Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Ferdo kembali mengingat


__ADS_3

Happy Reading 😊


🌸🌸🌸


Mobil yang mereka kendarai tiba berhenti tepat di parkiran apartement Adrian. Perjalanan yang sangat melelahkan, karena di tempuh dalam satu hari itu, tak ayal membuat Ayunda berwajah murung. Guratan di wajahnya menyiratkan ketidakpuasan Ayunda pada keputusan yang di buat oleh sang kakak. Keinginan sang kakak yang bertentangan dengan apa yang diinginkan Ayunda, membuatnya ke luar dari dalam mobil tanpa menyapa Ferdo/Alfian yang baru saja ke luar dari dalam mobil.


"Yunda... " panggil sang kakak saat melihat Ayunda berjalan cepat menuju lift.


Sang bunda menghampiri Adrian yang mulai gusar, karena telah membuat sang adik merajuk. "Kamu yang sabar, ya. Nanti bunda coba bujuk dia", tutur sang bunda sambil menepuk pundak Adrian. "Ayo, kita naik", ajak sang bunda dengan menggandeng tangan putra satu-satunya itu.


Ferdo berpamitan pada Adrian dan sang bunda, karena pikirannya tidak tenang saat kembali mengingat kejadian 12 tahun yang lalu.


"Kenapa buru-buru. Istirahat di sini saja dulu", pinta Adrian, karena dia tahu sahabatnya itu pasti sangat kelelehan.


"Lain waktu saja. Kalau begitu saya pamit ya, Tante... Adrian", ucapnya dengan tersenyum ramah pada Adrian dan sang bunda, lalu masuk ke dalam mobil.


Adrian bergeming menatap kepergian kendaraan Ferdo. Sorot matanya yang sendu, karena perasaan iba Adrian akan kejadian yang terjadi pada orang tua sahabatnya itu, meskipun itu terjadi 12 tahun yang lalu. "Aku akan membantumu, Bro." Adrian bergumam, lalu dia melanjutkan langkahnya bersama sang bunda menuju lift.


*


Air mata Ferdo yang sudah di tahannya sejak pulang dari rumah orang tua Adrian di desa, kini jatuh dengan bebas, membasahi ke dua pipinya. Dia sungguh tidak percaya, kalau pria yang ada di dalam foto itu adalah ayah Adrian dan Ayunda.


"Kenapa...? Arggh... " Ferdo menggeram membuat sang supir ketakutan.


"Tuan... Tuan... " panggil sang supir dengan panik. "Ada apa, Tuan?" tanyanya sambil menepikan kendaraan, namun Ferdo hanya menangis tanpa menjawab pertanyaan sang supir.


"Kenapa berhenti? Ayo, jalan!" sergah Ferdo masih dengan berlinang air mata.


Sang supir melajukan kembali kendaraan, menyusuri jalanan yang menuju apartement sang bos. Namun rasa khawatirnya pada sang bos, membuatnya sesekali melirik ke kaca spion dalam mobil, untuk memastikan sang atasan baik-baik saja.


Hanya butuh waktu dua puluh menit kendaraan Ferdo tiba di basement. Ferdo langsung ke luar dari dalam mobil, lalu berjalan buru-buru menuju lift.


Ting.


Ferdo menundukkan kepalanya menunggu orang yang akan ke luar dari dalam lift. Dia tak ingin ada yang melihat matanya yang memerah, karena tadi menangis di dalam mobil.

__ADS_1


"Ferdo!" Suara seorang wanita yang baru saja ke luar dari dalam lift membuatnya terkesiap, karena suara itu tidak asing lagi di telinganya. "Kau baru pulang?" tanya Siska, wanita yang tadi berteriak, sehingga mengalihkan perhatian beberapa orang yang baru saja ke luar dari dalam lift.


Ferdo bergeming, tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Siska mencoba mendekati Ferdo, namun Ferdo mengelak. Dia langsung berjalan menuju pintu lift yang akan tertutup.


"Eh... Fer- " ucapannya terputus saat Ferdo melongos masuk ke dalam lift. "Tung - " Lagi-lagi Siska tidak sempat melanjutkan ucapannya, karena pintu lift sudah tertutup.


"Cih, Kau pikir aku sudi bertunangan dengan pria sepertimu!" seringai Siska. " Lihatlah apa yang akan terjadi nanti!" ucapnya dengan tatapan sinis.


*


Ferdo yang sudah menyelesaikan ritual mandinya berjalan menuju balkon setelah mengenakan pakaian santai. Ferdo berdiri sambil memandang nanar langit yang bertaburan bintang.


"Kata Winda... salah satu bintang itu mewakili orang tua kita", ucapnya dengan tersenyum. "Hem, dasar pecinta drakor." Ferdo mendengus dengan cepat seakan semua masalahnya terbuang bersamaan dengan hembusan nafasnya.


