My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 61


__ADS_3

Gwen tertegun di ambang pintu saat melihat Danzel yang tengah tidur bersama anak-anaknya. Pria dengan berjuta kelembutan itu sedang memeluk Aldrich yang sangat menempel di dada bidang yang sepertinya nyaman untuk dijadikan sandaran tersebut.


Gwen memilih untuk menutup kayu bercat putih itu kembali. Dia tak ingin mengganggu tidur mereka yang sepertinya sangat lelap. Ia membukakan pintu lagi.


“Maaf, boleh aku melihat kartu pengenal kerjamu?” tanya Gwen. Dia harus memastikan orang di hadapannya itu sungguh cleaning service di apartemen atau hanya orang jahat yang berpura-pura menyamar.


“Boleh, tunggu sebentar.” Petugas cleaning service itu mengeluarkan id card yang tergantung di lehernya tapi tertutup oleh kemeja kerjanya. Dia melepaskan kartu pengenal tersebut untuk diperlihatkan pada Gwen. “Ini, Nona.”


Gwen menerima id card, membaca dan mengamati dengan teliti untuk memastikan keaslian kartu pengenal tersebut. Bahkan dia sampai mencocokkan foto yang ada di id card dengan orang aslinya.


Ternyata orang yang ada di hadapan Gwen memang sungguh petugas cleaning service. Setelah dia memastikan selama kurang lebih sepuluh menit.


“Silahkan masuk.” Gwen pun memberikan izin. Keduanya bersamaan ke dalam. Dia ikut membantu membersihkan apartemen Danzel karena merasa turut andil mengotori tempat itu.


“Biar saya yang membersihkan, Nona. Anda tak perlu membantu, karena saya digaji untuk ini,” tegur cleaning service tersebut. “Silahkan duduk manis saja dan mengawasi kinerja saya.” Ia mengambil perlahan sapu yang ada di tangan Gwen, lalu menunjuk sofa yang baru saja dia bersihkan agar orang yang dia kira istri pemilik rumah itu mendaratkan pantat di sana.

__ADS_1


“Tak apa, aku juga ikut mengotori tempat ini, jadi sudah sewajarnya membersihkan juga,” tolak Gwen. Dia merasa aneh jika seperti tuan rumah yang tinggal terima beres padahal itu bukan tempat tinggalnya.


Cleaning service itu menghela napasnya. “Nona, nanti Tuan memotong gajiku kalau Anda ikut membantu membersihkan tempat ini. Saya jadi tak melakukan pekerjaan seratus persen jika ada campur tanganmu,” jelasnya.


Sebelumnya Danzel memang sudah memperingatkan saat di telepon, agar petugas cleaning service tak memberikan ruang untuk Gwen membantu membersihkan apartemennya. Dia seolah sudah berjaga-jaga agar wanitanya tak menempatkan diri seperti pembantunya.


“Apakah sampai sejauh itu?”


“Ya.”


“Semua sudut apatemen ini kecuali kamar sudah saya bersihkan, Nona. Saya permisi.” Petugas cleaning service itu pamit untuk keluar, tapi Gwen belum memberikan izin.


“Tunggu, gajimu bagaimana?” tanya Gwen. Dia tak dititipi uang oleh Danzel dan saat ini juga dirinya tak membawa uang.


“Biasanya akan ditransfer, Nona,” jelas cleaning service itu.

__ADS_1


Gwen mengangguk paham. Dia mengantarkan wanita tersebut sampai keluar apartemen. Dan saat ini ia bingung harus melakukan apa. Ingin pulang tapi anak-anaknya sedang tidur di kamar Danzel, mau menggendong dua anaknya tapi Aldrich berada dalam pelukan Danzel.


“Aku coba bangunkan Selena,” gumam Gwen. Ia membuka pintu kamar Danzel dengan hati-hati agar tak menimbulkan suara.


“Selena ...,” bisik Gwen di telinga anaknya.


“Hm?” Mata Selena tetap terpejam dan memberikan gumaman saja.


“Ayo pulang.”


Selena tak menanggapi Gwen lagi. Anak itu enggan membuka mata.


Membuat Gwen menghela napasnya lemah. Sepertinya sulit mengajak Selena dan Aldrich pulang jika sudah terlelap seperti itu. Dan dia pun memilih untuk merebahkan diri di sofa yang ada di ruang tamu.


...*****...

__ADS_1


...Mau modus apa lagi kali ini si Danzel kalau liat Gwen tidur di sofa wkwkwk....


__ADS_2