Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Ayunda bertemu seorang ibu


__ADS_3

Happy Reading 😊


Maafkan otor lama tak update karena sakit. Ini otor usahakan update walaupun belum pulih total.


🌸🌸🌸


"Huft... huft... "


"Kemana dia pergi?" ucap seorang pria berbadan seperti bodyguard saat berada di persimpangan jalan. "Ayo kejar ke arah sana! Mengejar wanita tua saja kalian tidak bisa!" seru seorang pria berbadan bodyguard yang terlihat seperti pemimpin di antara para bodyguard.


"Ba- baik, Pak", balasnya dengan buru-buru sambil berlari, lalu diikuti yang lainnya dari belakang.


"Huft... huft... "


Brakkk


"Aww... " ringis mereka bersamaan, karena saling menabrak, bahkan mereka pun berdiri hampir bersamaan.


"Ibu!" seru Ayunda saat baru saja menatap jelas wajah wanita yang telah di tabraknya. "Kenapa Ibu lari terburu-buru?" tanyanya sambil mengernyitkan keningnya saat melihat sang ibu terus menoleh ke belakang.


Sang ibu hanya diam, tanpa mengucapkan sepatah kata. Dia menatap Ayunda penuh arti. Lalu menarik paksa tangan Ayunda untuk bersembunyi di sebuah lorong sempit.


"Ibu, kenapa?" Ayunda kembali bertanya masih dengan mengkerutkan keningnya, karena bukannya sebuah jawaban yang dia dapatkan malahan sang ibu membawanya untuk bersembunyi.


Dengan buru-buru sang ibu meletakkan jari telunjuk tepat di bibirnya sendiri seraya berkata. "Siiit, jangan bicara", ucapnya dengan berbisik. Entah kenapa Ayunda menuruti omongan sang ibu, meskipun dia masih menatap dengan penuh tanya.


Namun tiba-tiba terdengar sayup suara bariton beberapa orang pria dengan nafas yang memburu. "Aargghh... Kita kehilangan jejaknya!" teriak seorang pria tegap yang terlihat seperti pemimpin di antara para pria pengejar itu dengan nada frustasi.


"Bos, kita coba ke arah sana! Dia pasti tidak jauh dari sini!" seru salah seorang dari mereka.

__ADS_1


"Apa Kau yakin!" balas sang bos dengan mendesah kesal. "Hanya seorang wanita tua saja, kita tak bisa menangkapnya!" ucapnya kembali dengan nada tak ramah.


"Bos, lebih baik kita berpencar, saja!" usul salah satu di antara pria itu, dan di sepakati oleh sang bos dan rekan yang lainnya dengan menganggukkan kepala. Mereka pun berpencar, untuk mencari ibu paruh baya itu.


*


Setelah beberapa menit dan di rasa aman karena tidak terdengar lagi suara para pengejar itu, sang ibu ke luar dari persembunyiannya bersamaan dengan Ayunda. Ayunda yang sedari tadi bingung dan banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepalanya, langsung angkat bicara.


"Mereka siapa, Bu? Kenapa mereka mengejar ibu? Dan kenapa juga kita harus bersembunyi?" Ayunda mencecar banyak pertanyaan pada sang ibu.


Sang ibu menghela nafas panjang sebelum menjawab semua pertanyaan Ayunda. "Maaf Nak. Aku jadi melibatkanmu", balasnya masih dengan mengatur nafasnya.


"Iya, tidak apa-apa Bu. Hanya saja kenapa mereka mengejar ibu?" tanyanya dengan tidak sabar.


"Ibu mau menjelaskan, tapi tidak di sini", balas sang ibu sambil mengedarkan pandangannya, barangkali para pria yang mengejarnya masih berada di sana.


Ayunda mengangguk dengan cepat. "Oke, Bu. Mari kita cari tempat yang aman", balas Ayunda.


*


Di tempat berbeda sedang berlangsung sebuah acara persidangan kasus tabrak lari yang pelakunya tak lain adalah ayah dari Adrian dan Ayunda. Sejak dari tadi Adrian memegang erat tangan sang bunda yang membeku selama mengikuti acara persidangan. Beberapa bukti yang benar-benar menujukkan bahwa sang ayah adalah pelakunya telah membuat sang bunda ketakutan, bahkan debaran jantungnya tak beraturan karena menduga bahwa sebentar lagi sang mantan suami akan di mendekam dalam penjara seumur hidupnya.


