Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Ayunda Bebas


__ADS_3

Sebuah fakta baru terkuak. Pengacara handal yang telah di bayar mahal oleh Alfian itu mengungkapkan kebenaran bahwa Dafa masih hilang ingatan, kemudian bukti yang telah diberikan oleh keluarga Dafa tidak menunjukkan Ayunda adalah pelaku yang telah mendorong Dafa. Wanita di CCTV yang memiliki postur tubuh persis Ayunda itu kini menjadi buron.


"Alhamdullilah, Yunda kita sudah bebas", ujar sang bunda dengan isak tangis. Tangan gemetar sang bunda terbentang menyambut Ayunda di depan petugas polisi jaga.


"Bunda..." panggil Ayunda lirih sembari memeluk erat sang bunda. Air mata haru sang bunda kini menggenang di pelupuk mata.


Sebuah moment haru yang membuat Alfian terenyuh. "Ayo, kita pulang", ajaknya saat berdiri di dekat Ayunda.


Mendengar ucapan Alfian barusan, mereka saling melepaskan pelukan masing-masing.


"Ayo, kak", sahut Ayunda seraya mengusap lembut sisa air mata dipipinya. Dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu.


Mereka berjalan beriringan meninggalkan kantor polisi. Rasa kalut akibat penangkapan tiba-tiba kini berganti rasa syukur atas pembebasan tanpa syarat Ayunda.


 


Setelah 20 menit diperjalanan Alfian menepikan kendaraannya di halaman rumah keluarga Ayunda.


"Saya langsung balik ke kantor bu, Yunda. Ada pekerjaan tertunda yang harus segera saya selesaikan", ucap Alfian saat Ayunda dan sang bunda turun dari mobil.


"Baik, kak. Terimakasih atas bantuan kakak."


"Sama-sama."


"Iya, nak. Bunda juga mau berterimakasih. Kalau tadi nak Alfian tidak ada, mungkin Yunda masih dalam kurungan."


"Bu- "


"Saya juga mengucapkan terimakasih banyak", ujar sang ayah memotong ucapan Alfian yang sedari tadi mendengar percakapan mereka.


Alfian pun tersenyum ramah. "Kenapa ini jadi moment mengucapkan terimakasih. Saya ikhlas kok pak, bu membantu Yunda!" tutur Alfian.


"Saya juga ikhlas kalau putri saya berhubungan denganmu", ujar sang ayah yang membuat Ayunda dan Alfian terkesiap.


"Kalau begitu hati-hati di jalan ya, kak." Ayunda mencoba mengalihkan perhatian Alfian, agar pipi meronanya tak terlihat. "Yunda masuk dulu, bye", lanjutnya. Sedangkan yang dilakukan sang bunda menunggu mobil milik Alfian meninggalkan halaman rumah mereka.


Sang ayah menatap bahagia sikap lucu putri imutnya itu. Dia pun menyesal selama ini telah berprasangka buruk pada Alfian.

__ADS_1


Tit. Tit.


"Hati-hati di jalan, nak", ucap sang bunda bak sedang mengantar kepergian anak menantu. Lalu sang bunda berjalan menghampiri sang suami. "Terimakasih, ayah sudah menerima Alfian."


"Iya bun. Ayah baru sadar kalau ternyata sikap Alfian itu baik. Kepribadiannya yang tenang dan sabar membuat ayah suka padanya."


Sang bunda menatap sang suami dengan tersenyum bahagia. "Syukurlah kalau ayah mempunyai pikiran seperti itu. Ayo, kita masuk." Sang bunda langsung mendorong masuk kursi roda sang suami.


 


Di sebuah ruangan yang tampak kusam itu Salsa berteriak histeris atas rencananya yang telah gagal. Saat ini dia harus bersembunyi lebih jauh, karena polisi sedang mencari pelaku sebenarnya.


Tak.


Tiba-tiba pintu di banting dengan sangat keras, yang membuat Salsa terlonjak kaget. "Salsa di mana kau?" teriak Sherly seraya menyusuri setiap sudut ruangan. "Kau memang tak berguna! Percuma aku membayarmu mahal!" maki Sherly dengan nafas yang memburu kala melihat Salsa berdiri di dekat jendela.


"Cih, apa bedanya denganmu?"


"Sekarang sudah berani menjawab! Lama-lama bisa ngelunjak nih", tukas Sherly.


"Mungkin selama ini aku yang bodoh, karena mengikuti semua keinginanmu. Lihatlah sekarang aku yang menjadi incaran polisi bukan kau", rutuknya.


