
Mommy Megan yang dipanggil pun langsung menghampiri Gwen. Sedari tadi dia mengintip interaksi anaknya dan calon menantunya dari jendela.
“Kenapa, Gwen?” tanya Mommy Megan. Dia tak tahu jika Danzel sedang tak sadarkan diri karena posisi putranya seperti sedang memeluk Gwen dan menyembunyikan kepala di bahu calon menantunya.
“Tolong bantu aku memindahkan Danzel ke dalam. Aku tak kuat, dan sepertinya dia tak sadarkan diri. Tubuhnya panas sekali,” pinta Gwen.
“Oke.” Mommy Megan pun berjongkok dan meletakkan tangan Danzel di lehernya. “Kau lakukan seperti aku, aku tak kuat jika sendirian.”
Gwen juga melakukan hal sama dengan Mommy Megan. Keduanya pun membawa Danzel memasuki rumah dengan susah payah karena pria itu tak melangkah hingga kaki yang tak terbalut alas apa pun itu terseret di lantai berlapis kayu.
Dua wanita tangguh itu menghempaskan Danzel di kasur empuk dengan kasar karena terlalu lelah membawa beban berat.
__ADS_1
“Akhirnya ...,” Mommy Megan langsung duduk di samping anaknya dengan napas yang sedikit terengah-engah.
Jika Mommy Megan sedang meregangkan otot, lain hal dengan Gwen yang memposisikan Danzel agar tidur dengan nyaman. Tak lupa memakaikan jaket yang tebal dan menyelimuti tubuh sang pria.
Gwen pun beralih duduk seraya mengelus wajah Danzel dengan penuh perhatian. “Apa efek obat pengar seperti ini?” tanyanya pada Mommy Megan.
Mommy Megan mengedikkan bahunya. “Aku juga tak tahu kenapa bisa seperti itu. Efek ngantuk pada obat biasanya datang setelah beberapa jam,” jelasnya.
“Bisa jadi.”
“Aku kompres dia saja kalau begitu.” Gwen beranjak meninggalkan Danzel untuk mengambil air dan handuk bersih yang sudah diberi tahu oleh Mommy Megan di mana tempat penyimpanannya.
__ADS_1
“Aku juga ingin istirahat, menyelesaikan masalah anakku membuatku lelah. Bahkan sampai harus pergi ke Irlandia menyusul bocah satu ini yang selalu kecewa perihal percintaannya akibat tak hati-hati menaruh perasaan pada seseorang.” Mommy Megan mencubit hidung putranya karena terlalu gemas dengan tingkah Danzel. Setelah puas, dia pun keluar dan menuju kamarnya sendiri.
Sementara itu, Gwen datang membawa baskom berisi air panas. “Untung aku dan mommymu datang tepat waktu, jika kau seperti ini terus entah apa yang akan terjadi dengan kondisimu, siapa yang akan merawatmu saat sakit seperti ini?” Dia bergumam sendiri dengan tangan yang aktif mencelupkan handuk kecil ke dalam air panas sebelum menjadi dingin.
Dengan telaten, Gwen mengompres dahi Danzel dan menunggu handuk berwarna putih itu mulai menuju dingin. Dia pun menyudahi kegiatan tersebut setelah airnya tak panas lagi.
Gwen mengembalikan baskom dan handuk ke dapur terlebih dahulu, lalu mengecek lagi suhu tubuh Danzel. “Masih belum turun. Mungkin suhu ruangannya harus aku naikkan,” gumamnya.
Wanita yang sedang mengandung lebih dari satu zigot itu pun mencari remot untuk mengatur suhu ruangan. Dia menaikkan temperatur hingga rasa dingin tak bisa menembus kulit lagi.
Gwen pun ikut merebahkan dirinya di samping Danzel, memeluk tubuh sang pria dan membenamkan kepalanya di bahu kokoh CEO Patt Group.
__ADS_1
Jika beberapa hari ini Gwen sangat sulit tidur, lain hal dengan sekarang. Baru juga menghirup aroma tubuh Danzel satu menit yang lalu, kini sudah melayang ke alam mimpi saja.