
Happy Reading π
πΈπΈπΈ
Ayunda berjalan dengan langkah gontai ke luar dari kantin, saat beberapa menit yang lalu Ferdo dan Adrian meninggalkannya sendiri. Tiba-tiba seseorang yang berjalan di belakang Ayunda menepuk pundaknya, membuat Ayunda terlonjak kaget.
"Eh, Alfian!" ucap Ayunda latah sambil menoleh pada pria yang mengagetkannya.
"Siapa Alfian?" tanya Dafa dengan mengernyitkan keningnya. "Kau latah menyebutkan namanya, berarti Kau sedang memikirkannya?" tanya Dafa yang terus mencecar Ayunda.
"Maaf, Daf. Itu bukan urusanmu", sahut Ayunda dan langsung meninggalkan Dafa yang terdiam saat mendengar jawaban Ayunda.
"Ay... Ay", panggil Dafa tiada henti, namun Ayunda tak menghiraukannya. Ayunda terus berjalan menjauhi Dafa.
"Kenapa sikapmu berubah, Ay?" gumamnya dengan wajah sendu. Lalu Dafa membalikkan badannya, betapa kagetnya dia, saat bertemu dengan seorang wanita yang selalu ingin di hindarinya.
"Hai, sayang", sapa Sherly dengan manja, yang membuat mood Dafa semakin jelek, ketika wajah Sherly memenuhi pandangannya. Entah kenapa ke dua orang tuanya menjodohkan dirinya dengan wanita seperti Sherly. Dafa sudah berusaha menolaknya berkali-kali, namun ke dua orang tuanya kekeh, Sherly adalah calon istri yang baik buat Dafa. Dafa langsung meninggalkan Sherly di tempatnya berdiri, tanpa mengatakan apa pun.
Sherly terus mengejarnya, walau pun Dafa berusaha menghindarinya. Dengan terpaksa Dafa berjalan beriringan bersama Sherly, saat Sherly berhasil mensejajarkan langkahnya.
***
Di kantor Santoso Station Ferdo terlihat sibuk menyelesaikan semua pekerjaannya, beberapa file yang membutuhkan persetujuannya sudah selesai di sign. Namun sorot matanya tiada henti memandang jam yang melingkar di tangannya, menanti jam menunjukkan pukul 5. Adrian memberitahukan padanya, Ayunda akan pulang pukul 5 sore dari kampus hari ini.
Tok... tok.
Ferdo mempersilakan seseorang yang baru saja mengetuk pintu ruangannya untuk masuk ke dalam. Dan betapa kagetnya dia, saat tiga orang berbeda usia muncul dari balik pintu. Sang kakek, Benny dan putrinya Siska yang bergantian masuk, kini mereka berdiri dihadapan Ferdo dengan tersenyum ramah.
"Kakek, Om", sapanya bergantian dengan tersenyum ramah. "Kenapa gak ngabari kalau mau datang ke mari", tutur Ferdo dengan berjalan menghampiri mereka, lalu Ferdo meraih tangan sang kakek dan Benny secara bergantian untuk memberi salam. "Ayo, silakan duduk, Kek, Om", ucapnya dengan mengabaikan Siska.
"Terima kasih", balas Benny, yang di balas anggukan oleh Ferdo.
__ADS_1
"Ya, Om", balas Ferdo dengan tersenyum. Lalu Ferdo membantu sang kakek untuk duduk di sofa ruang kerjanya itu.
Ferdo dengan sigap berjalan menghampiri meja kerjanya, lalu meraih gagang telepon, untuk menghubungi Tya sekretarisnya agar menyediakan beberapa minuman.
"Ada hal penting apa, sampai-sampai Kakek dan Om Benny harus datang ke mari?" tanya Ferdo yang telah selesai berbicara dengan Tya, dan meletakkan kembali gagang telepon.
Sang kakek dan Benny saling melempar senyum, lalu memandang Ferdo. "Kami mau membicarakan acara pertunanganmu dan Siska", ucap Benny dengan tersenyum.
Ferdo tersentak kaget, saat mendengar penuturan Benny. "Maaf, Kek, Om", ucapnya dengan memandang sang kakek dan Benny bergantian. "Sebelumnya aku sudah memberitahu Kakek dan Om Benny, bahwa aku tidak setuju dengan perjodohan ini, jadi kenapa harus ada acara tunangan?" tanya Ferdo dengan raut wajah kesal.
"Kami membicarakan hal ini tadi siang dan kakek juga sudah setuju. Karena kakek tahu, Siska wanita yang baik, dia cocok jadi istrimu!" seru sang kakek dengan tegas.
"Kakek sudah berjanji untuk memberiku waktu seminggu. Kenapa kakek langsung merencanakan pertunangan ini?" tanya Ferdo yang semakin kesal.
"Besok, Om Benny akan kembali ke Paris. Jadi kita harus membuat rencananya segera, agar tidak bentrok dengan pekerjaan Om Benny di sana", sahut sang kakek menjelaskan.