Salsa melangkah semakin mendekati Sherly, lalu tangannya mencengkram kuat kerah baju Sherly. "Kau harus menolongku keluar dari kota ini. Kalau tidak kau juga akan kena imbasnya."


Sherly menyeringai. "Apa kau punya bukti keterlibatanku?"


Salsa menunduk seakan terlihat putus asa, namun tiba-tiba suara tawanya terdengar membahana.


"Berarti kau benar-benar menganggapku bodoh", ucap Salsa yang perlahan mendongak dengan tersenyum jahat.


"Maksudmu apa?"


"Kau tidak tahu kan aku sudah memasang kamera CCTV di tempat ini!" seringainya. "Jadi bantu aku kabur atau kau akan merasakan akibatnya."


Sherly melirik seolah sedang mencari kamera CCTV. "Tapi aku tidak melihat 1 pun kamera CCTV diruangan ini. Bangunan ini adalah bangunan tua, aku yang memberikannya padamu. Penghuni gedung disini cuma tinggal 5 orang, mereka semua tua renta yang diterlantarkan. Jadi gak mungkin bisa memasang CCTV, kau pasti cuma ingin menggertakku!"


"Jelas aku menaruhnya di tempat tersembunyi, karena aku tahu suatu saat kau pasti akan membuangku begitu saja."

__ADS_1


Sherly yang merasa kuatir jika Salsa memang melakukannya, akhirnya menyetujui permintaan Salsa. "Oke, aku akan segera mengatur keberangkatanmu dalam waktu dekat ini", ujarnya.


"Aku mau besok sudah ada semua yang aku perlukan untuk melarikan diri."


"Tidak semudah itu!" Seru Sherly berdecak kesal. Kalau saja membunuh itu dihalalkan maka Salsa orang pertama yang akan aku eksekusi, batin Sherly.


"Aku tidak mau tahu. Besok sudah harus ada, kalau tidak mari kita sama-sama membusuk di penjara."


Sherly yang tersulut emosinya akhirnya kalut. "Go to hell!" Teriak Sherly sembari mendorong Salsa dari bangunan lantai 5 itu. Lalu dia menelpon orang suruhannya untuk membereskan semua yang terjadi di sana. "Cih, mau mengancamku. Setidaknya kau harus punya nyali seujung kuku tanganku", seringai Sherly menatap Salsa yang tidak bergerak lagi.


Penghuni bangunan yang sudah tua renta itu tak tahu apa yang sedang terjadi di sekitar mereka karena pendengaran dan penglihatan mereka yang kurang jelas.


--


Dengan cepat tersiar kabar seorang wanita mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari gedung berlantai 5. Polisi juga menemukan pakaian yang sama persis digunakan oleh Salsa saat mendorong Dafa. Karena pelaku sebenarnya sudah tiada, maka kasus itu pun di tutup.


Hari terus berlalu dengan begitu cepat, namun dendam para pelaku kejahatan seakan tak pernah berhenti. Mereka terus mencari cara untuk bisa membalaskan dendam itu.


 


"Assamualaikum..." Alfian berdiri di depan pintu rumah Ayunda sembari menggandeng tangan Zahra.


"Waalaikumsalam...", sahut suara Ayunda dari dalam rumah. Lalu dia membuka pintu dengan lebar. "Hai, Ara cantik", sapa Ayunda dengan nada lembut mengabaikan pria tampan disebelahnya.


"Hai, juga tante cantik", balas Zahra sembari berlari memeluk Ayunda.


"Manis sekali", ujar Ayunda dengan mencubit gemas hidung mancung Zahra. "Wangi lagi", lanjutnya.


"Tante juga sama", balas Zahra yang sangat senang jika berada di dekat Ayunda. Lalu mereka pun tertawa bersama.


"Ara sudah gak sayang papa lagi", rengek Alfian dengan memasang wajah murungnya seolah sedang bersedih.


"Papa udah gede ih. Masa masih cengeng kayak anak kecil", ucap bibir mungil Zahra yang membuat Ayunda tertawa terbahak-bahak.


"Sudah puas tertawanya?"


"Pfft, maaf kak. Itu tadi spontan, bukan sengaja."

__ADS_1


Baru saja Alfian akan menghampiri Ayunda, sang bunda datang dari arah dapur. "Ada nak Alfian. Ayo, masuklah dulu", ujar sang bunda yang membuat mulut Ayunda menganga karena sedari tadi membiarkan Alfian berada di luar.


"Terimakasih, bu", jawab Alfian seraya menoleh ke arah Ayunda. Lalu dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


__ADS_2