
Bulan terus berganti, hingga tak terasa usia kandungan Gwen sudah hampir memasuki bulan ke sembilan. Tak ada malam pertama setelah pernikahan pada hari itu karena pengantin baru tersebut sudah sering melakukan hubungan intim saat sebelum menikah. Tapi selama dokter mengizinkan Danzel bercinta dengan Gwen, keduanya tak pernah absen walaupun hanya dilakukan dalam durasi yang tak lama.
Pasangan suami istri baru itu terlihat semakin lengket saja setiap harinya. Danzel tak pernah meninggalkan Gwen sendirian karena tak ingin lengah dalam memantau perkembangan anak-anak dan istrinya.
Jika Danzel pergi, dia selalu mengajak Gwen kemanapun tujuannya. Tapi tak pernah membiarkan pasangannya kelelahan dengan membawa anak-anaknya yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.
Bahkan ke kantor pun Danzel mengajak Gwen. Dan saat ini wanita dengan perut yang sangat besar itu sedang tiduran di sofa baru CEO Patt Group yang sengaja didesain agar lebih luas dan nyaman untuk istrinya.
“Apa kau tak nyenyak?” tanya Danzel saat matanya menangkap sang istri yang sedari tadi membolak balikkan tubuh seolah sedang mencari posisi nyaman. Kakinya langsung menuntun tubuhnya untuk duduk di dekat Gwen seraya mengelus perut buncit itu.
Gwen mengangguk. “Perutku rasanya seperti mulas, tapi sedari tadi aku tak bisa mengeluarkan apa pun saat di toilet,” jawabnya. Bibirnya mendesis karena menahan rasa sakit.
“Ayo kita ke dokter,” ajak Danzel. Dan dijawab anggukan oleh istrinya.
Danzel membopong Gwen dan anak-anaknya yang ada di dalam kandungan sang istri. Segera keluar ruangan dengan langkah pasti namun tak tergesa-gesa.
__ADS_1
“Steve, aku titip urusan di kantor padamu,” perintah Danzel sebelum dia meninggalkan gedung perusahaan miliknya.
“Anda mau ke mana, Tuan?”
“Memeriksakan kandungan istriku.”
“Baik.”
Steve mengekori Danzel di belakang. Dia memang tak diberikan perintah, tapi memiliki inisiatif sendiri untuk membantu memencetkan tombol lift.
Steve mengangguk dan ikut masuk ke dalam. Dia ikut turun sampai ke mobil atasannya. “Kunci Anda di mana, Tuan? Saya bantu bukakan.”
“Saku celanaku, tolong ambilkan.”
“Permisi.” Steve pun memasukkan tangannya ke dalam saku samping dan langsung mendapatkan kunci mobil yang berupa remot. Dia memencetkan tombol pembuka pintu dan mempersilahkan Danzel untuk mendudukkan Gwen di kursi samping kemudi.
__ADS_1
“Kursinya sedikit ku rendahkan, ya? Agar kau bisa tiduran lebih nyaman,” izin Danzel pada istrinya.
“Boleh,” jawab Gwen. Dan dia bisa merasakan sandaran kursi perlahan semakin rendah saat Danzel memencet sebuah tombol.
“Apakah sudah nyaman untuk perjalanan menuju rumah sakit?” tanya Danzel memastikan sekali lagi.
“Sudah.” Gwen mengulas senyumnya.
Danzel melabuhkan kecupan sekilas di kening istrinya sebelum menarik tubuh yang setengah berada di dalam mobil. Dia mengambil kuncinya dari tangan Steve dan memberikan tepukan di bahu asistennya itu. “Jika aku tak kembali ke kantor dalam waktu yang lama, berarti istriku akan langsung melahirkan. Tolong kabari orang tuaku saat itu juga, aku ke rumah sakit biasanya,” titahnya.
“Baik, Tuan. Semoga Nona Gwen dilancarkan persalinannya,” harap Steve.
Danzel pun masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan pribadinya menuju rumah sakit tempat dokter Mallory praktik.
Di dalam perjalanan, Gwen terus mendesis kesakitan. Tapi dia tak mengeluh sedikit pun.
__ADS_1
“Sabar, Sayang. Sebentar lagi kita sampai,” ucap Danzel seraya tangan kanannya mengelus perut sang istri.