"Tapi gak ada salahnya, barang kali bisa melepas rasa rinduku." Ferdo berbicara sendiri dengan menatap ke langit sambil memilih bintang. "Nah, itu yang sangat terang papa, dan di sebelahnya mama", ucapnya dengan tersenyum. "Hai Pa... hai Ma", sapanya dengan mata nanar. "Aku rindu kalian Pa... Ma." Ferdo tak ingin mengalihkan perhatiannya pada dua bintang yang sudah di pilihnya tadi.


Namun beberapa menit berlalu, akhirnya Ferdo memejamkan matanya sambil menengadah menikmati hembusan angin malam. Tiba-tiba setetes air membasahi wajahnya. Ferdo membuka matanya dan kembali memandang langit. "Ada bintang, tapi kenapa ada air hujan?" Ferdo mengusap wajahnya dengan bingung. Lalu dia kembali masuk ke dalam kamarnya, karena hawa dingin mulai menusuk ke dalam tulangnya.


*


"Maaf Kak. Lebih baik kakak berfikir aku masih marah", ucapnya dari balik pintu.


Ayunda berjalan, lalu meraih ponsel yang terletak di atas nakas, setelah mengunci pintu kamarnya. Lalu dia mengotak atik ponselnya untuk mencari nomor yang dia simpan tadi siang.


Tutt... Tutt...


Suara panggilan terhubung, dengan sabar Ayunda menunggu seseorang dari seberang telepon sana agar segera menyahut panggilannya.


"Hallo, Bu de", sahut Ayunda dengan semangat saat Bu Arsih mengatakan hallo dari seberang telepon. "Apa Yunda mengganggu Bu de?" tanya Ayunda yang menduga Bu Arsih pasti sudah berada di kamar dan akan segera tidur.


"Oh, Yunda gak ganggu Bu de, kok. Ada apa nelpon malam-malam gini?" tanya bu Arsih yang mulai penasaran.


"Ehm, Yunda mau ngabarin, kalau kami semua sudah sampai dengan selamat", balas Ayunda dengan tertawa kecil.


"O, syukurlah... Bu de kira ada hal apa sampai Yunda nelpon malam gini. Bunda kamu mana, Nak?" tanya bu Arsih berbasa basi.

__ADS_1


"Hem, bunda di dalam kamarnya Bu de. Mungkin lelah karena melakukan perjalanan pulang pergi", jawab Ayunda berbohong.


"Kasihan bunda kamu. Bu de juga heran, kenapa kalian tidak menginap saja tadi", ucap bu Arsih masih dari seberang telepon.


Ada jeda di sela pembicaraan mereka. Ayunda sedikit ragu menanyakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Yunda... bu de suka lho, gamis pemberian bunda kamu. Warnanya bagus", ucap bu Arsih memecah keheningan di sela pembicraan mereka.


"Syukurlah kalau Bu de suka. Hem, Bu de... Yunda mau tanya sesuatu", ujar Ayunda sambil menggigit bibir bawahnya.


"Ya, apa tu, Nak? Bu de pasti jawab, kalau bu de bisa, Yunda mau tanya apa?" Bu Arsih menyahut dengan ramah.


"Anu... itu Bu de." Ayunda kembali ragu mengutarakannya. "Apa bu de tahu di mana Ayah tinggal sekarang?" pertanyaan itu berhasil lolos dari bibir mungilnya.


Bu Arsih bergeming mendengarkan pertanyaan Ayunda. Jantungnya berdebar kencang saat mengingat pesan dari ayah Ayunda, agar tak seorang pun dari keluarganya di beritahu di mana keberadaannya.


"Apa Yunda kangen sama ayah?" tanya bu Arsih dari dengan nada lembut.


"Ya, bu de", balas Ayunda lirih.


"Hem, nanti bu de cari tahu", suara bu Arsih dari ujung telepon.


"Berarti bu de gak tahu di mana ayah sekarang?" tanya Ayunda dengan nada kecewa.


"Saat ini belum, bu de gak tahu nanti." Bu Arsih mencoba menenangkan Ayunda. Dia akan bertanya terlebih dulu pada kerabat jauhnya itu.


"Oke, Bu de. Tapi tolong rahasiakan dari bunda, kalau Yunda menanyakan hal ini ke Bu de", pinta Ayunda yang tak ingin sang bunda bersedih.


"Baiklah, Nak", balas bu Arsih dari seberang telepon.


"Terima kasih, Bu de. Kalau gitu, Yunda tunggu kabar baik dari Bu de."


"Oke, Yunda. Kamu istirahat ya, doakan semoga bu de berhasil menemui ayahmu", ucap bu Arsih.


"Ya, Bu de", balas Ayunda.

__ADS_1


Lalu mereka saling memutus sambungan telepon setelah mengucapkan salam.


__ADS_2