakan", sahut Adrian dengan ramah.


Conny menatap Adrian dengan tersenyum seraya melangkahkan kakinya menuju sang Kakek yang sedang berdiri menyambut beberapa tamu.


"Kenapa? Tak ikhlas orangnya pergj?" tanya Winda saat melihat sang suami masih menatap punggung Conny menjauh.


"Jangan berlebihan. Aku hanya melihat Kakek yang tampak semangat melayani para tamu."

__ADS_1


"Hem, asal ucapan my hubby jujur. Aku pasti tenang", balas Winda seraya memberi minum putranya.


Adrian menoleh ke arah sang istri, lalu dia memberi ciuman singkat dikeningnya. "Insya Allah, aku akan tetap setia", ujar Adrian yang membuat Winda tersenyum bahagia. Azzam pun ikut tersenyum melihat kemesraan kedua orang tuanya.


...---...


Keluarga Ayunda tengah berbahagia saat menyambut para tamu yang hendak memberi selamat. Tiba-tina seorang reporter TV karyawan Alfian datang berlari terengah-engah bahkan menyerobot antrian.


"Pak Alfian, saya izin sebentar. Terjadi kebakaran di sebuah restoran. Saya akan meliput ke sana", ujarnya dengan nafas yang memburu.


Mendengar kata restoran sang Bunda seakan tersentak. "Di mana kejadiannya?" tanya sang Bunda yang mulai panik.


Lalu reporter itu mengatakan alamat dan nama restorannya.


Bak di sambar petir di siang bolong, sang Bunda langsung terjatuh.


"Bunda..." teriak mereka hampir bersamaan. Mereka pun menghamburkan diri menghampiri sang Bunda. Adrian menaruh tubuh sang bunda pada kedua tangannya, lalu menggendongnya menuju tempat yang lebih leluasa untuk sang Bunda.


Mereka memcoba menyadarkan sang Bunda dengan menempelkan minyak angin di area penciuman sang Bunda. "Bunda... Bunda... bangun", pinta Ayunda seraya menepuk pelan wajah sang Bunda.


Sang Bunda mulai mengerjap. Lalu dia mendesah sembari memegang pelipisnya. "Bunda di mana?" tanya suara lirihnya.


"Tadi Bunda dengar kabar apa? Bunda lupa", ucap sang Bunda dengan raut wajah bingung.


Ayuunda memberi segelas air minum pada sang Bunda. "Mungkin tadi Bunda kelelahan", jawabnya berbohong. "Ayo, Bunda minumlah dulu", pintanya saat bibir gelas mengenai bibir sang Bunda.


Sang Bunda menjauhkan gelas pemberian Ayunda. "Bunda ingat! Sesuatu terjadi pada restoran kita, kan?" tanya sang Bunda dengan menatap serius Ayunda.


Ayunda terdiam. Dia tidak sanggup menjawab pertanyaan dari sang Bunda.


"Bunda istirahat saja dulu. Biar Adrian yang pergi memastikan kebenarannya", ujarnya dengan santai untuk membuat Bundanya tenang.


Sang Bunda menganggukkan kepalanya. "Pergilah, Nak. Kabari Bunda situasi sebenarnya. Jangan ada yang kau tutup-tutupi", sahutnya lirih.


Adrian pun berjanji akan berkata jujur pada sang Bunda. Lalu dia bergegas pergi meninggallkan acara pernikahan yang belum selesai itu. Suasana riang berganti sendu kala sebuah berita tersebar di antara para tamu.


...---...

__ADS_1


Acara yang seharusnya berakhir pada malam hari, terpaksa selesai sebelum waktunya, sebuah isu mengenai restoran Bundo terbakar adalah benar adanya.


Banyak berita menyiarkan si jago merah telah menyapu rata restoran milik Bundanya Adrian itu. Meskipun api dapat dipadamkan, namun tidak satupun benda yang terselamatkan. Bahkan kobaran api mengenai dua gedung di sisi kiri dan kanannya.


Kini polisi sedang sibuk menyelidiki penyebab terjadinya kebakaran. Karena tidak ada seorang pun yang berada di tempat kejadian saat api mulai menyebar.


Dalam kebisuan di tengah perkunpulan keluarga, Ayunda teringat akan perkataan seseorang yang belum sempat dia ceritakan pada siapapun. Dia bergegas memberitahu pada keluarganya yang sedang duduk merenung di ruang tamu.


"Ayah, Bunda..." panggil Ayunda yang membuat kedua orang tuanya menoleh bahkan mengusik perhatian keluarganya yang lain. "Pak Abian pernah memberitahu Yunda sesuatu, saat malam sebelum hari pernikahan", ujarnya dengan sedikit gugup. Alfian spontan menatap Ayunda kala mendengar nama Abian di sebut.


Berani sekali dia menelpon calon istri orang malam-malam, ucap Alfian di dalam batin.


"Ini bukan seperti yang my honey pikirkan", kata Ayunda saat mengerti arti tatapan sang suami. "Pak Abian mengatakan kalau dia tidak sengaja mendengar Bi Arsih sedang ngobrol di tempat sepi dengan seorang pria paruh baya. Mereka ingin mencelakai keluarga kita."


Seluruh keluarga yang ada diruangan itu termangu mendengar perkataan Ayunda.


"Jadi menurut kamu Bi Arsih yang sudah tega membakar restoran Bunda?" tanya Adrian dengan wajah serius.


"Kita tidak bisa menuduh sembarangan. Hanya saja, apa kita harus mencurigainya?"


"Jangan berasumsi apapun. Tapi jika pak Polisi bertanya siapa yang patut dicurigai barulah kita memberitahunya", ujar sang Ayah yang sedari tadi diam. Seluruh anggota keluarga mengangguk tanda setuju.


"Yunda harus kembali ke rumah suamimu, Nak. Meskipun di keluarga kita sedang ada masalah, tapi malam ini Yunda harus tetap tinggal di rumah keluarga Alfian."


"Baik, Ayah", balas Ayunda dengan patuh.


Lalu Alfian dan Ayunda berpamitan. Mereka meninggalkan rumah kediaman orang tua Ayunda dengan beban pikiran yang sulit untuk mereka ungkapkan.


Saat sudah berada di dalam mobil Ayunda hanya menatap ke luar kaca mobil dengan wajah sendu.


"Jangan terlalu dipikirkan. Kakek sudah berjanji akan membangun restoran yang lebih mewah dari yang sebelumnya", ucap Alfian memecah keheningan.


"Honey, Aku khawatir Bi Arsih benar-benar akan mencelakai keluargaku."


"Aku akan meminta Tony dan anak buahnya menyelidiki hal ini. Bila perlu mereka berkawal di rumah Ayah dan Bunda", ujar Alfian agar istrinya tidak khawatir lagi.


Ayunda mengangguk pelan. "Terimakasih, honey memikirkan sampai sejauh itu."

__ADS_1


"Sama-sama, honey. Keluargamu juga adalah keluargaku", balas Alfian dengan tersenyum, namun masih tetap fokus menyetir.


__ADS_2