My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 27


__ADS_3

“Tentu saja boleh.” Danzel langsung menjawab dengan semangat.


“Tapi, aku tak memiliki banyak pengalaman bekerja sebagai sekretaris perusahaan besar,” timpal Gwen agar Danzel kembali memikirkan keputusan.


“Tenang, nanti akan aku ajari sampai kau mahir,” balas Danzel. Karena terlalu senang, membuatnya reflek meraih tangan Gwen dan digenggam erat. “Kau tak perlu melakukan interview. Mulai hari ini kau resmi ku angkat menjadi sekretarisku,” imbuhnya.


“Kenapa secepat itu? Bukankah seharusnya aku mengikuti sesuai prosedur?” protes Gwen yang tak enak jika bekerja melalui jalur orang dalam. Tangannya dia tarik agar tak digenggam oleh Danzel, benar-benar memberikan jarak antar keduanya.


“Oh, maaf, tanganku sudah lancang.” Danzel menyengir kuda sebelum membalas pertanyaan yang diajukan oleh Gwen. “Aku CEO nya, jadi bebas memilih siapa saja yang akan bekerja denganku,” terangnya. Dan tak bisa dibantah lagi oleh Gwen.


“Tapi, aku memiliki dua anak yang masih kecil dan membutuhkan pengawasanku.” Gwen mencoba menjelaskan situasinya yang tak seperti wanita lajang lagi. Dia harus memikirkan kondisi dua anaknya juga.


“Khusus untukmu, kau boleh membawa Aldrich dan Selena ke kantor.”


“Benarkah?” Gwen bertanya seraya menaikkan sebelah alisnya untuk menyakinkan kesungguhan dari ucapan Danzel.


“Tentu saja.”

__ADS_1


Danzel mana mungkin melewatkan kesempatan emas ini. Bisa bekerja dengan Gwen tentunya akan memudahkan dia untuk semakin dekat dengan sang pujaan hati.


Pria itu pun menghubungi Steve agar tak jadi membuat iklan lowongan pekerjaan. Dan dia pulang ketika waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Gwen juga sudah beberapa kali menguap.


Dengan hati yang gembira, Danzel memasuki mansion keluarga Pattinson. Tangan kanannya masuk ke dalam saku celana, sedangkan sebelah kiri menenteng tas kerjanya.


“Bahagia sekali wajahmu.” Suara seorang wanita yang setiap hari menghantui agar Danzel segera menikah itu terdengar nyaring. Dia adalah Mommy Megan yang kini tengah berkacak pinggang di ujung tangga.


“Tentu saja.” Danzel mengecup pipi kanan dan kiri wanita yang melahirkannya. Lalu memeluk tubuh tua itu.


“Memang aku sedang jatuh cinta.” Danzel memegang kepala orang tuanya dan mengecup kening Mommy Megan.


Muah!


“Akhirnya aku merasa seperti terlahir kembali,” seloroh Danzel. Bibirnya tersenyum terus, seolah tak lelah memperlihatkan kepada siapa pun akan kebahagiaannya.


Mommy Megan menjewer telinga putranya hingga Danzel mengaduh. Dia berpikir putranya bahagia karena sudah menjahili wanita yang dia kenalkan. Sebab, sampai sekarang Danzel belum memperkenalkan wanita satu pun padanya. Ia kira putranya hanya berkilah untuk menghindar.

__ADS_1


“Apa salahku, Mom? Kenapa kau menarik telingaku?” tanya Danzel berusaha melepaskan telinganya dari keganasan sang mommy.


“Apa? Seharusnya mommy yang bertanya padamu, bocah nakal.” Mommy Megan tambah mencubiti perut Danzel. “Kau apakan Alcie sampai dia menangis?” Mata wanita tua itu memelototi putranya.


“Aku tak melakukan apa pun padanya.” Danzel berusaha membela dirinya.


“Jika kau tak melakukan apa pun, bagaimana bisa dia sampai sesegukan ketika meneleponku?” Mommy Megan tetap saja tak berhenti mencecar putranya agar mengaku. “Kau menakutinya dengan hantu. Iya, kan?”


“No, mommy. Kau itu kenapa percaya sekali dengan wanita siluman itu,” sangkal Danzel.


“What? Siluman?”


“Ya.” Danzel mengangguk membenarkan.


“Bisa-bisanya kau mengatakan wanita cantik seperti siluman.” Mommy Megan menjewer kedua telinga putranya agar tak sembarangan memberikan julukan pada orang lain.


Danzel menggelitiki orang tuanya hingga kegelian dan melepaskan tangan yang menjewer telinganya. Dia hanya ingin menyelamatkan diri saja, tak bermaksud jahil.

__ADS_1


__ADS_2