
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Winda berjalan ke luar dari ruangan Ferdo dengan muka masam, karena saat berada di ruangan Ferdo dia mendapat tatapan aneh bahkan tawa meledek dari Adrian. Pada hal sewaktu berangkat dari apartementnya, dia sudah tidak sabar ingin memamerkannya pada Adrian, bahkan dia datang lebih pagi dari biasanya.
"Bu... Bu Winda", panggil Tya berulang kali, namun Winda mengabaikannya. Winda semakin mempercepat langkahnya tanpa membalas panggilan Tya.
"Ada apa dengan bu Winda, ya." Tya bergumam.
Ceklek.
Pintu ruangan Ferdo terbuka mengalihkan perhatian Tya, untuk melihat siapa yang akan ke luar dari ruangan itu.
"Pak Adrian", panggil Tya saat Adrian muncul dari balik pintu.
"Ya, ada apa Tya?" tanya Adrian masih dengan tersenyum. Tya pun mengerti alasan bu Winda ke luar dengan muka merengut dari dalam ruangan sang bos.
"Bu Winda kenapa, Pak?" tanya Tya dengan tersenyum.
"Apa Kau melihat baju yang dipakainya?" tanya Adrian yang dibalas dengan anggukan oleh Tya. "Itu baju pemberianku!" ucap Adrian dengan tegas, membuat Tya berjingkat, karena Adrian tiba-tiba membentaknya. Untung saja tadi saat bertemu Winda, dia tidak berkata aneh tentang baju itu, jika tidak dia pasti kena amukan pak Adrian.
"Oh, bajunya bagus Pak. Tadi aku sempat memuji bu Winda cantik pagi ini", balas Tya dengan tersenyum kaku.
"Jadi Kau mengatakan dia cantik saat mengenakan baju itu?" tanya Adrian dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tya bingung harus menjawab apa, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bu- bukan seperti tiu, Pak", ucapnya gugup.
"Kenapa Kau takut. Ayo, katakanlah sejujurnya!" Adrian menunggu jawaban dari Tya dengan sorot mata yang tajam.
Kring... kring.
Bunyi telepon di meja Tya menyelamatkannya dari tatapan tajam Adrian.
"Permisi sebentar, Pak. Ini dari pak Ferdo", ucapnya saat mengangkat telepon dari sang atasan. Dia mengetahuinya karena melihat line yang terhubung di pesawat telepon.
"Hallo, Pak", sahutnya saat baru saja meletakkan gagang telepon di telinganya.
"Baik, Pak", balas Tya saat Ferdo memintanya mengantar berkas ke dalam ruangannya. Lalu dia menutup telepon setelah sang atasan menutup lebih dulu.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya di panggil ke dalam", ucap Tya yang sebernarnya senang, karena bisa menghindari Adrian.
"Hem, kita lanjutkan nanti, ya", ucap Adrian dengan mengedipkan mata yang membuat Tya terperangah. "Bye." Adrian melambaikan tangannya meninggalkan Tya yang masih bergeming.
Drrt... drrt
Adrian langsung meraih ponselnya yang berbunyi, saat dia sedang menyusuri koridor.
"Tony", ucapnya.
Adrian langsung menyahut panggilan dari Tony, dan meminta Tony langsung masuk ke ruangannya saja. Dia tak ingin ada yang mendengar obrolan mereka di telepon.
*
Tony berada di ruangan Adrian menyampaikan apa yang baru saja di dengarnya dari alat penyadap yang mereka taruh di tas Siska. Percakapan Siska dan papanya di telepon yang mengatakan bahwa papanya telah menemukan pelaku yang sudah mencelakai ke dua orang tua Adrian. Siska seperti dengan sengaja mengulang alamat tempat pelaku itu di sekap, seolah ingin memastikan perkataan sang papa.
"Ada yang aneh", ucap Adrian sambil berfikir.
"Ya, Pak. Saya juga berfikir seperti itu", sahut Tony.
Adrian meminta rekaman suara pada Tony. Dia ingin mendengar langsung, untuk menemukan sesuatu yang mungkin dapat dijadikan petunjuk. Tony langsung meraih usb yang berisi rekaman suara Siska dari dalam sakunya, lalu memberikannya pada Adrian.
Adrian langsung mendengarkan rekaman pemberian Tony melalui laptopnya, setelah Tony menutup pintu ruangannya.
*
Tony sedang menunggu di depan gerbang kampus Ayunda sambil mengetuk-ngetuk jarinya pada setir kemudi. Ekor matanya yang berulang kali melirik ke arah kampus, tidak sengaja melihat Reina yang berjalan dengan terburu-buru diikuti oleh Ayunda dari belakang. Tak ingin tinggal diam, Tony langsung bergegas keluar dari dalam mobil.
"Reina", panggilnya dari arah depan.
