My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 76


__ADS_3

“Tuan, Anda juga harus mengganti uang saya yang digunakan untuk membayar wanita ini agar mau bekerja denganmu.” Steve ikut menimpali. Dia tak mau rugi, uangnya harus kembali juga. Selagi ada kesempatan menagih, maka lakukan saja.


“Steve ... kau perhitungan sekali denganku!” tegur Danzel menatap asistennya dengan sedikit melotot.


Steve menyengir kuda. “Uang tetap nomor satu, Tuan. Tak ada uang, bisa membuatku pusing,” kelakarnya.


Danzel menghela napasnya, memijat pelipisnya menghadapi dua orang yang menagih uang kepadanya. Padahal dia kaya dan tak pernah berhutang, tapi rasanya seperti didatangi dept collector. Apa lagi wajah wanita yang berdiri di hadapannya terlihat gahar.


“Bawa wanita itu ke ruang divisi keuangan, buatkan dia rekening baru. Nanti akan aku transfer.” Danzel mengibaskan tangannya agar kedua manusia penagih uang itu menyingkir dari ruangannya.

__ADS_1


“Baik.” Steve dan Chimera undur diri dari hadapan CEO muda itu. Chimera sungguh tak memberitahukan nama sebelum mendapatkan pelunasan.


Sementara itu, Danzel melirik ke arah Gwen yang masih berkutat di depan komputer. Wanita itu terlihat tak peduli dengan perbincangan sang atasan karena tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan yang bukan pekerjaannya.


Lain hal dengan Danzel yang terlihat sedikit kecewa karena Gwen justru terlihat cuek. Padahal dia sangat ingin wanita pujaan hatinya itu memiliki tingkat keingintahuan yang tinggi kepadanya.


Danzel berangsur meninggalkan singgah sananya, mengayunkan kaki mendekati wanitanya. Ia mengelus lengan Gwen begitu lembut dan matanya ikut mengamati layar besar di hadapan sekretarisnya tersebut.


Gwen mendongak menatap wajah atasannya, ternyata mau dilihat dari sudut mana pun tetap saja tampan. “Tidak.” Kepalanya menggeleng diikuti senyum indah menghias wajah.

__ADS_1


Danzel menghela napasnya. Ternyata hanya perasaannya saja yang terlalu percaya diri kalau sekretarisnya ingin tahu tentang urusannya. Atau mungkin itu adalah keinginannya yang berharap Gwen peduli dengan seluruh kegiatan dan orang-orang yang dia temui.


“Kalau kau penasaran, lain kali langsung tanyakan saja padaku,” titah Danzel.


“Tidak, aku tak ingin ikut campur dengan urusan orang lain,” tolak Gwen.


Membuat Danzel mendesah kecewa. “Tapi aku mau kau ikut campur dengan urusanku, walau hanya sekedar bertanya saja tentang kegiatan atau orang yang aku temui,” ujarnya.


“Kenapa harus? Urusanku saja sudah membuatku pusing, untuk apa lagi aku menambah beban pikiranku dengan kepentingan orang lain,” timpal Gwen. Alisnya sedikit terangkat, bingung dengan atasannya. Biasanya CEO tak ada yang senang jika orang lain ikut campur atau kepo dengan urusan pribadi, tapi kenapa Danzel justru meminta dirinya untuk bertanya tentang kegiatan dan orang-orang yang ditemui pemilik Patt Group itu.

__ADS_1


Danzel berangsur merendahkan tubuhnya. Menyatukan lutut di lantai agar sejajar dengan wanitanya. Tangannya terulur mengelus pipi lembut dan halus milik Gwen. “Karena aku ingin kau peduli dengan urusanku, Sayang,” bisiknya. “Hanya sekedar bertanya sudah membuatku merasa senang,” imbuhnya.


Gwen mengulas senyumnya. Sejujurnya dia tak ingin ikut campur, tapi karena Danzel sangat manis dalam memanggilnya sayang dan sorot mata pria itu juga nampak memohon, maka dia akan membahagiakan sedikit hati atasannya itu. “Memangnya siapa wanita yang tadi datang bersama Steve?” tanyanya.


__ADS_2