
Sebelum waktu kerja habis, Danzel mencuri pandang wajah cantik Gwen yang sedang fokus berpikir menyusun jadwal kerjanya. Dia tengah menimbang keputusan dari permintaan mommynya yang menginginkan dirinya pulang membawa sekretaris baru yang membahana tiada tandingannya di mata CEO muda itu.
“Sepertinya belum saatnya aku mengenalkan dia pada mommy,” gumam Danzel. Jujur, dia belum siap jika Mommy Megan akan menolak wanita pilihannya. Dia harus mencari cara terlebih dahulu agar wanita yang melahirkannya mau menerima Gwen apa adanya termasuk dua anak yang selalu mengintil.
“Mommyku ingin cucu, berarti jalan satu-satunya adalah membuat dia hamil. Tapi itu tak mungkin, karena sudah pasti Gwen belum mau bercinta denganku.” Danzel melanjutkan lagi berperang dengan pikirannya.
Gwen yang merasa sedari tadi ada yang mengamati pun menatap ke arah Danzel. Membuat mata keduanya saling bertemu pandang. “Apakah kau sedang ada masalah?” tanyanya.
“Tidak,” jawab Danzel sangat santai dan menghilangkan raut wajahnya yang bingung.
Alarm jam digital di atas meja Danzel pun berbunyi, menandakan jam kerja karyawan sudah selesai. “Sudahi pekerjaanmu. Ayo, ku antarkan pulang,” ajaknya.
Danzel pun melihat kedua anak Gwen yang sedang tidur di kamarnya. Ingin membangunkan tapi kasian juga.
“Mereka belum bangun?” tanya Gwen yang berdiri di samping tubuh kekar Danzel.
“Belum.”
__ADS_1
“Sepertinya mereka nyaman berada di sini, biasanya tidur siang tak selama ini,” ungkap Gwen seraya terkekeh.
Danzel justru terlintas sebuah ide modus baru, dia memegang pundak Gwen dan membalikkan tubuh wanita itu agar berhadapan dengannya.
“Apakah kau juga nyaman ketika bersamaku?” goda Danzel melemparkan senyum manisnya.
“Tidak ada wanita yang tak nyaman jika setiap hari kau perlakukan manis,” jawab Gwen. Dia tak menjawab dengan kalimat yang jelas, cukup menggunakan sebuah kode yang menggambarkan suasana hatinya.
Danzel paham dengan arti balasan Gwen. Dia menarik tangan wanitanya, dan memeluk seerat mungkin. “Sebentar lagi ku pastikan kau akan jatuh cinta denganku. Karena cinta bisa tumbuh dari rasa nyaman,” ucapnya dengan percaya diri.
Gwen membalas pelukan hangat Danzel. “Kita buktikan saja,” lirihnya. “Aku bangunkan anak-anak.” Dia hendak mendekati Selena dan Aldrich setelah mengakhiri pelukan.
“Lalu, sampai kapan kita akan di kantor jika tak membangunkan mereka?”
“Tenang, aku ada solusinya.” Danzel pun meminta Gwen untuk menunggu. Dia harus memanfaatkan dua orang yang tadi meminta kenaikan gaji padanya.
“Steve, Chimera!” panggil Danzel dengan suara tegasnya.
__ADS_1
“Ya, Tuan?” Dua orang yang sedang duduk itu langsung berdiri.
“Gendong dua anak Gwen. Gaji kalian sudah naik, artinya pekerjaan kalian juga bertambah!” titah Danzel. Dalam hatinya dia tertawa terbahak-bahak melihat wajah dua karyawannya itu membelalakkan mata.
“Dalam hitungan ke tiga, jika tak segera menjalankan tugas, maka gaji akan dipotong lima puluh persen,” ancam Danzel.
“Baik, Tuan.” Steve dan Chimera segera berjalan cepat masuk ke dalam ruangan CEO.
Danzel mengangkat sebelah sudut bibirnya. “Memangnya hanya kalian saja yang bisa mengerjaiku?” gumamnya. Dia sadar betul jika hari ini sudah diakali oleh dua manusia tadi.
Gwen beserta anak-anaknya pun sudah sampai di dalam mobil. Danzel langsung mengantarkan mereka ke apartemen. Sedangkan Chimera mengikuti mobilnya di belakang, untuk sementara bodyguard Gwen diberikan mobil perusahaan sebagai transportasi.
“Aku langsung pulang ke mansion keluargaku, ya?” pamit Danzel setelah memastikan Gwen dan anak-anaknya sampai di depan apartemen.
“Tumben, apakah ada urusan penting?” tanya Gwen. Biasanya Danzel sampai malam di sana dan tidur di apartemen yang ada di sebelahnya.
“Ya, mommy dan daddyku pulang. Aku harus menyambut mereka,” jelas Danzel.
__ADS_1
“Oke, salam untuk mereka.” Walaupun ada perasaan tak rela berpisah dengan Danzel, tapi Gwen tetap memberikan izin.
Danzel melirik ke arah Chimera yang berdiri di belakangnya sebelum benar-benar meninggalkan Gwen. “Wanita ini akan menjagamu, namanya Chimera. Katakan padaku jika kau diperas olehnya.”