My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 67


__ADS_3

“Aunty Megan, akhirnya kau mengangkat teleponku juga.” Ternyata Alcie yang menelepon wanita yang melahirkan Danzel itu.


“Alcie?” Mommy Megan mengerutkan keningnya. “Kenapa kau tak meneleponku dengan nomormu sendiri?” tanyanya.


“Ceritanya pajang, bolehkah aku meminta bantuanmu?” Suara Alcie terdengar sedikit dimuramkan agar seperti orang yang memiliki banyak masalah.


“Apa?”


“Bisakah kau menjaminku untuk keluar dari kantor polisi? Saat ini aku menjadi tahanan sementara di sini,” pinta Alcie dengan isakan tangis lemahnya yang palsu.


“What?” pekik Mommy Megan. Saking terkejutnya, dia sampai menjauhkan diri dari dekapan sang suami. “Bagaimana bisa?”

__ADS_1


“Ada orang yang tak suka jika aku mendekati putramu, dia yang memasukkanku ke dalam sini,” ungkap Alcie. Kini tangisnya terdengar sangat sedih, pilu, dan kesakitan. “Di sini tak nyaman, aku disiksa oleh teman satu selku sampai babak belur. Tolong bantu aku keluar, aku tak tahan.”


Memang dasar ular, tukang playing victim, entah apa lagi sebutan yang cocok untuk wanita siluman itu. Siapa yang berbuat, siapa yang disalahkan. Memang cocok sudah jika Alcie Glee dinobatkan sebagai queen drama.


Bahkan polisi yang kini duduk di hadapan Alcie pun bergeleng kepala melihat perubahan drastis tahanannya. Sebelum berbicara dengan orang yang ada di telepon itu, Alcie nampak sombong dan angkuh. Tapi ketika panggilan diangkat, wanita siluman itu langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Ia sampai tak habis pikir bisa bertemu dengan manusia semenyebalkan Alcie Glee. Biasanya, tahanan sementaranya anak-anak badung yang memang suka sekali dunia bebas, liar, dan nakal. Kali ini dia harus berhadapan dengan wanita yang banyak tipu muslihat.


“Oke, aku akan ke sana.” Mommy Megan setuju akan membantu anak temannya untuk keluar dari tahanan sementara. Lagi pula Alcie juga sudah membantunya untuk menggoda anaknya.


“Untuk apa?”


“Wanita yang ingin ku jodohkan dengan Danzel ada di sana, dia menjadi tahanan sementara.”

__ADS_1


Daddy Marlin melotot, ia terkejut. Tak tahu jika istrinya merencanakan sebuah perjodohan. “Kenapa kau mengatur percintaan anakmu? Biarkan saja dia memilih sendiri. Lagi pula, wanita macam apa yang kau pilih sampai bisa menjadi tahanan seperti itu?” protesnya.


Daddy Marlin memang berbeda dengan istrinya. Ia lebih santai menghadapi percintaan anaknya, tak terlalu memaksakan kehendak karena pernikahan bukan sesuatu yang harus dilakukan karena sebuah keterpaksaan.


“Ada, nanti kau juga akan tahu maksudku.” Mommy Megan mengelus lembut lengan kekar suaminya. Mencoba memberikan pengertian agar sang suami mengikuti rencananya.


“Oke, kita ke kantor polisi.” Daddy Marlin pun mengalah, dia memberikan perintah pada supirnya untuk memutar arah dan menuju tempat di mana Alcie berada. Ia tak tahu rencana dan wanita seperti apa pilihan istrinya itu. Tapi firasatnya sudah merasakan buruk.


Sementara itu, setelah panggilan telepon terputus, Alcie kembali pada sifat sombong dan angkuhnya saat memberikan telepon nirkabel. “Nih! Aku kembalikan! Sudah tak butuh lagi telepon jelekmu itu.” Ia menyodorkan dengan tangan seperti orang jijik memegang benda tersebut. “Sebentar lagi calon mertuaku akan menjaminku untuk keluar, kau pasti akan terkejut saat melihat siapa orangnya,” ujarnya penuh percaya diri.


Polisi itu bergeleng kepala, untung saja dia sabar menghadapi Alcie. “Mari saya antar kembali ke sel.” Ia pun berdiri hendak menuntun tahanannya.

__ADS_1


__ADS_2