Mengejar Cinta Di Masa Lalu

Mengejar Cinta Di Masa Lalu
Kebahagiaan Siska


__ADS_3

Ting.


Winda melangkah ke luar dari dalam lift. Dia berjalan sambil bersenandung menyusuri lorong apartemennya.


Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar…


Suara parau Winda mengisi lorong sunyi apartemen. Seseoramg yang baru saja ke luar dari apartemennya memandang Winda sambil menyunggingkan senyumannya.


"Artis lorong, ya", ucapnya sambil memberi jempol.


"Biarin, wek", sahut Winda dengan bertingkah kekanakan seakan tidak peduli dengan julukan yang baru saja disematkan untuknya. Lalu dia terus berjalan mengabaikan pria yang berjalan sambil meniru gaya bernyanyi Winda.


"Awas, lo", ancam Winda dengan menunjukkan kepalan kecil tangannya pada pria yang belum dikenalnya itu.


Ceklek.


Winda menghentikan langkahnya saat mendengar suara pintu apartemen Alfian di buka. Netranya fokus pada pintu sambil menantikan orang yang akan ke luar dari pintu apartemen Alfian.


"Hai Winda", sapa Siska dengan senyum yang mengembang saat manik mata mereka bertemu. Alfian yang berada tepat di belakang Siska hanya diam mengikuti langkah Siska sambil mendorong 2 travel bag, lalu menutup pintu.


"Kalian mau kemana?" tanya Winda sambil melihat travel bag di tangan Alfian.


"Harusnya kau ucapkan selamat dulu, dong", ucap Siska dengan tersenyum bahagia.


"Cih, untuk apa?" cibirnya dengan rasa kesal, mendengar suara saudara sepupunya itu saja dia malas, apalagi mengucapkan selamat.


Siska mengelus lembut perutnya yang masih rata. "Karena tidak lama lagi kau akan jadi bibi."


Winda terkesiap, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Alfian yang masih tetap diam. "Jadi itu benar?" tanyanya. Alfian hanya mengangguk, tanpa mengucapkan sepata kata.


Winda yang tidak puas dengan jawaban Alfian, kembali memastikan kebenarannya pada Siska. "Kau yakin ini anak Alfian?" sangkalnya.


Siska yang merasa dicurigai langsung menggayut mesra tangan Alfian. "Kau masih tidak percaya?" tanyanya dengan tersenyum. Alfian bergeming, sorot matanya dia buang ke sembarang arah.


Winda pun semakin curiga karena sedari tadi Alfian bertingkah sangat aneh. "Jelas aku tidak percaya. Emangnya aku melihat saat kau dan Alfian melakukannya", sahut Winda mengejek.


Siska melepas tangannya dari Alfian. "Itu terserah kau", tunjuk Siska di depan wajah Winda. "Apapun yang kau katakan itu tidak akan mengubah status anak ini." Siska menahan emosinya sambil mengusap lembut perutnya. Hampir saja Siska menarik rambut Winda untuk melampiaskan kemarahannya.


"Ayo, kita pergi sayang", ucap Siska dengan menggayut kembali tangan Alfian.


Alfian tidak membantah bahkan menghindar dari setiap sentuhan Siska. Perlakuannya pada Siska seperti seorang suami siaga yang sangat berhati-hati menjaga kehamilan sang istri.


"Ayo, sayang", balas Alfian dengan tersenyum kaku.


"Ada apa ini?" gumam Winda. "Apa aku sedang bermimpi?" Winda mencoba memastikan dengan mecubit tangannya. "Aww..." ringisnya. "Ternyata bukan mimpi."


"Bye", ucap Siska dengan tersenyum mengejek.


Winda hanya diam sambil memandang kepergian Alfian dan Siska dengan segudang tanda tanya di dalam benaknya.

__ADS_1


***


Di dalam kamar Ayunda.


