My Poor Secretary

My Poor Secretary
Part 117


__ADS_3

Saat Gwen berjalan menuju restoran Italia, dia berpapasan dengan mantan kekasihnya—Drake Davis Dominique yang sudah pernah menjalin asmara dengannya selama sepuluh tahun, tapi kandas oleh keegoisan orang tuanya.


“Davis, Diora?” panggil Gwen. Pasangan keluarga Dominique itu sedang berdiri di hadapannya dengan mendorong dua stroller ganda yang didesain untuk anak kembar.


“Bagaimana kabarmu, Gwen? Sejak pulang dari Inggris kenapa kau sulit sekali dihubungi?” tanya Davis.


“Aku baik, mau mengobrol di dalam saja?” ajak Gwen seraya menunjuk tempat yang ingin dia tuju.


“Boleh,” jawab Diora.


Mereka pun memilih di tempat duduk yang lumayan besar. Sepertinya akan bernostalgia tentang kejadian yang sudah berlalu atau hanya saling menyapa agar tak memutus tali pertemanan.


“Apa kehidupanmu baik-baik saja setelah memutuskan tak menerima bantuan dariku?” tanya Davis setelah memesan makanan.


Gwen mengangguk walaupun sesungguhnya tak terlalu baik pada saat itu. Namun sekarang sudah tak seburuk masa lalu. “Aku sekarang bekerja sebagai sekretaris.”


“Kenapa kau dulu tak meminta bantuan suamiku saja bekerja di perusahaannya jika memang ingin bekerja?” timpal Diora.


“Aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri, Diora,” balas Gwen.


Setelah pengobatannya pasca kecelakaan yang diakibatkan oleh mamanya, Gwen memutuskan untuk berhenti menerima bantuan dari mantan kekasihnya. Tak enak juga jika terus bergantung hidup dengan orang yang sudah tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Dia merasa menjadi benalu yang hanya memanfaatkan keadaan, maka lebih baik hidup sederhana dan mandiri adalah keputusan terbaiknya.


“Kau sudah menyelamatkan aku dan empat anakku, jadi tak masalah juga jika kau meminta bantuan pada kami,” tutur Diora yang masih merasa hutang budi pada Gwen.

__ADS_1


Gwen menggeleng pelan. “Terima kasih atas kebaikanmu.”


Obrolan mereka pun terjeda karena ada pelayan yang datang mengantarkan pesanan makanan lumayan banyak.


“Bagaimana rasanya memiliki anak kembar?” Gwen melanjutkan obrolan dengan mengajukan pertanyaan pada Diora. Dia ingin tahu perasaan seorang ibu mengandung lebih dari satu janin.


“Luar biasa, bahkan perutku rasanya sangat berat ketika mengandung. Tapi setelah melahirkan, rasanya sangat bahagia,” jelas Diora. Dia terlihat senang saat menceritakan kehidupan masa kehamilan pada Gwen. Tak ada rasa cemburu sedikit pun duduk bersama mantan kekasih suaminya. Mereka sudah menganggap seperti teman dan saudara.


“Aku juga sedang mencoba program hamil kembar,” ujar Gwen.


Davis mengerutkan keningnya, program hamil? Dengan siapa? Setahu dia, suami mantan kekasihnya itu tak akan pernah keluar dari penjara sampai kapanpun. “Apa kau sudah bercerai dengan suamimu?”


“Belum, tapi akan.”


“Kekasihku yang menginginkan aku memiliki anak kembar,” ungkap Gwen seraya mengelus perutnya yang usaha bercocok tanamnya belum berhasil.


Davis dan Diora menganggukkan kepala. Mereka tak ingin bertanya lebih jauh lagi karena itu adalah urusan pribadi Gwen.


“Ayo kita makan,” ajak Davis. Dia sudah bersiap mengambil hidangan yang lezat.


Dari arah pintu masuk, Danzel datang dengan menggendong Aldrich. Alisnya saling bertaut saat melihat Gwen duduk bersama orang lain. Ia segera menghampiri wanitanya. Tapi dia tak melihat wajah dua orang dewasa itu karena duduk memunggunginya.


“Maaf, lama,” ujar Danzel memberikan elusan di lengan Gwen. Matanya lalu terhenti pada sosok wanita yang sangat dia kenal. “Diora?” panggilnya.

__ADS_1


Orang yang dipanggil pun mendongak dan sama terkejutnya. “Danzel?”


“Apa kalian saling mengenal?” tanya Gwen.


“Iya, dia mantan kekasihku yang aku ceritakan saat itu,” jawab Danzel seraya menghempaskan pantatnya di kursi.


Davis yang sedang menikmati makanan pun berhenti sebentar untuk mencerna situasi yang ada di hadapannya. “Apakah dia kekasihmu?” tanyanya pada Gwen.


“Iya.”


Danzel belum paham dengan semua ini. Apa hubungan Gwen dengan dua orang yang sangat dia kenal itu. “Kau juga mengenal mereka?”


Gwen mengangguk. “Davis adalah mantan kekasihku.”


Danzel membulatkan matanya menatap Gwen. “Dan pria ini adalah orang yang merebut kekasihku dengan licik,” ungkapnya.


Tapi Davis yang merasa dibicarakan itu nampak biasa saja. Ia justru terkekeh. “Ternyata hidup selucu ini, aku merebut kekasihmu. Dan sekarang kau mendapatkan mantan kekasihku.”


Keempat orang dewasa itu pun tertawa dengan kehidupan mereka yang ternyata sesempit daun kelor. Dari jutaan penduduk di Eropa, takdir mereka ternyata hanya bertukar pasangan saja.


...*****...


...Masa lalu mereka ada di novelku yang judulnya My Rich Husband. Jadi yang belum baca My Rich Husband, aku saranin baca dulu sambil nunggu ini update karena di sana udah tamat gaperlu nungguin update....

__ADS_1


__ADS_2