
“Tidak, aku akan menemuinya sekarang. Aku akan menahan mualku.” Gwen menolak ajakan calon mertuanya yang memintanya untuk menunda bertemu Danzel. Dia sudah tak sabar ingin menyampaikan semuanya termasuk berita bahagia jika saat ini dirinya mengandung darah daging CEO Patt Group itu.
“Baiklah jika itu maumu, kau tak perlu menahan jika ingin muntah, keluarkan saja,” balas Mommy Megan. Mana bisa orang hamil menahan gejolak di dalam perut yang seperti diaduk-aduk. Dia juga pernah mengandung jadi tahu bagaimana rasanya saat seperti itu.
Gwen mengangguk mengiyakan. “Kamar Danzel ada di mana?”
“Paling belakang.” Mommy Megan menunjuk sebuah lorong berisi jajaran kamar keluarganya.
“Aku akan langsung ke sana.” Gwen hendak mengayunkan kaki, namun tangannya sudah dicekal oleh Mommy Megan.
“Tunggu dulu.” Mommy Megan meminta Gwen untuk duduk sebentar sementara dirinya pergi entah ke mana.
Tak berselang lama, wanita yang melahirkan penerus CEO Patt Group itu kembali lagi dengan membawa sebuah obat dan air mineral di dalam gelas. “Bawa ini dan berikan pada Danzel, pasti dia sedang mabuk berat,” pintanya. Dia menyodorkan obat pereda hangover akibat minum alkohol berlebihan.
__ADS_1
Gwen tak mengeluarkan suara, hanya anggukan kepala saja sebagai jawaban.
“Aku akan memantaumu dari jauh,” ucap Mommy Megan seraya mengelus puncak kepala Gwen. Dia ingin memberikan ruang pada anaknya dan calon menantunya agar saling berbicara dari hati ke hati.
“Aku menemuinya dulu.” Gwen beranjak dari tempat duduk yang terbuat dari kayu. Kakinya mengayun menuju kamar yang tadi diberi tahu oleh Mommy Megan.
Gwen mengetuk pintu sebanyak tiga kali, namun tak ada sahutan dari dalam. “Danzel, aku masuk, ya?” izinnya.
Karena tetap tak mendengar jawaban dari sang pria, Gwen pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar tersebut. “Apa dia sudah pergi lagi?” gumamnya.
Kaki Gwen beralih mendekati kamar mandi yang ada di ruangan pribadi milik Danzel. Tangannya kembali mengetuk untuk memastikan bahwa sang pria berada di dalam sana. “Danzel, sayang, apa kau di dalam?”
Tetap sepi tak ada yang menyahut. “Apa dia sungguh berniat mening—” Ucapan Gwen terhenti saat telinganya menangkap sebuah suara lantang dari luar rumah.
__ADS_1
“Argh ...!”
Suara Danzel berteriak sangat keras membuat Gwen meninggalkan kamar tersebut. Dia membuka pintu yang menghubungkan ke teras belakang rumah. Dan benar, ternyata prianya berada di sana.
Gwen tak langsung mendekati Danzel, hatinya terasa tercabik-cabik saat melihat kondisi sang pria yang nampak frustasi.
“Argh ...!” Lagi-lagi Danzel berteriak meluapkan amarah. “Kenapa aku tak bisa melupakannya! Dia istri orang bukan janda!” Kedua tangannya mengacak-acak rambut hingga sangat berantakan. “Keluarlah dari pikiranku!” Dan dia juga menjambak rambutnya sendiri.
Kerinduan bercampur rasa bersalah mulai menyerang hati Gwen. Tak terasa dia mengeluarkan setetes air mata dan menggigit bibir bawahnya menahan agar isakan tak lolos.
“Kau sampai menyiksa dirimu sendiri demi melupakan aku?” gumam Gwen menilai situasi yang sedang dilihat. Dia tak jadi mendekati Danzel, namun masuk ke dalam lagi untuk mencari sebuah jaket.
Danzel sedang duduk di teras tanpa memakai baju, membiarkan tubuh itu merasakan dinginnya udara yang menusuk kulit untuk menyamarkan pedihnya hati yang kecewa dengan diri sendiri.
__ADS_1
Tentu saja Gwen tak tinggal diam, dia tak tega melihat sang pria menggigil di luar sana karena dirinya. Dan setelah mendapatkan jaket yang dicari, kakinya kembali mengayun untuk menemui Danzel.