My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 66


__ADS_3

“Sudah, memangnya kenapa?” Daddy Marlin menjawab pertanyaan istrinya dengan membuka seluruh kain yang menutupi tubuhnya. Pria yang usianya dua tahun lebih muda dari pasangannya itu masih terlihat gagah dan mempesona. Ia mendekati istrinya dan mencium lembut bibir ranum Mommy Megan.


Pria itu mencoba menumbuhkan hasrat wanitanya, namun Mommy Megan memang sudah tak seperti saat muda yang mudah basah.


Tangan dengan sedikit keriput mendorong dada suaminya hingga Daddy Marlin mendesah kecewa. Dia sedang tak ingin bermain di atas ranjang.


Baiklah, Daddy Marlin tak mau memaksa. Dia merebahkan tubuhnya di samping sang istri yang sedang duduk. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” tuturnya mengingatkan.


“Besok kita pulang, ya?” ajak Mommy Megan.


“Oke.” Daddy Marlin menarik tangan istrinya hingga terjatuh di sampingnya dan memeluk tubuh yang sudah dua puluh delapan tahun menemaninya. Dia bukan tipe pria pemaksa pada pasangan. Walaupun keinginan hasratnya ditolak, dia tetap bersikap lembut pada Mommy Megan.


“Aku sudah memesankan tiket untuk kita pulang,” ujar Mommy Megan memberi tahu.

__ADS_1


“Hm ....”


...........


Keesokan harinya, di kantor polisi Kota Helsinki, Alcie lagi-lagi meminta untuk menghubungi kerabat. Berada di dalam sel tahanan sementara selama lima hari membuatnya jerawatan akibat tak merawat wajah dengan benar. Tubuhnya juga gatal-gatal di sana.


“Ayolah wanita tua, katanya kau membutuhkanku menjadi menantu dan menggoda anakmu agar mau menikah denganku. Kenapa kau tak juga bisa dihubungi sampai saat ini,” gumam Alcie. Ia menggigiti kuku panjangnya yang sudah sangat jelek. Sudah seperti orang cacingan saja dia.


Sementara itu, Mommy Megan dan Daddy Marlin baru saja mendarat dengan selamat di Helsinki Airport. Mereka menggunakan pesawat komersiil kelas satu.


Baru juga hidup ponsel itu, sudah ada panggilan masuk dari nomor yang tak tersimpan di gawainya.


“Dad, apakah kau tahu ini nomor siapa?” tanya Mommy Megan pada suaminya. Ia tak ingin berbicara dengan nomor sembarangan karena takut itu adalah orang jahat.

__ADS_1


Daddy Marlin menatap layar ponsel istrinya, mengedikkan bahu karena dia tak tahu nomor siapa itu. “Abaikan saja, mungkin orang iseng,” perintahnya.


Mommy Megan pun menolak panggilan tersebut. Ia justru mengirimkan pesan kepada putranya untuk menagih perjanjian yang harus dibuktikan pada hari ini.


“Lihatlah, Dad. Anakmu ini pasti menghindariku lagi.” Mommy Megan menunjukkan chatnya yang centang satu. Sudah dipastikan putra satu-satunya itu mematikan ponsel.


Daddy Marlin terkekeh. “Kau juga terlalu banyak mendesaknya untuk menikah. Biarkan saja, lagi pula dia masih muda. Kalau aku jadi Danzel, pasti akan melakukan hal yang sama,” jelasnya.


“Daddy dan anak sama saja.” Cubitan kecil dari Mommy Megan pun mendarat di perut sang suami.


Daddy Marlin menarik tangan istrinya dan memeluk tubuh yang dia cintai itu. Keduanya tak saling berbicara, hanya menikmati sedikit kemesraan di masa tua.


Namun lagi-lagi ponsel milik Mommy Megan berdering. Membuat tangannya harus mengambil benda canggih itu. “Nomor yang tadi, Dad. Apakah aku angkat saja? Siapa tahu penting,” izinnya.

__ADS_1


Daddy Marlin hanya melirik sekilas. “Angkat saja jika kau mau,” balasnya santai.


Dan Mommy Megan pun akhirnya memutuskan untuk memencet tombol hijau karena penasaran. Ini sudah yang ketiga kalinya nomor tersebut menelepon.


__ADS_2