
Gwen menyetujui ajakan Mommy Megan untuk keluar nanti malam. Mereka berdua saling bertukar nomor ponsel. Sudah empat minggu berlalu sejak pertemuan keluarga, dan baru hari ini mereka memiliki nomor satu sama lain.
Mommy Megan berencana menjemput Gwen di apartemen calon menantunya. Kini tubuhnya sudah berdiri di depan pintu dan memencet bel memanggil pemilik unit tersebut keluar.
“Loh, Danzel. Kenapa kau yang membuka,” celetuk Mommy Megan saat pintu terayun ke dalam dan sosok anaknya yang berada di hadapannya.
“Setiap malam aku juga di sini, Mom. Apartemen sementaraku hanya di sebelah,” balas Danzel seraya menunjuk pintu di samping.
Mommy Megan bergeleng kepala. “Kau itu benar-benar budak cinta. Tak pernah pulang ternyata modus terus dengan Gwen.” Cubitan kecil dia layangkan di perut putranya hingga Danzel mengaduh. “Mommy tak dipersilahkan masuk?”
“Oh, lupa. Silahkan masuk.” Danzel semakin membuka lebar pintu itu dan menutup kembali saat orang tuanya sudah berada di dalam.
“Di mana Gwen dan anak-anaknya?” tanya Mommy Megan seraya mendaratkan pantatnya di sofa. Dia melihat situasi di tempat sederhana tanpa AC itu cukup sunyi. Hanya ada bodyguard Gwen yang saat ini sedang duduk di dapur bermain game online.
“Gwen sedang ganti baju dan anak-anak baru saja tidur,” jawab Danzel ikut duduk di samping mommynya.
__ADS_1
Mommy Megan melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata sudah jam sepuluh malam, pantas saja anak Gwen sudah terlelap.
“Mommy mau mengajak Gwen pergi ke mana?” tanya Danzel.
“Rahasia.”
“Bolehkah aku ikut?” pinta Danzel.
“Tidak. Ini urusan wanita, kau di sini saja menjaga anak-anak Gwen,” tolak Mommy Megan.
Danzel mencebikkan bibirnya karena kecewa. Malam-malam seperti ini mereka ingin pergi ke mana? Club malam? Apotik? Atau mini market dua puluh empat jam? Hanya tempat tersebut yang buka sampai larut.
Mommy Megan melihat penampilan calon menantunya dari atas sampai bawah. Tak ada modisnya sama sekali. Celana jeans panjang dan kemeja yang biasa dipakai untuk kerja.
“Danzel, apa kau tak pernah membelikan wanitamu pakaian yang bagus?” tanya Mommy Megan.
__ADS_1
“Dia tak mau, Mom. Takut dibilang matre,” jelas Danzel.
Mommy Megan bergeleng kepala. “Kau belikan saja langsung tanpa bertanya padanya. Bisa-bisanya membiarkan wanitamu memakai pakaian yang bahkan warnanya sudah tak seperti baru lagi,” omelnya pada sang putra.
“Oke, besok aku akan mengajaknya ke mall.”
Gwen menggoyangkan tangannya memberikan isyarat jangan. “Aku bisa membeli sendiri, gajiku bahkan hampir tak pernah terpakai karena selalu Danzel yang membayar seluruh tagihan,” tolaknya secara halus. Dia merasa sedikit tak enak karena belum resmi menjadi menantu di Pattinson tapi semua anggota keluarga itu sangat baik padanya.
“Tenang, Gwen. Uang Danzel tak akan habis hanya membelikanmu pakaian,” tutur Mommy Megan. Dia mengulurkan tangan untuk menggandeng calon menantunya. “Ayo, kita berangkat sekarang,” ajaknya.
Mommy Megan dan Gwen pun berjalan berdampingan keluar apartemen itu.
“Chimera!” seru Danzel. “Kenapa kau masih duduk di sana? Ikut mereka!” titahnya. Bodyguard itu justru sedang asyik main game online sampai tak melihat kalau orang yang harus dia kawal sudah pergi.
“Oh, oke.” Chimera memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menyambar jaketnya. Kakinya mengayun secepat mungkin untuk menyusul Gwen dan Mommy Megan yang belum jauh.
__ADS_1
...*****...
...Mau dijual kali itu si Gwen, mamaknya Danzel jangan-jangan cuma pura-pura baek wkwkwk....