My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 100


__ADS_3

...Spesial episode 100, dibawah 21 tahun harap undur diri. Ini adegan celap-celup. Terima kasih....


...Negara mereka liberal ya guys, jadi nyelup ga nikah juga gapapa. Kalo kalian ya kaga boleh wkwkwk. Digrebek pak RT nanti dikawinin loh....


...*****...


Dua minggu berlalu. Persyaratan dari Mommy Megan terus terngiang dipikiran Danzel. Setiap hari dia memandangi Gwen ketika berpikir bagaimana caranya bisa bercinta dengan wanita itu tanpa di ganggu orang lain. Sebab, setiap kali ingin memasukkan geoducknya pasti ada saja yang mengganggu entah Aldrich, Selena, Steve, ataupun Chimera. Jika seperti ini terus pasti akan sulit membuat Gwen mengandung keturunannya.


Namun malam ini berbeda, Danzel sedang mengamati Gwen yang sedang memasukkan sayur dan buah-buahan ke dalam kulkas yang ada di dalam apartemennya. Danzel sengaja meminta pertolongan pada Gwen untuk membantu menyusun stok bahan makanan di kulkas, padahal dia bisa sendiri. Dan dia juga meminta tolong Steve serta Chimera untuk menjaga anak-anak Gwen di apartemen sebelah.


Danzel sudah memperingatkan asistennya untuk tak mengganggu dan memberikan ancaman potongan gaji pada Steve jika sampai menggagalkan rencananya untuk menghangatkan ranjang malam ini.


Instingnya menuntun Danzel untuk mendekat ke tubuh yang sangat ingin dia jamah. Memeluk Gwen dari belakang dan tak membiarkan jarak menyekat keduanya. Kepalanya disandarkan pada pundak sekretaris kesayangannya, tak lupa terus meluncurkan kecupan dan menyapukan lidahnya di leher yang sangat menggoda imannya.


“Danzel, biarkan aku menyelesaikan ini,” pinta Gwen. Sensasi geli mulai menjalar di sekujur tubuhnya.


“Lakukan saja, Gwen. Aku hanya ingin memelukmu. Aku sangat merindukan bersentuhan denganmu,” bisik Danzel tepat di telinga wanitanya.


Danzel tak mau beranjak dari sana, bahkan dia masih menempel di punggung Gwen dan menggesek-gesekkan bagian geoducknya dengan pantat sekretarisnya.


“Danzel, jangan seperti itu,” tegur Gwen. Dia mencoba menggoyangkan tubuh agar Danzel sedikit menjauh darinya. Tapi justru pria itu semakin erat merengkuhnya.


“Seperti apa?” Danzel berpura-pura bodoh dan tak paham arah pembicaraan wanitanya. Sudah, pokoknya malam ini dia harus berhasil mencelupkan geoducknya.


“Geli, Danzel. Rasanya aku ingin membuka kedua pahaku di sini,” celetuk Gwen saat tangan Danzel nakal masuk ke dalam kain sutra penutup daerah sensitifnya dan mengusap lembut menggunakan jemari. Membuat tubuhnya terasa seperti disetrum, mati rasa pada area pangkal paha. Sial! Rasanya ingin ambruk di lantai saat ini juga, menanggalkan semua pakaian. Dan membuat penyatuan diiringi suara erotis.


Danzel membalikkan tubuh Gwen hingga dada keduanya saling bertubrukan. “Lakukan, Sayang. Aku memang menginginkan itu,” ujarnya. Suaranya sudah serak dan napasnya sangat panas.

__ADS_1


Gwen bisa merasakan bagaimana pria itu menginginkan sesuatu yang lebih darinya. Dan dengan senang hati keduanya saling bersentuhan bibir, mengadu lidah satu sama lain.


Danzel mengabulkaan imajinasi Gwen yang tadi sempat terlintas di benak wanita itu. Menanggalkan seluruh kain keduanya sampai polos. Tapi dia tak mendorong Gwen ke lantai, melainkan menaikkan tubuh wanita itu ke meja samping kompornya berada. Beruntung api sedang tak menyala, jika iya sudah dipastikan keduanya semakin panas ditambah api gairah keduanya yang begitu membara.


Tak ada percakapan diantara keduanya, Gwen dan Danzel sama-sama sedang menikmati sentuhan satu sama lain. Tangan Danzel membuat area sensitif Gwen basah.


Surata erotis penuh kenikmatan mulai bersahutan terdengar di dapur berukuran sembilan meter persegitu itu.