"Tidak, kek. Tidak ada pertunangan!" balas Ferdo dengan kesal. Tiba-tiba Tya sang sekretaris membawakan minuman ke dalam ruangan, membuat Ferdo terpaksa menghentikan ucapannya. Tya langsung permisi, setelah beberapa minuman terletak di meja.
Benny meraih minuman di meja, meskipun kesal dengan penolakan Ferdo, namun dia tidak bisa membungkamnya. Dia terpaksa ikut dengan cara sang kakek, agar tidak ada kecurigaan.
"Tuan Santoso", panggil Benny mencoba menenangkan sang kakek yang mulai emosi, setelah menyesap secangkir kopi. "Lebih baik kita tidak memaksanya, lagi", ujar Benny sambil mencoba tenang.
"Tidak bisa. Aku sudah berjanji padamu, jadi aku harus menepatinya", balas sang kakek yang ingin mempertahankan harga dirinya. Siska tersenyum tipis, saat mendengar penuturan sang kakek.
"Tapi Ferdo tidak mau dijodohkan", sahut Benny. "Bagaimana kita bisa melanjutkan acara pertunangan ini nantinya?" tanyanya kemudian.
"Begini saja, kalian tetap persiapkan semua acaranya, walau pun Ferdo belum setuju. Karena dia hanya punya waktu satu minggu. Jika waktu yang aku berikan habis, besoknya kita langsungkan saja pertunangannya", ujar sang kakek yang membuat Siska kegirangan di dalam batinnya, sedangkan Ferdo harus menelan pahit yang membuat suasana hatinya menjadi buruk.
"Oke, Tuan Santoso. Kalau begitu, saya dan putri saya pamit dulu", tutur Benny dengan sopan saat berpamitan pada sang kakek.
"Baiklah. Jangan lupa sampaikan salamku pada Nadya istrimu", sahut sang kakek dengan tersenyum.
__ADS_1
"Oke, akan aku sampaikan, Tuan", balas Benny sambil beranjak dari sofa, lalu dia mengajak Siska untuk meninggalkan ruangan itu.
"Permisi, Kek, Ferdo", ucap Siska yang sedari tadi tidak di anggap oleh Ferdo. Dia berlalu meninggalkan ruangan Ferdo, dengan terus tersenyum padanya, walaupun Ferdo tidak meresponnya.
"Apa Kau sudah menemukan calon yang tepat?" tanya sang kakek dengan lembut, setelah Benny dan Siska ke luar dari ruangan.
Ferdo bingung dengan perubahan sikap sang kakek. Baru saja kakeknya itu memaksanya untuk bertunangan dengan Siska, sekarang dia malah menanyakan calon yang tepat pada Ferdo dengan nada lembut. "Hmm,,, sudah, Kek", balas Ferdo dengan sedikit ragu. Dia khawatir, sang kakek sedang mengujinya saat ini.
"Bagus!" seru sang kakek, yang membuat Ferdo semakin bingung. "Kalau begitu, kakek permisi", ucapnya kemudian berdiri dari sofa. Ferdo langsung buru-buru membantunya, walaupun sang kakek sudah berdiri terlebih dahulu.
"Biar aku antar kakek ke lobi", ucap Ferdo menawarkan diri.
Sang kakek menggeleng, "tidak perlu repot. Kakek tidak terlalu tua untuk berjalan sendiri", sahutnya yang langsung melangkahkan kaki, berjalan menuju pintu. Ferdo pun mengantarnya sampai ke luar ruangan, namun sorot matanya tetap mengawasi sang kakek hingga masuk ke dalam lift. Ferdo kembali masuk ke ruangannya, setelah memastikan sang kakek masuk ke dalam lift. Dia juga telah menghubungi staff yang bekerja di lobi, untuk membantu sang kakek saat dia ke luar dari lift nantinya.
***
Ferdo berjalan ke luar ruangannya, dia langsung bergegas menuju ruangan Adrian. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dengan tidak sabar Ferdo ingin berjumpa dengan Ayunda.
Baru saja Ferdo memegang handle pintu, dan akan membukanya, Adrian sudah membukanya terlebih dahulu.
"Ayo, kita berangkat", ujarnya yang membuat Adrian kaget. Tanpa mukadimah, Ferdo tiba-tiba langsung mengajak Adrian, meskipun sebenarnya Adrian tahu ke mana tujuan Ferdo mengajaknya.
Adrian hanya membalasnya dengan anggukan, lalu mereka berjalan beriringan menuju lift.
*
Ting.
Pintu lift terbuka lebar di basement, Ferdo dan Adrian berjalan ke luar dari dalam lift, menuju kendaraan Adrian di parkir. Lalu mereka masuk ke dalam mobil bersamaan. Adrian pun siap melajukan kendaraannya menuju apartemennya, karena ada seseorang yang sudah tidak sabar ingin segera tiba di apartemennya.
To be continue...
__ADS_1