My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 47


__ADS_3

Yang ditakutkan Steve ternyata tidak terjadi. Justru saat ini Alcie keluar dari ruangan CEO dengan membawa ular kobra itu. Kepala dan buntut hewan berbisa itu dipegang oleh wanita tersebut.


Steve menelan salivanya saat melihat wanita yang dihindari atasannya datang ke arahnya. Justru dia takut kalau Alcie tahu bahwa dialah yang sengaja menaruh kobra itu, dan bisa-bisa dia yang dipatuk. “Aku lupa jika dia siluman ular, matilah aku,” gumamnya begitu lirih.


“He! Kau itu bagaimana menjaga keamanan ruangan calon suamiku? Bisa-bisanya sampai ada ular berbisa masuk ke sini!” omel Alcie seraya memperlihatkan hewan berbisa itu ke hadapan Steve. “Bagaimana jika Danzel dipatuk ular? Nanti siapa yang akan menjadi calon suamiku kalau dia mati?” Ia terus mencecar dan mendekatkan ular tersebut ke asisten CEO Patt Group.


Steve reflek mundur satu langkah karena terkejut dan takut dipatuk. “Nona, tolong hati-hati. Ular itu berbahaya,” tegurnya agar Alcie tak semakin mendekatkan kobra itu padanya.


“Heh! Badan saja kau besar, tapi dengan ular takut,” ejek Alcie. Dia justru semakin berniat untuk mengerjai Steve. “Lihatlah dan pegang,” titahnya. “Aku saja tak takut, justru dia jinak denganku.” Ia mendekatkan sisik ular ke pipinya.


Steve bergidik ngeri. “Tentu saja dia jinak, kau kan siluman ular,” celetuknya.

__ADS_1


“What?!” pekik Alcie. “Siluman ular katamu? Wanita secantik diriku?” ujarnya tak terima.


Steve mengangguk. “Itulah sebabnya tuanku tak mau bertemu denganmu, karena kau seperti medusa, si ratu ular.”


Alcie berhenti mendekati Steve, wajahnya terlihat merah karena marah. “Benarkah? Apa wajahku sejelek itu? Padahal aku sudah operasi plastik biar cantik,” gumamnya. Dia pun menjatuhkan kobra tersebut, membiarkan hewan yang panjang itu bergerak di lantai.


Steve langsung memberikan isyarat pada pemilik kobra agar mengambil hewan itu dan membawa pergi dari sana. Rencana sudah gagal.


Alcie mengeluarkan kaca dari dalam tasnya. Ia melihat pantulan wajahnya di sana. Dan matanya melirik tajam ke arah Steve. “Kau! Berbohong! Wajahku cantik begini. Matamu saja yang buta!” bentaknya setelah memastikan pesonanya.


Steve menghembuskan napasnya. Stok sabar harus melimpah jika bertemu dengan wanita satu ini. “Bukan wajahmu yang jelek, tapi perilakumu!” jelasnya agar Alcie instropeksi diri.

__ADS_1


“Heh! Aku ini seperti bidadari yang tak memiliki kekurangan apa pun! Jangan sembarangan jika berucap.” Alcie berkacak pinggang begitu angkuh.


Steve bergeleng kepala dengan hembusan napasnya yang mulai malas. “Seperti iblis saja kau kata bidadari,” lirihnya. Dan dia memilih untuk pergi dari sana daripada meladeni manusia yang tak memiliki urat malu itu.


“He ... kau mau ke mana?!” teriak Alcie saat Steve mulai menjauh.


Steve tak menanggapi. Dia masuk ke dalam lift dan membalas pesan yang dikirimkan oleh atasannya.


Saat berhenti di lampu merah, Danzel menyempatkan untuk membaca chat whatsapp yang dikirim asistennya. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut akibat kelakuan wanita pilihan mommynya. “Astaga ... kenapa harus ada spesies manusia seperti dia,” gerutunya sangat lirih.


Gwen yang melihat Danzel seperti tertekan pun menyempatkan untuk bertanya. “Apakah kau baik-baik saja?”

__ADS_1


Danzel memasukkan ponselnya ke dalam saku, menengok ke sebelah kanan. Memenuhi indera penglihatannya dengan Gwen. “Tidak, hanya masalah kecil saja, tak perlu dipikirkan,” jelasnya. “Ku antar kalian pulang saja, ya?” tawarnya karena Alcie masih saja di kantornya. Sungguh mengganggu pekerjaannya saja.


__ADS_2