My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 99


__ADS_3

Danzel menyudahi pagutan panasnya. Menyentuh bibir Gwen menggunakan jari untuk menghilangkan sisa salivanya yang masih menempel di sana. “Bibirmu manis, Gwen. Seperti dirimu, aku sudah terjerat oleh pesona seorang janda beranak dua,” tuturnya dengan suara serak namun lembut saat masuk ke indera pendengaran.


‘Tapi aku bukan janda, Danzel. Aku istri orang.’ Ingin sekali Gwen mengucapkan kalimat itu, tapi tak kuat hati. Dia tak ingin hubungan ini cepat berakhir ditambah sudah ada lampu hijau dari orang tua Danzel.


“Kau juga manis, perlakuanmu sangat lembut, dan aku menyukai apa pun yang kau lakukan padaku,” balas Gwen. Ia membalas dengan tatapan mata yang mulai memancarkan perasaan cinta.


“Aku mencintaimu, Gwen.” Danzel mengecup kening wanitanya lumayan lama. Dia tak meminta balasan berupa kata-kata cinta dari wanitanya, hanya ingin memberi tahu bagaimana perasaannya pada sekretarisnya itu.


Kendaraan roda empat itu pun sampai juga di apartemen. Danzel menggandeng tangan Gwen seolah tak ingin jauh dari wanitanya. Bibir keduanya terus mengulas senyum.


Dari kejauhan, Danzel dan Gwen bisa melihat kalau Steve dan Chimera sudah menunggu di depan pintu menggendong dua bocah yang sedang tidur.


“Tuan, kenapa perjalanan Anda lama sekali. Padahal aku langsung berangkat ketika mendapatkan pesan darimu,” protes Steve. Dia sudah tiga puluh menit menggendong Aldrich, berdiri di sana sampai kaki dan tangannya terasa pegal.


“Namanya juga sedang berdua, seperti tak tahu saja kau itu,” balas Danzel.

__ADS_1


Pintu unit apartemen milik Gwen pun terayun ke dalam. Wanita itu mempersilahkan semuanya masuk dan meminta tolong pada Steve dan Chimera untuk menidurkan anaknya di kamar.


“Gwen, aku langsung pulang, mommyku pasti menunggu,” pamit Danzel. Dia merasa seperti ada yang ingin disampaikan oleh orang tuanya karena memintanya untuk kembali ke mansion.


Gwen mengangguk dan mengelus lengan Danzel. “Salam untuk orang tuamu. Hati-hati di jalan.” Ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi sebagai ucapan selamat tinggal.


“Gwen, rasanya aku ingin menggendongmu ke kamar dan menanam bibit kehidupanku di ladangmu jika seperti ini,” ujar Danzel. Ia sangat gemas dengan Gwen yang mulai berani memberikan sentuhan padanya.


“Lain kali, sekarang pulanglah. Jangan membuat orang tuamu menunggu,” usir Gwen dengan lembut.


Tangan Danzel meraih tengkuk wanitanya dan lagi-lagi mendaratkan ciuman.


Membuat Danzel menyudahi ciuman itu. “Steve ...!” serunya. “Jika sekali lagi kau menggangguku ketika bermesraan dengan Gwen, maka akan ku potong gajimu,” ancamnya.


Steve mengatupkan tangannya. “Jangan, Tuan,” mohonnya.

__ADS_1


Danzel menghela napasnya. Sepertinya dia memang harus meninggalkan Gwen sekarang juga dari pada diganggu terus. Ia mendaratkan kecupan sekilas di kening wanitanya sebelum benar-benar pergi dari sana.


“Steve! Ayo keluar!” titah Danzel agar asistennya mengikuti langkah kakinya.


Danzel memasuki mansion Pattinson dengan hati yang merekah gembira. Kedatangannya langsung disambut oleh mommy dan daddynya di ruang keluarga.


“Mom, bagaimana wanita pilihanku? Baik bukan?” tanya Danzel. Dia langsung duduk menyatu dengan kedua orang tuanya.


“Ternyata seleramu janda, boleh juga. Pasti goyangannya mantap,” seloroh Daddy Marlin. Dan mendapatkan cubitan dari Mommy Megan di perut.


“Mommy belum terlalu mendalami karakter sifatnya seperti apa, tapi aku memberikan satu syarat padamu jika memang kau ingin menikah dengannya,” ujar Mommy Megan.


“Apa?”


“Mommy ingin melihat Gwen mengandung anakmu, keturunan Pattinson. Jika dia memang masih bisa hamil, aku akan merestui dan menikahkan kalian berdua.”

__ADS_1


...*****...


...Persyaratannya jangan ditiru loh guys, mereka kan bule. Hamil di luar nikah juga bebas aja. La kalo kita hamil duluan ya jadi gunjingan tetangga. Dah pokoknya ini nopel kaga ada mendidik-mendidiknya, seratus persen buat hiburan aja....


__ADS_2