
Mommy Megan tak ingin memikirkan penyelesaian itu sendirian. Dia akan mencari pengacara terbaik saja daripada pusing tujuh keliling mencari cara agar Gwen berhasil bercerai dengan Sanchez tanpa harus bolak-balik ke pengadilan.
Gwen tak jadi mengajukan gugatan pada hari senin, sebab rencana Mommy Megan dan dirinya belum matang sempurna. Bukti-bukti atau alasan yang sangat kuat belum mereka dapatkan. Aldrich sudah tak bisa diandalkan lagi dan perselingkuhan Sanchez juga telah terjadi di masa lalu. Rekaman percakapan Gwen dan suami bisa saja ditampik oleh Sanchez sehingga mereka akan mencari dan memperkuat bukti lain.
Kekerasan yang dilakukan oleh suami Gwen juga sudah tak ada bekas. Bukti fisiknya juga tak ada. Otak mereka bekerja keras hanya untuk memikirkan sebuah perceraian saja.
Setiap hari Mommy Megan akan datang ke kantor atau berkunjung ke apartemen dengan alasan ingin mengajak Gwen jalan-jalan. Padahal sejujurnya mereka melakukan diskusi bersama pengacara.
Gwen baru saja diantarkan ke kantor oleh calon mertuanya. Mereka baru saja makan siang bersama. Dia berjalan memasuki ruangan CEO dengan wajah yang berbinar agar Danzel tak banyak bertanya padanya.
“Sepertinya ada calon menantu yang semakin dekat dengan mertuanya,” goda Danzel saat Gwen sudah membenamkan diri di kursi kerja. Kakinya mengayun segera menghampiri wanitanya untuk menggoda lagi.
“Agar direstui mommymu,” ungkap Gwen. Tangannya mengelus rahang tegas Danzel yang sudah berada di hadapannya.
“Restu mommyku mudah, Sayang. Cukup mengandung anakku, maka sudah pasti kita akan dinikahkan,” bisik Danzel. Tangannya mulai nakal membuka ritsleting jaket tebal wanitanya.
__ADS_1
Gwen mencegah tangan Danzel yang hendak meloloskan pakaian bagian atasnya. “Jangan di sini, bagaimana kalau Steve atau Chimera mendadak masuk?”
“Baiklah, kita bermain di dalam kamar saja.” Danzel menarik tangan Gwen agar berdiri. Dia menggendong tubuh wanitanya di depan.
Keduanya melucuti pakaian satu sama lain dan membiarkan tubuh menggairahkan itu polos. Mereka pun memadu kasih penuh gairah dan melupakan sejenak pekerjaan yang untungnya tak terlalu banyak untuk hari ini.
“Danzel, perutku kram,” rintih Gwen saat sang pria menghentaknya dengan cepat.
Danzel yang sedang mendaki ke atas nirwana dan sebentar lagi akan mencapai pada puncaknya itu pun langsung berhenti menggerakkan pinggul. Dia melepaskan geoducknya dan mengelus perut wanitanya.
“Apa kau hamil?” tanya Danzel. Dia sangat berharap ada buah hatinya di dalam perut Gwen.
Danzel menghembuskan napas lemah, geoducknya belum tertidur dan masih tegak berdiri. “Aku akan melakukan sangat pelan kali ini. Dan semoga bisa cepat tumbuh bibit kehidupanku yang ini,” izinnya.
Gwen mengangguk seraya mengelus perutnya yang kramnya mulai sedikit reda.
__ADS_1
Danzel memulai lagi permainannya. Kali ini tak mengedepankan napsu saja. Ternyata gairah yang berlebihan bisa menyakiti wanitanya.
Danzel mencoba memberikan kenyamanan pada Gwen agar tak merasa sakit. Tak biasanya sekretaris Patt Group itu merasakan kram ketika bercinta dengannya.
Keduanya pun mengerang nikmat saat Danzel mengeluarkan bibit kehidupan calon penerus Patt Group. Saling berpelukan menetralkan adrenalin jantung yang masih berdebar.
“Apakah masih sakit?” tanya Danzel, mengusap lembut permukaan perut wanitanya.
“Sedikit.”
“Kita ke rumah sakit saja, siapa tahu kau memiliki penyakit yang serius,” ajak Danzel.
“Tidak, nanti juga reda sendiri. Sudah beberapa hari ini memang sering terasa kram,” ungkap Gwen.
Danzel membalikkan tubuh wanitanya untuk menghadap ke arahnya. “Kenapa kau tak bilang jika merasa sakit?” omelnya.
__ADS_1
“Aku tak ingin membuatmu khawatir dengan sakit yang sepele seperti ini. Dikompres air hangat saja sudah enakan lagi,” jelas Gwen sangat lembut. Berharap Danzel tak marah padanya.
“Jangan menyembunyikan apa pun dariku, Gwen. Walaupun masalahmu kecil, katakan padaku,” pinta Danzel.