“Danzel, apa kau tak bisa memasukkannya sekarang?” tanya Gwen. Dia sudah tak tahan, ingin segera dihujam dengan geoduck milik Danzel.


“Apa kau mau bermain di dapur?”


Gwen mengangguk, terakhir kali ditinggalkan ketika menginginkan penyatuan membuatnya sakit kepala. “Sekarang, Danzel. Aku sudah tak tahan,” erangnya.


Danzel memberikan kecupan pada daerah kelembutan yang memang sudah dipangkas habis oleh Gwen untuk berjaga-jaga jika sang pria ingin mendaki ke atas nirwana bersamanya.


Danzel membuka lebar kedua paha Gwen dan mulai mencoba memasukkan miliknya. Dia membiarkan lampu tetap terang untuk memudahkan menuntun geoducknya ke dalam cangkang yang lebih nyaman.


“Sebut namaku, Gwen,” pinta Danzel di sela ia menghentak wanitanya.


“Danzel ....” Suara Gwen terdengar mendesah dan membuat pria itu semakin semangat untuk memaju mundurkan pinggulnya.


Keduanya saling bersahutan memanggil nama satu sama lain dengan penuh cinta dan gairah yang bercampur menjadi satu. Kobaran api kenikmatan dalam jiwa mereka sedang membara.


Panas, nikmat, sensasi yang mereka rasakan tak bisa didefinisikan oleh apa pun. Keduanya enggan mencapai puncak bersamaan, masih ingin terus menikmati percintaan itu.


“Katakan padaku jika kau merasa sakit, Gwen,” ujar Danzel seraya membalikkan tubuh wanitanya. Dia ingin mengganti posisi, merasakan bagaimana bermain dari belakang.

__ADS_1


Perut dan dada Gwen bersentuhan di permukaan meja berbahan marmer itu.


Tangan Danzel menyentuh perut sang wanita agar tak terpentok sudut meja. Dalam kenikmatannya, Danzel masih memikirkan kenyamanan Gwen.


“Gwen, apa kau tak kesakitan dengan posisi ini?” Danzel justru khawatir dengan wanitanya karena sedari tadi hanya mengeluarkan suara erotis yang membakar gairahnya. Dia berpikir wanitanya takut untuk mengutarakan jika merasa sakit akibat tempat pergumulan panas mereka keras. Bahkan tangannya yang digunakan untuk melindungi perut Gwen sudah merah tapi dia tak merasakan apa pun.


“Tidak, Danzel. Hanya kenikmatan yang aku rasakan,” jawab Gwen.


Danzel kembali merubah posisi mereka. Menggendong Gwen di depan dan memagut bibir penuh gairah.


Danzel bergantian duduk di meja memangku Gwen di atasnya. “Lakukan tugasmu, Gwen,” bisiknya di telinga wanitanya.


Gwen langsung paham ke mana arah pembicaraan itu. Dia kini yang berganti mendominasi permainan. Mengayunkan pinggulnya ke atas dan ke bawah. Sedangkan Danzel meremas bagian tubuhnya yang kenyal dan besar serta menyesap bagaikan seorang bayi.


Tak ada yang bisa diutarakan lagi selain nikmat. Hanya itu yang kini mereka rasakan.


Pergumulan dengan cinta sepenuh hati bukan napsu belaka, membuat permainan mereka selesai dalam waktu satu jam.


Baik Gwen dan Danzel sama-sama mengerang saat mencapai pada puncak pertama di atas meja marmer di samping kompor. Panas bukan lagi berasal dari kompor, tapi dari tubuh kedua insan yang sedang memiliki semangat berapi-api untuk bercinta.


Gwen amburuk di dalam pelukan Danzel. Kulit keduanya menyatu dengan peluh yang membasahi tubuh polos mereka.


Tak ada kalimat yang terlontar, hanya suara napas yang terengah-engah setelah olahraga malam. Bahkan kulkas yang masih terbuka pun tak mendinginkan bara gairah dalam tubuh Gwen dan Danzel.


“Gwen, bermalamlah di sini,” pinta Danzel. Dia membelai lembut rambut wanitanya. Mencoba membangkitkan hasrat Gwen lagi seolah tak puas bermain hanya satu kali.


...*****...

__ADS_1


...Eh, mau ngapain si babang Danzel minta Gwen tidur di sana?...


...Spesial kan, panjang nih satu episodenya. Dah cukup dua part dulu pagi ini, aku mau minta sesajen kopi sama kembangnya yang banyak....


__ADS_2