
Alfian sedang mengenang masa indah saat mereka menjadi sepasang kekasih. Dia sengaja melewati.jalan yang pernah mereka lalui saat akan mengantar Ayunda pulang.
Ayunda tak membantah sama sekali meskipun itu akan membuat perjalanannya pulang semakin bertambah jauh.
"Apa kau masih suka mendengar lagu ini?" tanya Alfian saat sedang memutar lagu kesukaan Ayunda.
Ayunda membalas dengan berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
"Semua hal tentangmu tidak ada yang pernah aku lupakan", ujar Alfian yang membuat Ayunda terdiam, namun tidak dengan pikirannya.
"Apa kau masih memikirkan masalah Dafa?" tanya Alfian dengan melirik Ayunda sekilas.
Ayunda langsung menoleh. "Dari mana kakak tahu masalah Dafa?"
"Winda yang memberitahu kakak, karena dia meminta bantuan kakak untuk menyelidiki kebenarannya", ucap Alfian yang masih fokus menyetir.
Ayunda menarik kembali pandangannya. Suara dengusan kasarnya pun terdengar oleh Alfian, lalu dia membuang jaih pandangannya ke luar kaca depan mobil. "Kakak ipar juga meminta bantuan mas Tony., tapi bebarapa rekaman CCTV sulit didapatkan oleh mas Tony."
Alfian tampak diam, namun tidak dengan pikirannya. "Kakak akan membantumu dengan semua cara terbaik yang kakak miliki, sampai pelaku sebenarnya terungkap."
"Aku percaya sama ucapan kakak", ujar Ayunda dengan tenang yang berhasil membuat Alfian tersenyum bahagia.
"Terimakasih sudah percaya sama kakak. Kakak tidak akan mengecewakanmu", ucap Alfian sembari menepikan kendaraannya di depan gerbang masuk menuju apartemennya.
"Kenapa kita kemari?" tanya Ayunda saat melihat tempat yang tak asing lagi baginya.
"Aku ingin menjamu kamu, karena sudah lama sekali kita tidak saling bertemu, jadi kakak ingin mendengarkan kisahmu selama di luar negeri."
Ayunda pun pasrah, karena tak memungkinkan untuk dia pergi dari tempat itu.
"Ayo turun", ajak Alfian saat baru saja membuka pintu mobil. Ayunda pun keluar dari dalam mobil.
"Siapa saja yang tinggal bersama dengan kakak?" tanya Ayunda saat menutup kembali pintu mobil.
Alfian menatap Ayunda dengan tersenyum penuh arti. "Kenapa bertanya seperti itu? Apa Yunda ingin tinggal bersama dengan kakak?" godanya.
Wajah Ayunda seketika merona. "Yunda hanya pengen tahu aja kak. Kalau kakak gak mau kasi tahu Yunda juga gak apa-apa", ucapnya dengan membuang pandangannya. Lalu mereka berjalan masuk ke dalam lift yang sedang terbuka lebar.
__ADS_1
"Kakak kan gak ada bilang, kalau kakak gak mau kasi tahu kamu", balas Alfian dengan tersenyum.
"Sebenarnya kakak tinggal bareng Zahra, dia itu sangat merindukan sosok seorang ibu. Meskipun dia bukan putri kandungku, tapi aku akan tetap akan merawatnya. Apa Yunda akan keberatan dengan keberadaan Zahra dalam rumah tangga kita nanti?"
Ayunda terkesiap saat mendengar perkataan Alfian. Lalu dia menoleh ke arah Alfian.
"Aku memang ingin menjadikanmu istriku, makanya aku memberitahumu di awal mengenai keberadaan Zahra", ujar Alfian saat pintu lift kembali terbuka sesuai urutan lantai yang mereka tuju. Alfian dan Ayunda langsung berjalan keluar dari dalam lift. Langkah mereka pun sejajar saat berjalan menuju apartemen Alfian.
Alfian langsung memasukkan password kunci apartemennya. Setelah terbuka Alfian mengajak Ayunda masuk ke dalam.
"Papa..." teriak Zahra memanggil Alfian. Lalu dia berlari menghamburkan diri memeluk sang papa.
"Apa Zahranya papa sudah mandi?" tanya Alfian sembari mencium tubuh putri cantiknya itu.
