My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 166


__ADS_3

“Mommy pulang sendiri saja, aku ingin berlama-lama di sini bersama Gwen. Kapan lagi bisa berduaan dengannya tanpa ada gangguan,” tolak Danzel. Dia justru semakin memeluk wanitanya semakin erat.


“Jangan mentang-mentang kau CEO dan bisa berlaku seenaknya! Pekerjaanmu di kantor banyak, ingat itu!” tegur Mommy Megan. Dia menjewer telinga sang anak. “Cium bau badanmu itu! Berapa hari kau tak mandi, alkohol semua aromanya,” titahnya. Bahkan dia sendiri sampai menutup hidung karena putranya benar-benar tak mengurus diri.


“Satu jam lagi aku tunggu di depan, jika tak cepat bersiap, ku seret kalian berdua!” ancam Mommy Megan. Dia pun pergi meninggalkan sepasang manusia yang sedang berbahagia atas kehamilan Gwen.


Selepas kepergian Mommy Megan, Gwen pun mengedus aroma tubuh Danzel. Dia penasaran dengan yang dicium oleh mertuanya itu. Tapi hidungnya merasa enak-enak saja. “Memangnya kau tak mandi berapa hari?”


Danzel terkekeh seraya tangannya mengelus rambut Gwen. “Sejak sampai di sini dan hingga sekarang aku belum mandi,” jawabnya membongkar aib kejorokannya.


“Hoek ....” Gwen berakting seolah ingin muntah, dia hanya mengejek saja.


Dan hal itu justru membuat Danzel semakin membenamkan kepala sang wanita di dada bidangnya. “Kau itu jangan berpura-pura risi, bahkan semalaman penuh kau menciumi ketiakku,” kelakarnya.

__ADS_1


Gwen pun menunjukkan rentetan gigi putihnya. “Sudah, ayo mandi. Nanti Mommymu menyeret kita keluar kalau tak menurut,” ajaknya.


“Tapi berdua, oke?” Danzel menaik turunkan alisnya mengajukan penawaran.


“Iya, Sayang.” Gwen menyatukan hidungnya dengan milik Danzel dan sengaja digeseknya dengan gemas.


Danzel menggendong Gwen menuju kamar mandi yang ada di ruangannya.


“Tapi aku ingin melakukannya untukmu.” Danzel menyingkirkan tangan Gwen yang menutupi kaus berwarna putih, dan meloloskan benang tersebut. “Apa aku boleh melakukannya? Rasanya sangat rindu pada tubuhmu ini,” izinnya setelah melihat bentuk tubuh wanitanya dari atas hingga bawah.


“Makanya jangan kabur-kabur lagi.” Gwen mencubit gemas perut Danzel. “Lebih baik kita jangan melakukannya dulu, kandunganku masih sangat muda. Kita konsultasi dengan dokter saja, jika diperbolehkan maka lakukan tapi kalau tidak kau harus berpuasa lama,” jelasnya.


Danzel menghela napasnya kecewa. “Lalu, ini bagaimana, sudah terlanjur tegak.” Jarinya menunjuk daerah pangkal paha.

__ADS_1


Gwen pun terkekeh saat melihat area tersebut. Dia menaikkan tangannya. “Ada ini.”


“Huft ....” Daripada tak tertidur, maka Danzel pun menerima ide sang wanita untuk menakhlukkan geoduck menggunakan tangan.


Dan setelah mencapai pelepasan, keduanya pun membersihkan tubuh bersama. Gwen membantu menggosok punggung sang pria dan membersihkan rambut yang terasa kaku. Mereka saling bergantian satu sama lain. Tepat satu jam, Danzel dan Gwen sudah siap dan rapi.


“Kau tak membawa apa pun ke sini?” tanya Gwen saat mereka hendak keluar tapi tak melihat sang pria menenteng barang.


“Tidak, aku hanya membawa tubuhku, paspor, ponsel dan dompetku saja,” jelas Danzel. “Sini, aku bawakan barangmu.” Dia mengambil alih tas ransel milik Gwen dan menyampirkan di lengannya.


Danzel melingkarkan tangan ke pinggang Gwen dan berjalan beriringan menemui Mommy Megan yang sudah menanti di ruang tamu.


Mommy Megan menggelengkan kepala melihat tingkah putranya. “Menempel terus dengan Gwen, tapi kabur-kaburan dan tak mau mencari tahu permasalahannya terlebih dahulu, harus mommy yang turun tangan. Dasar anak siapa itu.” Lagi-lagi dia mengejek putranya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2