
Gwen mendekati atasannya yang menggendong anak tirinya. Ia melihat Aldrich sudah tertidur lelap. Tangannya terulur mengelus puncak kepala bocah mungil itu. “Mudah sekali kau tidur bersama orang yang baru dikenal,” gumamnya.
“Mungkin karena dia menganggap aku seperti papanya, jadi mudah menempel denganku,” celetuk Danzel tak gentar untuk mendekati Gwen.
Gwen hanya tersenyum lembut pada atasannya itu. Tak ada alasan untuk menimpali perkataan Danzel. Aldrich masih memiliki orang tua lengkap, hanya saja sedang tak bisa bersama dengan mereka. Tapi dia hanya bisa berbicara dalam hati.
Tangan Gwen terulur untuk mengambil alih anak tirinya. “Sini, biar aku saja yang menggendongnya. Pasti kau lelah jika terus membawanya seperti itu,” pintanya.
Tangan Danzel yang masih bisa leluasa untuk bergerak pun terulur untuk menyentuh puncak kepala Gwen. Dia mengacak-acak rambut sekretaris barunya itu dengan gemas. “Tidak mungkin lelah, tubuhku penuh dengan otot. Aku sudah terbiasa berolahraga,” terangnya.
Danzel menarik lagi tangannya saat menyadari apa yang dia lakukan. Ia mengulas senyum menawan pada Gwen. “Maaf, aku memang senang sekali mengelus puncak kepalamu. Entah kenapa rasanya menenangkan,” ujarnya. Dia takut Gwen marah dengan aksinya yang secara tiba-tiba dan tanpa izin.
__ADS_1
Lagi-lagi Gwen memberikan ulasan senyum. Dia merasa canggung diperlakukan semanis itu. Sudah lama tak ada seorang pria yang memperlakukannya sedemikian lembut. Suaminya bahkan tak seperti Danzel. “Tak apa, aku maklum.”
“Kalau begitu, aku boleh khilaf terus mengelus rambutmu?” Ini yang namanya diberi hati minta jantung. Danzel malah ketagihan karna Gwen tak marah saat dia lancang menyentuh ujung kepala wanita itu. Ya, namanya juga sedang usaha. Bolehlah sedikit agresif, siapa tahu berhasil.
Gwen tak membalas dengan ucapan, dia hanya memberikan ulasan senyum yang sudah tak terhitung lagi untuk yang keberapa kali. Tak bisa dipungkiri jika dia merindukan dan menginginkan sesosok pria yang bisa menjaga, merawat, dan memperhatikannya sebaik mungkin.
“Boleh aku izin memakai sofamu?” Gwen justru membuat topik pembicaraan yang lain.
“Menidurkan Aldrich.”
Danzel terkekeh gemas. Jika saja Gwen sudah menjadi miliknya, pasti kedua pipi wanita itu sudah dia cubit, lalu digigit, dan berakhir mencium bibir sensual yang begitu menggoda imannya. ‘Sabar, belum saatnya kau mendapatkan kenikmatan itu,’ gumamnya dalam hati.
__ADS_1
“Biarkan dia tidur di ruangan tempatku biasa istirahat saja,” pungkas Danzel. “Sini, ku perlihatkan padamu agar kau bisa istirahat di sana juga jika lelah.” Tanpa izin, dia menggandeng Gwen menuju ruangan khusus di dalam ruang kerjanya.
Gwen bahkan tak memberontak, kelembutan pria itu membuatnya nyaman. Tapi saat mengingat dia masih memiliki suami, membuatnya tetap harus menjaga hati.
“Nah, di sini lebih nyaman,” ujar Danzel seraya merebahkan tubuh mungil itu ke kasur empuknya. Ia hendak melepaskan sepatu yang membalut kaki Aldrich.
“Jangan,” cegah Gwen agar Danzel berhenti memperlakukan Aldrich seperti seorang anak majikan. Padahal justru mereka yang seharusnya melayani CEO muda itu.
“Kenapa?” Danzel yang sudah siap melepaskan sepatu Aldrich pun berhenti sejenak untuk menatap wanita beranak dua itu.
“Biar aku saja, kau sudah cukup baik memberikan banyak fasilitas enak padaku dan anakku,” tutur Gwen. Ia menarik tangan Danzel agar menjauh dari tubuh anak tirinya. “Jangan merendahkan harga dirimu untuk melayani kami. Justru seharusnya aku yang memperlakukanmu seperti itu, karena kau atasanku yang artinya adalah majikanku,” terangnya.
__ADS_1
“Aku tak merasa seperti yang kau sebutkan, aku melakukannya dengan senang hati. Anak-anakmu pasti membutuhkan sosok seorang papa, dan aku hanya memposisikan diri layaknya orang tua mereka,” pungkas Danzel terdengar sangat tulus.