Reina merasa terjepit, dia seakan di serang dari arah depan dan juga dari belakang.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Reina dengan gusar. "Tolong jangan ganggu aku!" pinta Reina sambil mengatupkan ke dua tangannya. Lalu dia berlari menghindari Tony. Dia yakin Tony tidak akan menangkapnya, karena Tony pasti tak ingin bersentuhan dengan dirinya.
"Reina, tunggu!" panggil Tony dengan berusaha mengejarnya. Akhirnya Tony menarik paksa tangan Reina, sehingga langkahnya terhenti. Reina terbeliak saat tangannya di pegang oleh Tony. Mulutnya terbuka lebar, tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan Tony.
"Aku yakin bukan hanya lalat yang akan masuk, jika itu mulut terus di buka lebar!" seru Tony yang membuat Reina langsung mengatupkan mulutnya.
"Tolong lepaskan tanganku", pintanya dengan gugup tanpa memandang ke arah Tony.
__ADS_1
Ayunda menghampiri sahabatnya itu dengan terengah-engah. "Reina... kenapa Kau terus menghindar dariku?" tanya Ayunda dengan menatap Reina. "Oke, aku tahu ancamannya adalah posisi papamu di perusahaan papanya Sherly. Tapi setidaknya Kau bisa menghubungiku, kita bisa berpura-pura tidak akrab di kampus", ujar Ayunda yang tak ingin persahabatan mereka hancur karena Sherly.
Reina membalas dengan menatap Ayunda. "Maaf, Ay. Ponselku juga di sadap olehnya."
Ayunda terbeliak, dia tak menyangka ada orang yang memakai cara licik seperti itu, hanya agar persahabatan mereka hancur.
"Aku akan bicara pada Sherly!" seru Ayunda dengan geram.
"Jangan, Ay! Kau tidak akan mendapat hal yang baik, jika berbicara dengan orang seperti dia." Reina mencoba mencegah Ayunda, namun Ayunda terus berjalan dengan langkah lebar menghampiri Sherly di tempat favoritnya.
Reina dan Tony terus mengikuti langkah Ayunda yang berjalan menuju kantin.
"Sherly!" panggil Ayunda dengan nada tidak ramah, saat melihatnya tertawa bersama temannya.
"Cih, siapa dirimu yang sangat berani memanggilku dengan sombong? Apa Kau sudah tidak ingin kuliah di sini lagi?" tanya Sherly dengan angkuh.
"Kenapa Kau mengancam Reina, hah?" sergah Ayunda dengan nada emosi.
"Apa Kau pikir aku tak punya kerjaan, sampai harus ngurusin orang-orang seperti kalian...! Cih, gak penting!" seru Sherly masih dengan sikap angkuhnya.
"Kalau memang gak penting, kenapa Kau mengancam posisi orang tua Reina di perusahaan papamu, hah!" ketus Ayunda yang membuat Sherly terbelalak sambil menatap tajam Reina, karena Reina telah melanggar janjinya. Reina beringsut mundur menghindari tatapan Sherly, dia khawatir Sherly akan segera melakukan ancamannya itu.
Sherly beralih memandang Ayunda. "Begini saja... jika Kau ingin posisi ayah Reina aman, maka - " ucap Sherly menyeringai, dia dengan sengaja menggantung ucapanya untuk memancing emosi Ayunda. "Kau harus mundur dari peringkat pertama acara lomba pembawa acara itu", ucapnya dengan tersenyum licik.
Ayunda berjingkat, lidahnya tercekal tak mampu menyahut ucapan Sherly.
"Kau licik!" seru Tony yang sedari tadi menyimak perkataan mereka.
"Cih, Kau hanya pesuruh, kan? Jadi jangan ikut campur!" seru Sherly yang membuat Tony mengepalkan tangannya, jika dia bukan wanita maka Tony sudah mengajaknya berduel saat itu juga, karena ini pertama kalinya seseroang mengatakannya dengan sebutan pesuruh.
Ayunda yang melihat perubahan raut wajah Tony, langsung mengajaknya meninggalkan tempat itu.
"Ayo, kita pergi dari sini. Tidak ada gunanya bicara dengan orang yang tidak punya hati!" seru Ayunda.
"Lihatlah Reina... dia bukan sahabat sejatimu. Buktinya dia sama sekali tidak mau mengorbankan apa yang aku minta, pada hal itu demi papamu", ucap Sherly dengan sengaja membuat Reina marah. Namun Reina langsung beranjak dari tempat itu, dia berlari dengan terburu-buru meninggalkan Ayunda dan Tony.
"Reina... Reina... tunggu!" seru Ayunda sambil mengejarnya, yang diikuti oleh Tony dari belakang.
"Biarkan saja, Non. Nanti kita coba cari solusinya", tutur Tony saat mereka tidak berhasil mengejar Reina.
__ADS_1
Apa aku serahkan saja apa yang diminta Sherly. Biar semua masalah selesai. Batin Ayunda.