Hampir 1 jam lamanya Ayunda duduk di depan meja riasnya. Kapas ditangannya seakan kelelahan saat tangan Ayunda berulang kali mengusap lembut wajahnya. Dalam benaknya dia masih memikirlan perkataan Winda yang mengatakan bahwa Alfian dan Siska tidak seperti pasangan suami istri. Mereka seperti sedang melakukan pernikahan kontrak.


"Apa iya?" Ayunda sesekali menghentikan tangannya. "Tapi kenapa?" Ayunda mengkerutkan keningnya mencoba memikirkan alasan mereka menikah. Tiba-tiba saja matanya terbeliak. "Oh, iya", serunya sambil beranjak dari tempat duduknya. Lalu berjalan ke luar kamar.


"Kak... Kakak..." panggil Ayunda sambil menyusuri setiap sudut ruangan rumahnya.


"Ada apa, nak?" tanya sang bunda.


"Bunda lihat kak Adrian?" tanyanya sambil celingak celinguk.


"Apa kamu lupa, nak?" Sang bunda pun mencoba mengingatkan Ayunda.


Ayunda terdiam sejenak. "Oh, iya. Yunda baru ingat, bun. Kak Adrian lagi mengantar kak Winda", sahutnya. "Kalau gitu Yunda ke kamar dulu ya, bun."


Sang bunda menggelengkan kepalanya sambil menatap Ayunda yang berlari hingga di depan pintu kamar.


Sang ayah pun datang menghampiri istrinya itu. "Ada apa, bun?" tanyanya.


"Yunda, dari tadi nyariin Adrian, yah."


"Oo, kirain ada apa. Tadi ayah dengar teriakan Yunda."


"Assamualaikum ayah, bunda..." Adrian tiba-tiba datang menghampiri ayah dan bundanya.


"Waalaikumsalam..." balas sang ayah dan bunda bersamaan.


"Ayah sama bunda kayaknya serius amat. Lagi ngomongin apa?" Adrian menjulurkan tangannya meraih kentang goreng di atas meja.


"Cuci tangan dulu."


"Iya, maaf bun." Adrian mengatupkan tangannya. Namun tiba-tiba dia meraih kembali kentang goreng, lalu berlari cepat dengan cengiran kuda.


Sang bunda menggelengkan kepalanya. "Adik dan kakak sama saja", ujar sang bunda.


Sang ayah yang sedari tadi melihat tingkah Adrian, hanya bisa tersenyum sambil meraih kentang goreng di atas meja.


"Ayah juga", seru sang bunda yang membuat suaminya itu terlonjak kaget.


"Salah ayah apa, bun?" tanyanya bingung.


"Kenapa ayah diam saja, harusnya ayah juga marahin anaknya." Sang bunda tak terima menanggung kekesalannya sendiri.


Memang wanita selalu benar, batin ayah.


***


Di dalam kamar Ayunda berulangkali menghentikan jarinya untuk menekan tombol memanggil di layar ponselnya.


"Telpon gak, ya", gumamnya. Setelah berfikir sesaat, Ayunda kembali mengurungkan niatnya. "Ah, enggak. Nanti dia merasa paling dibutuhkan lagi."


Ayunda meletakkan kembali ponsel ditangannya di atas meja, saat ini egonya lebih unggul dari rasa penasarannya. Kemudian dia naik ke atas tempat tidur, lalu membaringkan tubuhnya yang lelah seharian berada di pembukaan restoran sang bunda.

__ADS_1


Tok... Tok...


Suara ketukan pintu menghentikan tangan Ayunda menarik selimutnya.


"Yunda...", panggil Adrian dari balik pintu.


"Ada apa, kak?" tanya Ayunda saat pintu terbuka sebagian.


Adrian mengernyitkan keningnya. "Lha, tadi kata bunda kamu yang mencari kakak. Ada apa?" Adrian menunggu jawaban Ayunda dengan menaik turunkan alisnya.


Ayunda refleks menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil berfikir. "Ehm, Yunda lupa, kak. Yunda coba ingat-ingat dulu, ya. Udah ngantuk, nih." ujar Ayunda, lalu menutup kembali pintu.


