
Akhirnya, Danzel pun meminta Steve untuk menempatkan meja di tempat awal di mana ia bisa memandangi Gwen dari kursi kerjanya. Tak lupa CEO muda itu menarik sebelah sudut bibirnya saat menyambut kepergian asistennya.
Steve menutup pintu dengan bibirnya komat-kamit terus merutuki atasannya. “Kenapa Tuan Danzel jadi posesif setelah ditikung oleh orang lain,” gerutunya.
Namanya juga takut gagal untuk yang kedua kalinya, jadi wajar saja jika Danzel sedikit berubah.
Sementara itu, di dalam ruang kerja Danzel, ketiganya masih duduk di sofa.
“Coba kau duduk di meja kerjamu, sudah nyaman atau belum,” titah Danzel.
“Baik.” Gwen berdiri mendekati kursi tempat dia harus mengais rezeki.
Danzel ikut juga melepaskan pantatnya dari sofa, menghampiri Gwen. Ia ingin menyaksikan sekretaris barunya itu dengan jarak yang dekat.
“Bagaimana?” tanya Danzel. Tubuhnya sudah tegap di depan wanita yang cantik walaupun hanya dilapisi bedak tipis dan lipstik nude.
“Enak, empuk.”
“Kau suka?”
__ADS_1
“Iya.”
Danzel tersenyum puas. Dia bangga dengan dirinya sendiri karena bisa memberikan tempat ternyaman untuk Gwen.
“Mama ... mau coba juga.” Aldrich berjalan cepat menghampiri dua orang dewasa itu. Tapi tubuhnya sudah ditangkap terlebih dahulu oleh Danzel.
“Mau duduk di sana?” tanya Danzel pada bocah di gendongannya itu.
“Yes, uncle.”
Tak terasa Gwen tersenyum melihat dua orang yang baru kenal tapi sudah terlihat akrab. “Sini, mama pangku.” Tangan dengan jemari lentik itu menepuk pahanya agar Danzel menempatkan anak tirinya ke sana.
“Ha? Maksudnya?” tanya Gwen yang tak paham.
Ketika Danzel menyadari apa yang dia ucapkan, senyumnya menghias wajah. “Lupakan,” elaknya. Padahal, dalam hatinya ingin dipangku seperti Aldrich. Tapi belum berani mengatakan.
“Jadi, apa yang harus aku kerjakan?” tanya Gwen agar mereka tak membuang waktu dan dia hanya makan gaji buta selama seharian.
“Oh, iya. Aku sampai lupa.” Danzel menggaruk kepalanya yang tak gatal. Terlalu senang bisa satu ruangan dengan Gwen membuatnya lupa jika harus bekerja. “Aku akan mengajarimu.” Tangannya menghidupkan komputer yang tadi sudah dipasang instalasinya oleh Steve.
__ADS_1
“Aldrich, duduk dulu di sofa, ya? Mama mau bekerja,” pinta Gwen begitu lembut. Dia tak ingin anak tirinya terkena radiasi dari komputer.
“No, no. Mau duduk di sini,” tolak Aldrich.
Anak kecil saja tahu jika Gwen bisa memberikan kenyamanan sampai tak mau lepas. Apa lagi pria dewasa seperti Danzel. Mungkin tak akan melepaskan juga selama seharian penuh.
Danzel menoyor kepalanya yang sudah berimajinasi terlalu jauh selama menunggu komputer hingga hidup. ‘Taklukkan orangnya, maka lubangnya akan kau dapat,’ gumamnya dalam hati.
Sebelum memulai, Danzel hendak membujuk Aldrich agar mau berpindah duduk. Anak sekecil itu belum bisa menerima rangsangan cahaya dari komputer yang radiasinya lumayan besar, apa lagi jika posisinya terlalu dekat seperti saat ini. Orang dewasa saja suka sakit mata. Apa lagi yang lebih kecil.
“Aldrich, duduk sendiri di kursi uncle, ya? Tak kalah enak juga,” bujuk Danzel menunjuk meja kerjanya.
“Mau, mau.”
Mudah sekali bocah itu menurut dengan Danzel. Mungkin karena kursi milik CEO Patt Group itu terlihat lebih bagus.
Danzel pun menggendong Aldrich untuk ditempatkan di kursi kerjanya yang komputernya belum dia hidupkan. Lalu ia memilih untuk berdiri di samping Gwen.
“Siap?” Danzel menanyakan kesiapan Gwen untuk menerima arahan darinya.
__ADS_1
“Si—” Dering ponsel Gwen terdengar di ruangan itu, membuatnya tak jadi membalas ucapan Danzel. Ia meraih benda berharga miliknya walaupun tak mahal. Mengecek peneleponnya, ternyata mertuanya yang menghubungi.