
“Ma, Papa Danzel kenapa tak pulang-pulang?” tanya Selena. Tangannya memeluk erat perut Gwen.
“Adrij kangen papa,” tambah Aldrich berceloteh.
Gwen mengelus rambut kedua anaknya. “Mama juga rindu, tapi papa kalian sedang bekerja,” jelasnya.
“Kenapa lama sekali pulangnya, apa Papa Danzel lupa jalan pulang?” celetuk Selena.
Kedua anak Gwen itu sudah terbiasa dengan perhatian yang setiap hari diberikan oleh Danzel. Selama satu minggu tak ada sosok pria itu membuat mereka merasakan ada sesuatu yang kosong dalam hidup.
“Sabar.” Hanya itu yang mampu Gwen sampaikan pada anak-anaknya. Dia tak bisa menjanjikan akan membawa pulang Danzel segera karena dirinya sendiri tak tahu di mana keberadaan pria itu.
Gwen menemani Selena dan Aldrich hingga tertidur. Setelah memastikan dua bocah itu lelap, dia beranjak dari kasur dan mengambil ponselnya.
Gwen ingin mencoba sekali lagi menghubungi nomor Danzel. Jika telepon tak diangkat dan pesan juga menunjukkan centang satu. Dia akan mengirim email pada pria itu.
Danzel, kau di mana? Jika sedang sibuk, setidaknya jangan lupa istirahat dan menghubungiku sebentar. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu. Anak-anak merindukanmu, aku juga sama.
__ADS_1
Gwen ingin melanjutkan isi pesannya dengan memberitahukan perihal kehamilannya, tapi diurungkan karena pasti tak akan menjadi kejutan lagi saat Danzel sudah pulang.
Jemari Gwen pun memencet tombol send untuk mengirim email pada Danzel. Dia berharap setelah pesannya dibaca, sang pria akan langsung menghubunginya.
Wanita yang sedang mengandung itu memaksakan diri untuk tidur walaupun sangat sulit terlelap.
Sementara itu, di waktu yang sama Steve sedang di rumahnya dan menerima panggilan dari atasannya.
“Steve, bagaimana kondisi Gwen dan anak-anak?” tanya Danzel. Dia langsung menghubungi asistennya setelah membaca email dari wanitanya.
Steve menghembuskan napasnya seraya memijit pelipisnya. “Tuan, jika kau penasaran, maka pulanglah dan batalkan rencanamu untuk menenangkan diri,” jawabnya. Pertanyaan yang dilontarkan oleh atasannya bukanlah pertama kali, tapi setiap hari selalu menanyakan hal sama hingga membuatnya bosan menjawab.
“Pengecut!” cibir Steve.
“Kau mengumpati aku?”
“Ya, Anda itu sangat pengecut, Tuan. Pantas saja dulu ditinggal menikah oleh Nona Diora. Ternyata Anda memang tak ada usaha sedikit pun untuk memperjuangkan cinta. Justru sekarang kau kabur dengan dalih menenangkan diri tapi sesungguhnya hatimu menginginkan terus bersama Nona Gwen,” omel Steve panjang lebar. Dia sungguh tak kuat menahan semua yang dirasakan. Karena atasannya membuat dia harus berbohong hampir setiap hari.
__ADS_1
“Jika dia janda, aku pasti tak akan seperti ini, Steve. Tapi Gwen adalah istri orang lain!” tegas Danzel.
“Maka, wujudkan saja. Jadikan dia janda sungguhan,” cetus Steve.
Danzel menghembuskan napasnya kasar seraya menyugar rambut. “Aku tak pernah mau mempermainkan sebuah pernikahan karena mereka mengucapkan janji bukan hanya pada manusia, tapi dengan Tuhan,” keluhnya.
Susah sudah jika membawa Tuhan. Steve tak berani berkomentar karena pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan dia sendiri juga tak berani mempermainkan itu. “Apa Anda sudah selesai berbicara, Tuan?” tanyanya. Sudah tak ada suara yang terdengar lagi di telinga.
“Hm.” Danzel membalas gumaman tak jelas.
“Kalau begitu saya ingin menyampaikan pesan dari Nona Gwen yang tadi siang datang ke kantor bersama Nyonya Megan.”
“Apa?”
“Dia mengatakan bahwa merindukan Anda dan tolong menghubunginya.”
...*****...
__ADS_1
...Jangan lupa sajennya kakak...