
“Ide bagus, Steve. Di mana wanita itu sekarang?” Danzel menyetujui usulan sang asisten. Lagi pula sudah ada bukti nyata kalau Alcie sampai babak belur karena bertengkar dengan orang itu.
“Masih di dalam tahanan, Tuan. Dia tak menghubungi kerabat satu pun sebagai penjamin,” jelas Steve yang memang sudah mengorek informasi dari temannya yang bekerja sebagai polisi di sana. Bisa jadi sewaktu-waktu dibutuhkan dan ternyata memang benar atasannya senang dengan berita yang dia ceritakan itu.
“Tumben sekali ada orang yang pasrah dipenjara,” ujar Danzel. Dia penasaran dengan wanita itu sampai tak berniat untuk keluar dari jeruji besi.
“Dia memang langganan keluar masuk penjara, Tuan. Mungkin sudah biasa,” balas Steve sekenanya. Dia juga tak tahu persis apa alasan dibalik pasrahnya wanita bertato itu.
“Oke, kau pergilah ke kantor polisi dan jamin orang itu untuk keluar. Langsung tawari dia bekerja menjadi bodyguard wanitaku!” titah Danzel dengan tegas. Dirasa sudah cukup obrolannya, ia memutar tubuh untuk kembali ke ruangannya.
“Tuan, jangan lupa pulang ke mansion Pattinson. Bisa-bisa Nyonya Megan menggangguku semalaman kalau Anda tak menurutinya.” Steve mengingatkan atasannya sebelum tubuh Danzel benar-benar menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
“Iya!” Danzel tak berbalik sedikit pun. Ia kembali melanjutkan pekerjaan yang masih menggunung.
Sedangkan Steve menuju lift dan turun ke basement untuk menjalankan tugasnya. Ke kantor polisi bertemu wanita bertato yang dia sendiri belum tahu namanya.
Steve menemui temannya yang berprofesi sebagai polisi. Dia meminta untuk dipertemukan dengan wanita yang beberapa hari lalu diceritakan padanya itu.
“Tunggu sebentar, aku akan menjemputnya.” Teman Steve pamit undur diri dari ruangan yang tak terlalu luas, tempat biasa untuk mengunjungi tahanan di sana.
“Aku tinggal keluar,” pamit teman Steve setelah memberikan perintah pada tahanannya duduk di hadapan asisten seorang CEO Patt Group itu.
“Oke, terima kasih sudah membantuku,” ujar Steve.
__ADS_1
Kini di ruangan itu hanya tersisa mereka berdua. Steve mengamati gerak gerik wanita di hadapannya yang terus menatap dirinya tajam tanpa rasa takut.
“Apa kau mencariku hanya untuk memandangku saja?” tegur wanita tersebut. Lama sekali mereka berdiam diri tanpa pembicaraan hingga dia merasa membuang waktu berharganya yang seharusnya bisa digunakan untuk tidur di dalam sel tahanan.
“Oh, maaf. Perkenalkan dulu, aku Steve.” Dia mengulurkan tangan, mengajak jabatan tapi diabaikan dan membuatnya menarik lagi anggota tubuhnya itu.
“Langsung saja pada intinya, apa maumu?” tanya wanita itu tanpa basa-basi. Tak mungkin jika ada orang yang mencari dirinya tapi tak memiliki tujuan.
Steve cukup terkesan dengan wanita tersebut. Tegas dan tak suka basa-basi. “Siapa namamu?”
Wanita tersebut justru tersenyum sinis, menyandarkan badan di sandaran kursi, menyilangkan tangan dan kakinya. Dia terlihat sangar untuk ukuran seorang wanita yang seharusnya lemah lembut. “Kau lucu juga, ya! Bisa meminta polisi untuk bertemu denganku tapi tak tahu namaku!”
__ADS_1
Lirih tapi sangat menusuk. Ucapan wanita itu bahkan bisa membuat Steve tak berkutik untuk menjawab.