My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 63


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pagi hari, namun tak ada sinar matahari yang berani menelusup masuk ke dalam apartemen Danzel. Seluruh ruangan di sana tertutup rapat oleh gorden yang panjang.


Danzel masih setia memeluk dan memberikan kehangatan pada tubuh wanitanya. Bahkan dia mengabaikan rasa dinginnya. Di apartemen sewanya hanya ada satu selimut saja. Steve lupa membelikan ganti untuk sang tuan yang dimabuk cinta itu.


Tangan Danzel justru kian erat memeluk Gwen. Dia benar-benar memanfaatkan keadaan yang menguntungkan itu untuk diri sendiri. Nyaman, hanya itu yang bisa dia rasakan saat ini. Ternyata enak juga tidur dengan memeluk wanita yang dicintai. Bahkan sampai membuat matanya enggan untuk terbuka.


Namun Gwen justru merasakan sesak akibat rengkuhan Danzel. Ia mengerjapkan mata dan melihat tubuhnya sudah terkunci sampai sulit untuk bergerak. “Pantas saja semalam aku tak merasa kedinginan lagi,” gumamnya sangat lirih.


Gwen tetap diam di posisinya, dia tak melawan atau menyingkirkan tangan dan kaki Danzel dari tubuhnya. Justru kini ia tengah menikmati kehangatan yang sangat dirindukan.

__ADS_1


Gwen juga wanita dewasa yang memiliki hasrat dan keinginan untuk dicintai sepenuh hati serta penyatuan yang menghangatkan ranjang. Tapi tidak untuk saat ini. Dia harus memantapkan hati terlebih dahulu pada Danzel. Ia ingin benar-benar jatuh cinta pada pria itu, memastikan keluarga atasannya mau menerima kondisinya yang bukan seorang gadis atau wanita lajang lagi, baru dia akan membujuk suaminya untuk bercerai untuk yang keempat kalinya.


Tak terasa, tangan Gwen menyentuh permukaan kulit yang melingkar di perutnya. Dia mengelus bagian tubuh Danzel dengan kelembutan. “Apa kau sungguh mencintaiku dan bisa menerima anak-anakku? Atau hanya berpura-pura saja mengambil hati Selena dan Aldrich hanya untuk memikatku lalu kau akan menghempaskan mereka?” tanyanya sangat lirih. Dia tak bertanya pada Danzel, tapi bergumam untuk diri sendiri atas kebingungan hatinya.


“Apa semua yang ku lakukan tak terlihat tulus?” Danzel menimpali ucapan Gwen. Dia memang sudah bangun sedari tadi, tapi tak mau membuka matanya karena posisinya terlalu enak.


“Danzel?” panggil Gwen.


“Ku kira kau belum bangun,” ujar wanita cantik itu. Ia mencoba untuk menyingkirkan tangan dan kaki Danzel. Tapi pria itu membatu agar berat hingga Gwen memilih menyerah.

__ADS_1


“Biarkan seperti ini, selagi anak-anakmu belum bangun,” bisik Danzel. Membuat bulu kuduk Gwen merinding akibat sapuan napasnya yang menerpa tengkuk sang wanita.


Gwen membiarkan Danzel tetap memeluknya. Keduanya sama-sama nyaman. Hanya saja pikiran Gwen merasa kurang enak. “Apakah kau akan berpikir jika aku wanita murahan sampai menuruti keinginanmu seperti ini? Tak menolak pelukanmu dan tidur berdua di sofa yang sempit,” celetuknya secara tiba-tiba.


Danzel memegang lengan Gwen, memutar tubuh wanitanya untuk berbalik ke arahnya. Dan kini wajah mereka saling bersitatap dengan jarak yang bahkan tak ada satu jengkal.


“Tak pernah aku berpikir seperti itu terhadapmu. Aku sangat senang jika kau tak menolak setiap sentuhanku. Bahkan kalau kau berinisiatif sendiri datang kepadaku pun aku akan menerima dengan senang hati tanpa memandang rendah dirimu yang berharga untukku,” jelas Danzel. Matanya memancarkan keseriusan dan bisa ditangkap jelas oleh Gwen.


Danzel menaikkan sedikit tubuhnya, memegang kepala wanitanya dan membenamkan ke dada bidang yang begitu nyaman itu. “Berhenti menganggap dirimu murahan karena akulah yang mendekatimu dan terus menggodamu,” pintanya.

__ADS_1


...*****...


...Yang mau masuk GC aku ada paswordnya. Sebutin 3 nama sadboy dan sadgirl di novelku My Rich Husband, Gabby My Fierce Girl, dan Hidden Rich Man....


__ADS_2