
Gwen meraih dagu Danzel dan mendaratkan ciuman di sana. Lidahnya menerobos masuk menyapu rongga mulut sang pria agar CEO Patt Group itu bisa merasakan bahwa dirinya memang nyata.
Danzel yang mendapatkan serangan mendadak itu pun mendorong bahu Gwen sedikit bertenaga hingga wanita yang sedang mengandung darah dagingnya melepaskan ciuman yang belum sempat dibalas.
Danzel mengusap wajahnya kasar, memicingkan matanya dan semakin mendekatkan wajah dengan sosok cantik di hadapannya. Dia ingin memastikan siapa orang yang berani menciumnya. Sebab penjaga yang sering datang ke rumahnya dan membersihkan asetnya tersebut sudah berumur setengah abad dan tak mungkin berani sampai menyentuh tubuhnya seperti saat ini.
“Ini tak mungkin Gwen, kan?” gumam Danzel. Dia meraba dari ujung rambut, turun ke wajah, dan sampai di dua bagian tubuh kenyal yang dahulu sering sekali dia sesap. Ingat betul semua bentuk dan lekuk tubuh wanitanya, Danzel pun menatap Gwen lagi. “Tampar aku agar tersadar dari halusinasi ini,” pintanya.
__ADS_1
“Harus berapa kali aku katakan padamu jika ini bukan halusinasi?” Gwen berbicara dengan lirih karena saat ini dia sedang menahan diri agar tak menangis kencang. Tangannya membelai lembut wajah yang seperti tak terurus akhir-akhir ini.
Danzel meraih tangan Gwen dan menamparkan ke pipinya dengan keras. Hal itu justru membuat Gwen menangis dan meronta agar tangannya dilepaskan.
“Cukup, Danzel. Jangan menyakiti dirimu terus,” pinta Gwen. Daripada menampar prianya, Gwen pun memeluk tubuh ayah dari anaknya.
‘Ternyata kau nyata,’ gumam Danzel. Dia ingin mendorong tubuh Gwen mengingat wanita itu adalah istri orang, tapi hatinya berkata lain. Sehingga tangannya pun memilih untuk merengkuh tubuh yang sangat dia rindukan karena perasaannya jauh lebih besar dibandingkan logikanya.
__ADS_1
Dan memang benar, Gwen lagi-lagi melabuhkan ciuman dan kali ini dibalas oleh Danzel. Keduanya pun saling berperang lidah di bawah langit Irlandia yang masih cerah walaupun area sekitar tertutup salju.
Lama sekali keduanya saling menyalurkan kerinduan dengan pertemuan dua bibir. Bahkan sampai lima menit berlalu pun mereka tetap lanjut, tak ada yang lupa untuk bernapas saat memadu cinta seperti itu karena berciuman tak perlu menahan napas kecuali partnernya beraroma tak sedap. Namun mereka berdua tak peduli bagaimana kondisi satu sama lain, walaupun Danzel seperti orang yang tak mandi selama satu minggu dan sangat bau alkohol. Yang penting adalah rasa yang selama lebih dari tujuh hari tak tersalurkan kini bisa saling bersentuhan.
Gwen masih aktif menggerakkan lidahnya, namun tidak dengan Danzel yang mendadak berhenti dan kepala pria itu limbung. Tubuh CEO Patt Group seketika lemas dan tak sadarkan diri.
Membuat Gwen panik. “Danzel, apa yang terjadi denganmu?” tanyanya. Dia tak bisa melihat wajah sang pria seperti apa sebab kepala Danzel berada di bahunya. Tangannya meraba badan dan juga wajah Danzel. “Kenapa kau panas sekali,” gumamnya.
__ADS_1
Gwen ingin membawa Danzel ke dalam tapi tubuh pria itu berat dan dia tak kuat jika sendirian.
“Mom ...,” panggil Gwen dengan suaranya yang lantang. Dia mencari pertolongan agar membantu membawa Danzel ke dalam.