My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 167


__ADS_3

“Mom, aku itu tak kabur, hanya menenangkan diri terlebih dahulu,” elak Danzel. Dia tak mau dianggap melarikan diri.


“Ya, ya, ya, terserah kau saja. Ayo, selagi cuaca mendukung kita bisa pulang.” Mommy Megan beranjak dari tempat duduk dan keluar mendahului anak dan calon menantunya.


“Mom, kenapa kau duduk di belakang?” tegur Danzel saat mommynya justru membuka pintu mobil yang bukan di sebelah supir.


“Tentu saja aku ingin duduk di samping Gwen. Enak saja kau sudah meninggalkan dia dan sekarang mau menempel terus padanya. Harus ada hukuman dan ini yang harus kau terima.” Mommy Megan ingin memberikan pelajaran pada anaknya yang sudah membuat calon menantunya setiap hari melamun.


Danzel pun lebih baik mengalah, mommynya pasti tak mau dibantah jika sudah mode memaksa seperti ini. Dia duduk di samping kemudi dan membiarkan wanitanya bersama sang mommy.


Setelah perjalanan yang lumayan jauh, mereka sampai juga di mansion keluarga Pattinson. Aldrich dan Selena langsung berlari saat melihat kedatangan ketiganya.


“Papa Danzel ...,” panggil Selena dan Aldrich.


Danzel yang dipanggil pun merendahkan tubuhnya dan merentangkan tangan. “Hai anak-anakku.”


Pelukan hangat yang sangat dirindukan oleh dua bocah itu pun melingkar sempurna di tubuh mungil Selena dan Aldrich.

__ADS_1


“Papa kenapa baru pulang? Kita kangen,” celoteh Aldrich.


“Ada pekerjaan, Sayang.” Danzel mencoba memberikan penjelasan pada anak-anaknya.


Kehebohan dua bocah itu membuat semuanya tak melirik ke arah Daddy Marlin. Hingga Tuan Pattinson berdeham agar anggota keluarganya melihat ke arahnya.


Mommy Megan terkekeh dengan tingkah suaminya. “Jangan cemburu, mereka anak kecil,” bisiknya seraya melingkarkan tangan di lengan Daddy Marlin.


“Aku ingin menyampaikan sesuatu,” ujar Daddy Marlin. Wajahnya terlihat serius, tapi memang setiap hari dia seperti itu.


“Oke, papa.” Dua bocah itu pun berlari menuju kamar bermain yang sudah disediakan oleh keluarga Pattinson.


Danzel menegakkan tubuhnya lagi dan siap mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan oleh daddynya. “Apa yang akan daddy katakan?”


“Kemarin ada undangan dari pengadilan, satu minggu lagi sidang perceraian Gwen dan suaminya akan berlangsung,” ujar Daddy Marlin.


Danzel merengkuh pinggang Gwen untuk meyakinkan bahwa pasti akan berhasil perceraian tersebut. “Kita ke sana bersama-sama.”

__ADS_1


...........


Tujuh hari berlalu, siang ini anggota keluarga Pattinson dan Gwen akan datang ke pengadilan untuk sidang perceraian keluarga Eisten. Aldirch serta Selena dititipkan pada Steve terlebih dahulu.


Keempat orang tersebut sedang perjalanan menuju tempat pengadilan. Tangan Gwen terus mengeluarkan keringat dingin.


“Jangan cemas, ada kami di sini pasti akan membantumu,” ujar Danzel seraya mengelap telapak tangan Gwen menggunakan tisu dan menggenggam wanitanya.


Gwen menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. “Ini kali pertama aku melakukan sidang.”


“Pasti berhasil, kau lihat saja saksimu satu itu, dia bahkan membawa jackpot jika suamimu menghalangi jalannya persidangan,” timpal Mommy Megan seraya menunjuk Danzel yang suka rela menjadi saksi persidangan.


Gwen melihat ke arah sang pria yang setia mengelus perutnya. “Memangnya apa yang kau bawa?”


“Ada, ini rahasia dan hanya akan ku bongkar pada hakim jika suamimu mengakui anak yang kau kandung adalah buah hatinya.” Danzel belum ingin memberi tahu sekarang.


Kendaraan roda empat yang dikendarai Daddy Marlin itu akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Dari dalam mobil, Gwen bisa melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang berdiri dengan wajah angkuh.

__ADS_1


__ADS_2