
Tanpa mengantri terlebih dahulu, Danzel dan Gwen langsung diarahkan masuk ke dalam ruangan dokter kandungan. Mallory, nama seorang wanita yang memakai jas berwarna putih di mana saat ini orang tersebut sedang duduk di hadapan mereka. Dia adalah dokter wanita yang direkomendasikan oleh mommy Megan saat CEO Patt Group itu bertanya tentang dokter kandungan yang bagus di Kota Helsinki.
“Selamat siang, Tuan Danzel dan Nona,” sapa dokter Mallory dengan ramah. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
“Aku ingin mengecek kondisi kandungannya apakah masih bisa untuk hamil lagi atau tidak, dan juga aku ingin melakukan program bayi kembar,” jelas Danzel.
“Baik, silahkan nona berbaring di atas brankar terlebih dahulu. Saya akan melakukan pengecekan.” Dokter Mallory mempersilahkan Gwen untuk mengikutinya.
Danzel membantu wanitanya untuk merebahkan tubuh di brankar. Dia menunggu di samping Gwen layaknya seorang suami yang sedang menemani istrinya cek kandungan.
Dokter mengecek kandungan Gwen dengan USG. Dia melakukan serangkaian prosesnya seperti saat melihat janin orang hamil.
Tangan Danzel terus setia menggandeng Gwen, matanya fokus pada monitor yang tak terlalu besar. Dia tak paham dengan hasil di layar tersebut.
__ADS_1
“Bagaimana, dok?” Lebih baik Danzel bertanya saja daripada sok tahu.
“Kondisi rahimnya baik, Tuan.” Dokter menyudahi pemeriksaan. Dia mengajak Danzel dan Gwen duduk kembali.
“Kalau untuk hamil anak kembar, apakah tak masalah di saat umurnya sudah tiga puluh enam tahun?” tanya Danzel.
Dokter mengangguk dan menjelaskan beberapa program kehamilan pada Danzel. CEO Patt Group itu hanya mendengarkan dengan teliti. “Jika yakin ingin melakukan program anak kembar, saya akan memberikan obat khusus untuk kesuburan sel telur agar bisa memproduksi ovum lebih dari satu.”
Gwen tak langsung menjawab. Sorot matanya menelisik mimik wajah Danzel yang penuh harap. Dia tak ingin menghilangkan binar kebahagiaan atasannya. Tak terasa mereka berdua memang sudah sama-sama saling membutuhkan untuk mengisi kekosongan hati. Kepalanya mengangguk beriringan dengan jawaban terlontar dari bibir manisnya. “Aku mau.”
Kecupan sebanyak tiga kali langsung mendarat di bibir Gwen, tak peduli disaksikan oleh dokter Mallory. Danzel hanya merasakan bahagia untuk saat ini.
Dokter Mallory pun menuliskan sebuah resep. “Silahkan, untuk obatnya bisa diambil di apotik dan mungkin di sana harus menunggu sedikit lama, karena memang ini adalah resep khusus yang dibuat oleh apoteker di sini. Tapi tenang saja, sudah banyak dicoba oleh pasien dokter kandungan di rumah sakit ini,” jelasnya seraya memberikan selembar kertas berisi tulisan abstrak yang Danzel tak bisa baca.
__ADS_1
Danzel mengucapkan terima kasih pada dokter tersebut dan bersedia menunggu lumayan lama. Kurang lebih satu jam dia habiskan hanya untuk mendapatkan sebuah obat untuk hamil anak kembar.
...........
Dua pekan berlalu, setiap hari Danzel selalu mengingatkan Gwen untuk mengkonsumsi obat yang harganya lumayan mahal. Dan sekretarisnya itu juga menurut.
Dering ponsel Gwen berbunyi tepat saat dia sedang menelan pil. Danzel yang berada di samping wanita itu pun melirik ke arah layar yang menyita perhatiannya.
Kening Danzel mengkerut ketika membaca nama yang tertera di sana. “Alcie?” gumamnya. Tapi dia segera meyakinkan pikirannya sendiri kalau si penelepon bukanlah orang yang sama dengan medusa sebab pemilik nama Alcie bukan satu orang saja. Mana mungkin Gwen berteman atau kenal dengan seseorang yang sangat menyebalkan seperti anak teman mommynya.
...*****...
...Lama juga ga liat si medusa, kangen kan kalian wkwkwk....
__ADS_1