My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 55


__ADS_3

Gwen mendudukkan lagi anak tirinya. Mereka berempat sudah bersiap mengepalkan tangan untuk bermain batu, kertas, gunting.


“Oke, siapa yang mau menjadi pemandunya?” tanya Danzel menatap satu persatu orang yang duduk melingkar bersamanya.


“Adrij, Adrij.” Aldrich sangat antusias mengangkat telunjuknya. Wajahnya terlihat gembira dan sangat imut.


Membuat Gwen dan Danzel terkekeh bersamaan. Sedangkan Selena memberikan izin pada sang adik untuk menjadi pemandu permainan.


“Anakmu sangat lucu, bagaimana anak kita nantinya, ya? Apakah selucu dia?” Danzel berbicara dengan berbisik karena posisi duduknya ada di sebelah Gwen persis.


“Anak kecil seusia Aldrich memang sedang lucu-lucunya,” balas Gwen. Dia berusaha menjawab secara umum agar tak menjurus pada hubungan antara dua belah pihak.


Dua orang dewasa itu saling berbincang dengan suara yang lirih agar tak terlalu terdengar oleh Selena dan Aldrich. Tapi tangannya tetap bergerak untuk bermain.


“Aldrich berbeda sendiri,” ucap Selena saat adik tirinya menunjukkan kepalan tangan, sedangkan yang lainnya gunting.


“Ayo kita cium Aldrich ...!” seru Danzel dengan riang. Dia berhenti sejenak tak melanjutkan pembicaraan dengan Gwen.

__ADS_1


Ketiganya bergantian mengecup seluruh bagian wajah bocah berusia dua tahun itu.


“Hore ... semua sayang Aldrich.” Anak tiri Gwen berdiri dan berjingkrak sangat senang.


Gwen yang melihat Aldrich bahagia pun tak terasa meneteskan air mata harunya. ‘Lihatlah Alcie, kau menyia-nyiakan anak selucu dia demi egomu,’ gumamnya dalam hati.


Gwen menghilangkan sedikit jejak basahnya dengan jemari sebelum ketahuan oleh yang lain. “Ayo kita lanjutkan.”


Permainan pun dimulai lagi. Dan Danzel baru menanggapi ucapan Gwen yang tadi belum dia balas.


“Maksudmu?” tanya Gwen melirik sekilas atasannya tapi langsung fokus lagi pada titik permainan.


“Maukah kau melahirkan keturunan untukku?” bisik Danzel di telinga Gwen. Pernah patah hati satu kali membuatnya tak gentar untuk menakhlukkan hati wanita yang dikira janda muda itu.


Reflek Gwen menengok dengan matanya terlihat terkejut. Mulutnya terbungkam tak mampu berkata apa-apa lagi.


“Mama kalah ...,” ucap Selena dan Aldrich bersamaan.

__ADS_1


Membuat Gwen langsung tersadar kembali dan fokus ke anak-anaknya. Ia berpura-pura mendesah kecewa karena harus mendapatkan hukuman.


“Oke, sini cium mama.” Gwen merentangkan tangannya agar Selena dan Aldrich memeluknya dan memberikan kecupan di wajahnya.


Dua bocah itu mencium bersamaan pipi wanita yang selalu memberikan kasih sayang pada mereka itu. “I love you, Mama,” ungkap keduanya setelah puas menghukum Gwen.


“Uncle, sekarang giliranmu.” Selena mengingatkan Danzel karena pria itu masih diam mematung menatap mamanya.


Danzel mengelus rambut halus Selena, merendahkan sedikit tubuhnya agar mudah membisikkan sesuatu di telinga anak manis itu. “Selena, bisa kau tutup matamu dan adikmu?” pintanya.


“Kenapa, uncle?” tanya Selena bingung.


“Uncle malu kalau mencium mamamu di depan kalian.” Ada saja Alasan Danzel, padahal dia hanya tak ingin mencemari mata kedua bocah itu.


“Baiklah, uncle. Aku dan Aldrich tak akan melihat.” Selena pun memejamkan matanya dan mengajak adik tirinya untuk melakukan hal yang sama.


“Anak yang penurut,” gumam Danzel. Dia pun meraih dagu Gwen agar menghadap ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2