
“Masuk minggu ke empat,” jawab Gwen. Dia senang karena Danzel menerima kehamilannya dengan suka cita walaupun sudah kecewa dengan status pernikahannya.
“Untung belum terlambat aku mengetahuinya. Mungkin jika aku tahu saat kandunganmu sudah besar atau anakku telah lahir, pasti akan sangat menyesali perbuatanku yang meninggalkanmu.” Danzel menarik tangan Gwen perlahan agar merebahkan tubuh di ranjang, tangan kanannya dibiarkan sebagai bantalan sang wanita dan sebelah kiri untuk mengelus perut Gwen.
“Jangan meninggalkan aku lagi, Danzel. Anak-anak kita pasti butuh sosok seorang papa,” pinta Gwen. Dia juga menceritakan bahwa selama tak ada Danzel sering merasakan kram dan zigot di dalam rahimnya kurang berkembang dengan sempurna akibat banyak pikiran.
“Tentu, aku akan menemani kalian sampai akhir hayat. Dan pasti akan memenuhi janjiku yang akan menikahimu saat kau hamil,” ungkap Danzel. Bagaimana bisa dia meninggalkan wanita yang rela mengandung buah hatinya sendirian atau menderita tanpa kehadirannya. “Jika Sanchez memperumit perceraianmu, aku akan melakukan segala cara walaupun harus mengancamnya,” imbuhnya.
Dan tak lama kemudian, keduanya pun hanyut ke alam mimpi merajut semua kebahagiaan di sana.
__ADS_1
Malam terasa lebih lama saat salju turun, sehingga Danzel dan Gwen tidur lebih nyenyak tanpa terbangun sedikit pun. Namun suara pintu yang terbuka dari luar membuat Danzel harus membuka mata saat itu juga.
Danzel memicingkan mata melihat orang tuanya berdiri di ambang pintu. “Mom? Kau juga di sini?” tanyanya.
Mommy Megan mengayunkan kakinya kian mendekati Danzel. “Ck, ck, ck. Anak mommy sudah selesai merajuknya?” godanya. Dia justru membuat kepergian putranya sebagai bahan candaan.
“Mom ...,” tegur Danzel, rasanya malu sekali diejek oleh orang tua sendiri.
Danzel menyengir dan maksudnya bisa ditangkap jelas oleh sang mommy. “Kau yang terbaik, mom. Itulah kenapa aku menyayangimu,” pujinya. Ingin memeluk dan mengucapkan terima kasih dengan wanita yang melahirkannya tapi Gwen masih terlelap di pelukannya.
__ADS_1
Mommy Megan mencubit lengan Danzel sangat kecil hingga putranya mengaduh tapi tak bersuara karena menahan diri agar tak mengganggu Gwen tidur. “Lain kali selesaikan masalahmu dengan jantan, jangan kabur-kaburan seperti anak kecil. Untung wanita yang kau cintai sabar menghadapi kelakuanmu, bagaimana kalau orang lain? Pasti sudah malas menyusul ke sini dan lebih baik mencari pria lain,” omelnya.
“Maka dari itu aku sangat mencintainya,” ujar Danzel. Mengecup kening Gwen hingga membuat wanitanya melenguh dan terbangun.
“Morning.” Danzel langsung menyapa dan mencium bibir ranum mama dari anak-anaknya. Dan dibalas dengan kalimat yang sama juga oleh Gwen.
Mommy Megan benar-benar merasa seperti pajangan yang tak terlihat. Bisa-bisanya kedua manusia itu bermesraan di depan matanya. “Ehem!” Dehemannya menghentikan Gwen dan Danzel yang sedang berciuman.
Danzel dan Gwen menatap bersamaan ke arah Nyonya Pattinson itu. Jika Gwen merasa canggung, berbeda dengan Danzel yang nampak biasa saja.
__ADS_1
“Kemasi barang kalian segera, kita pulang ke Finlandia sekarang sebelum salju turun lagi dan penerbangan ditunda!” perintah Mommy Megan. Sudah tak ada lagi yang akan dilakukan di sana juga.