Lidah Adrian seakan tercekal saat melihat pintu ditutup. Lalu dia mengangkat tangannya mencoba mengetuk kembali, namun dia urungkan. "Ya, sudahlah", ucapnya, lalu beranjak pergi.


***


Malam ini di bandara Internasional Alfian dan Siska menunggu pesawat yang akan membawa mereka menuju Paris, tempat tinggal orang tua Siska sekaligus tempat kerja baru bagi Alfian. Sang kakek telah meminta Alfian membantu pekerjaan yang ada di sana, karena paman angkatnya tidak mampu melakukan pekerjaan itu.


"Sayang, aku kedinginan", ucap Siska sambil bersidekap.


Alfian berdiri dari tempat duduknya, lalu membuka jaketnya dan mengenakannya di tubuh Siska.


"Terimakasih, sayang." Siska tersenyum saat mendongak. Wajah tampan Alfian berada tepat di atasnya. Bau nafas mint Alfian menyeruak masuk melalui pernafasan Siska. Bahkan nafasnya saja sangat segar, batinnya.


Alfian tidak membalas ucapan Siska. Dia duduk kembali sambil melihat ke layar monitor jadwal keberangkatan. Entah apa yang ada di dalam pikiran Alfian saat ini, Siska tidak tahu dan tidak mau tahu. Dia hanya ingin Alfian peduli akan kehamilannya, itu saja sudah cukup baginya.


"Ayo..." Alfian membuka suaranya setelah 1 jam kebersamaannya dengan Siska.


Siska pun beranjak dari tempat duduk menuju gate yang telah disebutkan operator. Dengan penuh semangat dan wajah yang ceria Siska berjalan mengiringi langkah Alfian. Namun tiba-tiba ponsel Siska berbunyi, matanya terbelalak saat membaca nama yang muncul di layar ponselnya. Senyumannya pun berangsur pudar. Dengan cepat dia menggeser tombol merah, lalu menonaktifkan ponselnya.


Alfian langsung menoleh ke arah Siska saat dia mendengar nada dering ponsel Siska, namun tidak mendengar Siska menjawab sambungan telpon itu.


"Siapa?" tanyanya singkat.


"Papa", jawab Siska berbohong. "Sebentar lagi pesawat akan takeoff", lanjutnya saat mendapat tatapan mencurigakan dari Alfian. "Aku bisa menghubunginya saat kita tiba nanti." Siska tersenyum untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


Alfian hanya diam dan melanjutkan langkahnya masuk ke dalam pesawat.


Ternyata selain tampan dia juga mengerikan, batin Siska.


***


Di sebuah ruangan yang minim penerangan, seorang pria dengan emosi melempar kasar ponsel ditangannya.


"Arrggg..." teriakannya memenuhi ruangan itu. "Dari mana lagi aku mencari uang", ucapnya gusar. "Dasar p***** ." Dia terus mengumpat sambil melempar barang-barang yang dapat dijangkaunya, hingga keadaan ruangan itu seperti terkena bencana.


Ting. Tong.


Suara bel berbunyi menghentikan tangannya untuk melempar sesuatu yang masih digenggamnya. Dengan malas dia melangkahkan kakinya untuk melihat siapa yang sudah bertamu di rumahnya pada malam ini.


"Sia... " ucapannya menggantung saat imelihat seseorang yang sedang berdiri dihadapannya.


***


Di tempat lain di dalam kamar Adrian dipenuhi dengan suara nada dering ponselnya sendiri.

__ADS_1


"Siapa, sih?" Adrian berdecak kesal, karena seseorang telah menghubunginya berkali-kali saat dia sedang melakukan ritual mandinya. Adrian mengusap kasar rambut basahnya dengan handuk di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk mengotak-atik ponsel. Matanya terbelalak saat melihat begitu banyak panggilan masuk.


Lalu dia segera menghubungi seseorang yang sudah mengusik ritual mandinya itu.


__ADS_2