"Sudah dong pa. Kan sudah wangi", sahut bibir mungil Zahra.
"Um, iya sudah wangi. Berarti papa dong yang belum mandi", ucap Alfian yang membuat Zahra terkekeh. Ayunda tersenyum lebar saat melihat keakraban keduanya.
"Zahra ingat dengan tante ini?"
"Iya, sayang. Zahra mau kan tante ini jadi mama Zahra?"
Pertanyaan Alfian berhasil membuat Ayunda mendelik. Sedangkan Zahra bereaksi lain.
"Mama Ara cuma 1, gak boleh diganti-ganti", ucapnya dengan nada marah.
"Bukan seperti itu sayang. Mama Zahra kan sudah tidak disini lagi dan tak akan kembali. Jadi..."
"Tidak mau. Mama Ara sudah ada. Gak mau lagi yang lain."
Baru saja Alfian berencana untuk menikmati makan bersama layaknya keluarga lengkap. Namun harus dia urungkan karena Zahra belum mengerti maksud ucapan Alfian.
Ayunda berjalan menghampiri Zahra. "Hai Zahra", sapa Ayunda, namun Zahra membuang mukanya.
"Tante juga sama seperti Zahra punya ibu cuma 1, gak ada duanya. Bedanya sekarang mamanya Zahra tempatnya tidak di sini lagi, melainkan di tempat terbaik di sisi Allah."
Zahra akhirnya menoleh ke arah Ayunda. "Kalau mamanya tante di mana?"
__ADS_1
"Mamanya tante ada. Dia masih di sini, dekat dengan tante."
"Kalau gitu tante enak dong. Gak kayak Ara."
Ayunda kembali menjawab perkataan Zahra itu. Mereka berbincang semakin dekat hingga tak terasa Zahra sudah berada di dalam pangkuan Ayunda. Zahra tampak sangat menikmati percakapannya dengan Ayunda.
"Pa, Ara suka mama seperti tante ini", ucap bibir Zahra yang membuat Alfian berlonjak kegirangan.
"Terimakasih sayang." Alfian langsung mengecup kening dan pipi Zahra berkali-kali. Sesaat kemudian dia berhenti mencium Zahra. "Kalau begitu, Zahra harus membujuk tante ini supaya mau jadi mamanya Zahra."
Zahra menatap ke arah Ayunda. "Tante maukan?" tanya Zahra to the point yang membuat Ayunda kelabakan.
"Nanti tante kasi jawabannya ya", balas Ayunda sembari menatap tajam ke arah Alfian.
Tak berselang lama, makanan pesanan Alfian pun datang. Mereka langsung menikmati makanan itu bersama-sama di meja makan. Di sela menikmati makanan Alfian tersenyum bahagia saat melihat Ayunda menyuap Zahra dengan telaten. Dia terlihat sangat keibuan, batin Alfian.
---
Di rumah kediaman Ayunda tampak keluarganya sedang berkumpul saat sebuah surat dari pihak kepolisian kembali mereka terima. Mereka kuatir saat akan membuka isi surat itu.
"Apa isi suratnya?" tanya sang bunda dengan tidak.sabar.
"Ini surat panggilan kedua, bun. Mungkin sudah ada perkembangan penyelidikan kasus itu."
"Apa Yunda kita akan ditangkap?" tanya sang bunda dengan rasa cemas.
"Tidak bun, karena Yunda kita bukan status tersangka."
"Apa Yunda akan jadi tersangka?"
Pertanyaan sang bunda seakan tak ada habisnya membuat Adrian sedikit jengah. "Bun, lebih baik kita mendoakan agar Yunda kita tidak dijadikan sebagai tersangka."
Sang bunda menganggukkan kepalanya. Lalu netranya melihat jam dinding. "Bunda mau sholat dulu", ujarnya yang mulai gusar saat mengetahui bahwa Ayunda bisa saja jadi tersangka. Sang bunda melangkahkan kakinya menuju kamar, sang ayah pun ingin melakukan hal.yang sama. Dia mengikuti sang istri masuk ke dalam kamar.
Adrian meletakkan surat panggilan itu di atas meja. Lalu dia menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa sembari menyandarkan punggungnya.
"Pa, ayo sholat", ajak Winda saat mendengar dari dalam kamar bahwa kedua mertuanya itu akan melakukan kewajibannya.
__ADS_1