
Jika Danzel sedang bersiap-siap dengan Gwen dan kedua calon anak sambungnya di sebuah salon. Berbeda dengan Tuan dan Nyonya Pattinson yang masih berada di dalam mansion.
Mommy Megan sudah rapi memakai gaun berwarna merah maroon yang menambah kesan glamour pada dirinya. Ia sangat antusias ingin segera bertemu dengan wanita pilihan Danzel.
Tapi lain hal dengan Daddy Marlin yang masih menggunakan pakaian santai dan bermalas-malasan di atas kasur.
Mommy Megan yang baru saja keluar dari walk in closetnya langsung memberikan tepukan di pantat suaminya. “Kau itu bagaimana, sebentar lagi makan malam keluarga. Danzel akan memperkenalkan calonnya pada kita, tapi lihatlah dirimu yang masih bersantai di sini,” omelnya.
“Pria tak membutuhkan waktu lama untuk bersiap, kau bisa satu jam sendiri hanya untuk berdandan. Aku cukup lima menit juga sudah rapi,” jelas Daddy Marlin seraya menegakkan duduknya.
“Bersiaplah sekarang, sepuluh menit lagi kita berangkat,” titah Mommy Megan seraya menarik tangan suaminya agar segera beranjak dari kasur.
Daddy Marlin bergeming, bibirnya manyun seolah meminta sebuah kecupan. “Cium aku dulu,” pintanya. Ternyata anak dan bapak sama saja, suka modus.
__ADS_1
Jika sudah seperti ini, Mommy Megan hanya bisa memberikan permintaan suaminya. Daripada tak segera berangkat dan tak jadi bertemu calon menantunya.
Cup!
Mommy Megan sudah melabuhkan sebuah kecupan di bibir Daddy Marlin. Namanya juga pria, dia langsung meraih tengkuk sang istri dan memperdalam ciuman sampai puas.
Mommy Megan memukul pelan dada suaminya karena sudah lima menit tapi belum juga dilepaskan. Tak mempan, dia pun menggunakan jari untuk menutup hidung suaminya.
Dan Daddy Marlin pun baru menyudahi ciumannya. “Aku tak bisa bernapas jika kau tutup lubang pernapasanku,” protesnya.
Mommy Megan pun beranjak dari tempat tidur. Dia mengambilkan setelan jas berwarna sama seperti yang dia pakai.
“Ayo berdiri, aku bantu gantikan.” Mommy Megan menarik paksa tangan suaminya hingga menapakkan kaki di atas lantai.
__ADS_1
Tangan wanita yang sudah melahirkan seorang pewaris Patt Group itu mulai melucuti kain demi kain yang menutupi sang suami. Hingga Daddy Marlin kini sangat polos.
“Apa tak sekalian kita bermain sebentar di atas ranjang?” tawar Daddy Marlin menggoda istrinya.
Mommy Megan mencubit pangkal paha suaminya. “Sudah tua masih saja ingin bercinta,” tolaknya.
Daddy Marlin terkekeh, dia sadar betul istrinya yang lebih tua dua tahun darinya sudah tak memiliki banyak hasrat seperti saat muda. Tapi berbeda dengan dirinya yang masih menggebu-gebu. “Bercanda, Sayang.” Ia pun menarik tangan Mommy Megan yang hendak memakaikan celana padanya.
“Aku bisa sendiri.” Daddy Marlin mengambil alih celana panjang dari tangan Mommy Megan. Ia tak ingin mendapatkan sentuhan dari istrinya karena sudah pasti akan mengaktifkan keinginannya untuk menyerang di atas ranjang. Pasti dia tak akan terpuaskan, maka lebih baik menghindari sentuhan dari Mommy Megan daripada sudah tegang tapi tak bisa dikeluarkan.
“Baiklah.” Mommy Megan tak memaksa. Dia cukup duduk manis dan melihat suaminya bersiap.
“Ayo, aku sudah siap.” Daddy Marlin mengulurkan tangannya setelah semua pakaian pilihan istrinya telah melekat di tubuh tegapnya.
__ADS_1
“Apa kau tak menyisir rambutmu terlebih dahulu? Atau memakai pomade untuk membuatmu lebih terlihat rapi?” tanya Mommy Megan. Suaminya sungguh tak memperhatikan penampilan.