
...Kan bener aku harus minta sogokan dulu baru pada kasih hadiah. Makasih kopi dan bunganya. Karena udah pada kasih sogokan, maka aku lanjutkan....
...Makin anget tapi belom panas, tapi tetep yang dibawah 21 tahun harap undur diri. Terima kasih....
...Kita sedang berhalu di Finlandia. Mau mantap-mantap sebelom nikah bahkan punya anak kaga nikah-nikah juga gak akan digrebek apa tiba-tiba dinikahin sama pak RT. Astaga ... aku jadi bayangin kalo di sana ada penggrebekan pak RT wkwkwk....
...Asal jangan ditiru aja kan beda budayanya sama kita wkwkwk. Ini hiburan ya guys, gaada nilai yang ingin aku sampaikan di sini....
...*****...
Danzel menyingkirkan tangan Gwen agar tak menutupi area yang sangat ingin dia lihat. “It’ okay, Sayang. Aku tak peduli bagaimana bentuknya, asalkan itu milikmu,” balasnya.
Gwen kalah telak, dia tak akan mungkin bisa menolak Danzel karena pria itu sangat tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita agar merasasa nyaman.
Sebelum melepaskan dalaman wanitanya, Danzel mengecup area yang sudah terlihat basah dengan cairan-cairan pelumas. Jemarinya sungguh nakal sekali. Danzel memasukkan tangannya ke balik kain tersebut. Memberikan usapan yang memberikan sensasi sangat geli namun mengenakkan. Sengaja membuat daerah sensitif Gwen semakin becek.
Sial, Gwen sudah tak sabar tapi Danzel justru masih senang bermain di daerah terlarangnya. Tangannya menarik kerah kemeja sang pria hingga wajah atasannya berada satu jengkal dari sorot matanya.
Gwen menekan tengkuk Danzel, mencium bibir atasannya sangat panas.
Dalam hati Danzel sangat gembira karena Gwen ternyata agresif juga jika sudah terangsang.
Merasa mendapatkan balasan, Danzel mulai membuka sabuknya. Menurunkan ritsleting celana panjangnya dan mengeluarkan geoducknya dari sangkar.
__ADS_1
Untung saja dua tahun menjomblo tak membuat peliharaannya itu loyo ataupun lumutan. Masih bisa berdiri tegak dengan otot yang menonjol.
Danzel melepaskan ciumannya. Menatap lekat wajah cantik Gwen yang terlihat menginginkan sebuah pelepasan.
“Kau lebih cantik jika tak memakai busana,” gumam Danzel memuji wanitanya.
“Danzel, jangan setengah-setengah,” mohon Gwen. Dia ingin sang pria segera menjalankan tugas yang seharusnya.
“Tentu, Sayang. Ternyata kau sudah tak sabaran.” Danzel naik ke atas sofa, menumpu kedua lututnya di sana. Tangannya melucuti kain terakhir Gwen, lalu membuka lebar-lebar kedua paha sekretarisnya itu.
Danzel sudah bersiap ingin memasukkan miliknya ke sarang kenikmatan yang tak pernah dia dapatkan sebelumnya.
“Kau sudah memiliki anak, kenapa terasa sempit?” tanya Danzel. Dia tak juga bisa memasukkan geoducknya.
“Aku akan mencoba dengan lembut.” Danzel tak gentar ingin memasukkan. Mungkin kerena ini adalah pengalaman pertamanya setelah sekian lama, membuatnya kesulitan memasukkan ke sarang.
“Aku bantu.” Gwen tak malu, toh untuk apa merasa seperti itu disaat dirinya memang menginginkan penyatuan. Hanya menyiksa diri sendiri disaat ada orang yang mencintainya dengan tulus dan mau mengajaknya mendaki ke atas nirwana.
Danzel membiarkan Gwen memegang miliknya dan mengarahkan untuk memasuki kelembutannya.
“A—” Gwen dan Danzel hendak mendesah ketika usaha keduanya akan berhasil.
Namun gagal, karena pintu ruang VIP itu mendadak ada yang membuka dari luar. “Tuan, ternyata Anda sedang di si—” Steve pelakunya. Dia melongo melihat atasannya bersama sekretaris baru itu hendak melakukan mantap-mantap.
__ADS_1
Danzel langsung ambruk di atas Gwen. Menutupi tubuh wanita yang sudah tak memakai busana agar tak bisa dilihat oleh asistennya yang mengganggu acara enaknya.
“Steve ...!” seru Danzel sangat marah. Dia menatap tajam ke arah asistennya.
Steve membalikkan tubuhnya dan menghadang dua anak Gwen yang ingin masuk ke sana. “Aku tak melihat apa pun, Tuan,” bohongnya.
“Keluar! Dan tutup pintunya!” titah Danzel. Wajahnya sudah memerah. “Kau membuat geoduckku mengkerut lagi!” omelnya.
“Baik, Tuan. Silahkan dilanjutkan saja.” Tanpa rasa bersalah, Steve menutup lagi pintu itu dan menjauhkan kedua anak Gwen.
Danzel mengacak-acak rambutnya karena hasratnya mendadak menghilang. “Gwen, maafkan aku.” Ia mengecup kening wanitanya dengan rasa menyesal.
...*****...
Danzel : Author kampret! Udah mau enak malah diganggu segala. Sialan!
Author : Bayar dulu sini kalo mau dibikin lancar acara enak-enaknya. Wkwkwk, kan elu mah tajir *tersenyum licik*
Danzel : Mata duitan lu kaya Chimera.
Author : Kan gue mah kaya Steve. Duit nomor satu, kaga ada duit bisa pusing.
...*****...
__ADS_1
...Nunggu sogokan lagi ah baru update wkwkwk. Kopinya yok kopinya, bunganya yok bunganya....