My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 34


__ADS_3

“Aldirch duduk di sini dulu, ya.” Danzel mendaratkan bocah mungil itu ke atas sofa empuknya. Lalu menatap Gwen yang berdiri di belakangnya. “Kau juga tunggu saja di sebelah anakmu, sebentar lagi Steve akan menyiapkan meja kerjamu.”


“Baik, Tuan.” Gwen mengayunkan kakinya menuju tempat yang ditunjuk atasan barunya.


Panggilan itu membuat Danzel menghembuskan napasnya. “Kenapa kau memanggilku tuan lagi, kan sudah aku katakan untuk memanggil namaku,” protesnya. Dia menghitung sudah lebih dari tiga kali Gwen memanggilnya seperti itu. Dia tak nyaman dengan hal tersebut.


“Ku rasa tak sopan ketika karyawan memanggil atasannya nama biasa,” terang Gwen mengutarakan alasannya memanggil tuan. “Aku tak ingin ada gosip yang beredar jika lancang memanggilmu Danzel,” imbuhnya.


“Gosip adalah sebuah fakta yang disebar luaskan, jadi tak masalah juga jika banyak berita yang didengar oleh karyawanku tentang kita,” timpal Danzel seraya duduk di sofa khusus untuk satu orang.


“Maksud aku bukan sebuah fakta yang beredar, tapi tudingan atas salah tafsir tentang kita,” ralat Gwen.


“Kalau itu namanya fitnah.”


“Iya, itu maksudku, aku tak mau ada fitnah. Jadi izinkan aku memanggilmu dengan tuan,” pinta Gwen.

__ADS_1


“Terserah kau sajalah, yang pasti jangan panggil aku seperti itu ketika di luar kantor. Aku tak ingin ada batasan layaknya atasan dan bawahan denganmu.” Danzel pun mengalah, berdebat dengan Gwen ternyata sulit juga.


Gwen hanya membalas dengan senyuman tanpa sepatah kata pun.


“Permisi, Tuan. Aku mau memasukkan kursi.” Steve meminta izin kepada Danzel. Tangannya sudah menarik tempat untuk duduk Gwen.


“Taruh saja.”


Steve pun meletakkan kursi kerja sekretaris ke dalam ruang CEO. Dan keluar lagi untuk memindahkan komputer. Baru dia memasukkan meja yang lumayan berat dengan menggotong sendirian. Nasibnya memiliki atasan yang sedang jatuh cinta, membuatnya harus angkat beban berat di pagi hari. Napasnya terlihat engos-engosan.


“Lemas sekali kau, Steve,” tegur Danzel.


“Ck! Steve ...!” tegur Danzel dengan melotot ke arah asistennya. “Ada anak kecil, hati-hati jika berucap.”


Steve menyengir kuda. “Maaf, keceplosan. Lagi pula kalimatku ambigu, anak sekecil dia sepertinya belum paham.”

__ADS_1


Gwen yang sedari tadi hanya menjadi pendengar pun berdeham. “Apakah kau membutuhkan bantuan?” tanyanya pada Steve agar kedua pria itu berhenti memperdebatkan pembicaraan khusus orang dewasa.


“Tidak, aku bisa sendiri,” tolak Steve. Padahal dia ingin mengatakan iya butuh, tapi pijatan karena pegal. Namun tak jadi, ia memilih mencari aman karena Danzel sudah melotot ke arahnya.


“Baiklah, tapi jika kau berubah pikiran, katakan saja. Aku akan membantumu,” balas Gwen dengan tulus. Rasanya kurang nyaman, sudah masuk jam kerja tapi dia masih bersantai di sana seperti istri pemilik perusahaan saja.


Steve tak menanggapi lagi karena atasannya yang kini mulai posesif itu menatapnya sangat tajam. Dia memilih untuk memposisikan meja di dekat tembok yang berhadapan dengan meja kerja Danzel.


“Apakah di sini sudah benar, Tuan?” tanya Steve.


Danzel nampak berpikir dan melihat posisi meja itu. “Tidak, coba kau pindah ke sana,” pintanya menunjuk sudut lain.


Steve pun menuruti perintah Danzel, mengangkat lagi perkakas dengan empat kaki itu. “Sudah?”


“Belum, coba di samping meja kerjaku.”

__ADS_1


Steve menghembuskan napasnya, tapi tetap menurut. Nasibnya karena menjadi bawahan, tak bisa menghindari tugas. Lebih malangnya lagi, sudah dua puluh lima kali dia memindah meja itu, tapi tak ada satu pun yang cocok. “Tuan, Anda sedang mengerjai saya, ya?” tebaknya.


Danzel menaikkan alisnya pertanda membenarkan dan hanya bisa dipahami oleh Steve saja. Dia memang sengaja melakukan itu karena asistennya berbicara dengan Gwen selama lebih dari tiga menit. Tapi mulutnya berkata berbeda. “Tidak, untuk apa aku mengerjaimu,” elaknya agar wanita pujaan hatinya tak menilainya buruk.


__ADS_2