"Bunda tenang, ya. Ini belum ada keputusan", ucap Adrian dengan setengah berbisik. Sang bunda hanya membalas dengan menatap Adrian tanpa sepatah kata. Lalu dia kembali memperhatikan jalannya sidang yang sangat meneganggkan. Hingga akhirnya sang hakim menundanya selama satu minggu.


Adrian mengusap kasar rambutnya, saat sang hakim baru saja menyatakan sidang di tunda sampai satu minggu ke depan.


"Bagus dong di tunda!" seru sang bunda yang merasa bingung saat melihat ekspresi Adrian yang tidak senang dengan keputusan Hakim. "Kita jadi punya waktu untuk mencari buktinya", ucap sang bunda melanjutkan. Sang bunda berfikir bahwa dengan adanya bukti, maka sang ayah akan segera bebas.


"Semoga ini yang terbaik", ucap Adrian dengan tertunduk lesu.

__ADS_1


Sang bunda menatap Adrian dengan tersenyum. "Jangan khawatir, ini pasti yang terbaik", seru sang bunda. Adrian mendongak, sambil menatap sang bunda dan menarik paksa kedua sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan senyuman.


"Ya, Bun", balasnya dengan anggukan.


Adrian dan sang bunda kemudian pulang, meninggalkan ruang persidangan. Namun ada mata yang memandang dengan tatapan tak suka dari kejauhan.


*


"Apa? Aku tidak mau, Kek!" seru Ferdo yang hampir saja membanting ponsel di tangannya. Dari seberang telepon sang kakek menegaskan bahwa dia harus tetap setuju, karena keputusan sang kakek tidak dapat di bantah lagi.


"Tapi, Kek... " ucapan Ferdo terputus saat dia baru saja akan membalas ucapan sang kakek, karena sang kakek menyanggah ucapannya.


"Dia punya pacar, Kek!" seru Ferdo, namun sang kakek membantahnya dengan mengatakan bahwa Siska sudah tidak berhubungan lagi dengan pacar yang di katakan oleh Ferdo. Sang kakek juga mengatakan bahwa dia telah bertemu dengan pria itu dan memastikan bahwa pria itu hanya ingin mengincar harta Siska. Pria itu juga telah berjanji tidak akan mengganggu Siska lagi.


Ferdo mendesah frustasi, karena ucapan sang kakek tak dapat di bantahnya. Dia pun pasrah dengan keputusan yang telah di buat oleh sang kakek. Setelah memutus sambungan teleponnya, Ferdo mencoba menghubungi seseorang untuk menyusun sebuah rencana. Karena dia berfikir untuk saat ini dia tak dapat melawan, lebih baik dia mengikuti dulu keinginan sang kakek.


***


"Itu dia!" teriak pria pengejar itu, saat melihat sang ibu paruh baya sedang berjalan dengan tergesa-gesa bersama Ayunda.


"Ayo, lari Nak! Jangan sampai mereka juga menangkapmu!" teriak sang ibu sambil menyodorkan lipatan kertas kecil pada Ayunda. "Cepat pergilah! Jangan hiraukan ibu!" seru sang ibu dengan berlari berlawanan arah dengan Ayunda. Ayunda pun berlari sekencangnya menghindari sang pengejar.


"Jangan hiraukan gadis itu! Kejar wanita tua itu saja!" teriak pemimpin para pengejar dengan nada keras, saat melihat salah seorang anggotanya hendak mengejar Ayunda.


"Baik bos", balasnya sambil memutar haluannya mengejar sang ibu.


*


"Huft... huft... Aku rasa di sini sudah aman", ucap Ayunda saat berada di keramaian. Sebenarnya hari ini dia hanya ingin mencari jalan tikus untuk bisa sampai ke halte perhentian busway yang akan menuju ke rumahnya. Siapa sangka dia malah bertemu dengan pria yang berbadan kekar.

__ADS_1


"Aku tak akan pernah mencoba jalan tikus lagi", gumamnya saat baru saja menaiki busway. Ayunda duduk di salah satu bangku yang kosong sambil memperhatikan ke sekeliling, barangkali pria berbadan kekar itu mengikutinya ke dalam busway. Namun dia tidak menemukan ada pria yang mencurigakan. Ayunda pun bernafas lega sambil melihat benda kecil yang ada dalam genggamannya.


"Apa ini?" gumamnya.


__ADS_2