
Waktu terus bergulir, udara di luar semakin dingin diiringi cahaya alami yang semakin redup menyisakan gelap disertai salju yang turun lumayan deras. Danzel mulai berpindah posisi tanpa sadar menjadi memeluk Gwen yang sedang memunggunginya.
Gwen yang tiba-tiba mendapatkan sentuhan itu pun justru semakin lelap. Apa lagi perutnya saat ini dipegang oleh ayah dari anak yang ada di dalam kandungannya, walaupun tak dielus tapi posisi itu sangat nyaman.
Kepala Danzel yang sempat merasakan pusing hingga membuatnya pingsan itu pun mulai sedikit reda meskipun tak sepenuhnya. Tepat saat tengah malam dia terbangun dan merasakan menyentuh seseorang.
Tangan Danzel pun menyentuh bahu Gwen, membalikkan tubuh wanitanya untuk dia lihat dan pastikan. Dia tak mengeluarkan satu kata pun, justru memijat pelipisnya yang berdenyut memang karena pusing.
__ADS_1
Kesadaran mulai menyelimuti Danzel. Dia memang tak berhalusinasi melihat Gwen, wanitanya nyata ada di depan matanya. Tapi hatinya benar-benar bingung ingin bertahan atau meninggalkan yang jelas-jelas masih hak milik pria lain.
Perlahan Danzel menarik tangannya sangat hati-hati agar tak mengganggu tidur Gwen. Bahkan turun dari ranjang pun sebisa mungkin tak mengeluarkan suara. Dia tak mengusir sekretarisnya itu untuk pergi, tetap membiarkan Gwen berada dalam satu ruangan bersamanya.
Danzel semakin menaikkan selimut untuk menutupi hingga dada Gwen. Dia ingin mengecup kening tapi diurungkan dan memilih untuk mengayunkan kakinya menuju jendela. Membuka lebar-lebar gorden untuk melihat pemandangan luar di malam hari.
“Apa yang harus aku lakukan padamu, Gwen?” gumam Danzel. “Kenapa berat sekali ingin memutuskan untuk pergi dari hidupmu,” imbuhnya diiringi keluhan.
__ADS_1
Danzel tak menolak mendapatkan sentuhan dari wanitanya. Sorot matanya tetap tertuju pada luar jendela. Dia bergeming dengan seluruh kegundahan hati. Belum ada alasan kuat yang membuatnya harus tetap bertahan dengan Gwen, tapi juga kalau meninggalkan wanita itu rasanya begitu berat.
“Jangan tinggalkan aku, Danzel,” pinta Gwen. Saat baru saja terbangun, dia mendengar gumaman lirih dari bibir sang pria. “Aku mencintaimu, sangat. Tetaplah di sisiku,” harapnya.
“Kau istri orang, Gwen. Bagaimana bisa aku tetap bersamamu sedangkan statusmu masih menjadi pasangan pria lain,” jawab Danzel. Dia tak memakai emosi saat berbicara dengan wanita yang dicintai karena takut akan menyesal seperti dahulu ketika menghadiri pernikahan Diora—mantan kekasihnya yang berakhir mengeluarkan kata-kata tak mengenakkan.
“Jika aku menceritakan kehidupan pernikahanku padamu apakah kau bisa mempercayai aku?” tanya Gwen. Sepertinya memang sudah terlanjur terungkap sebelum waktunya resmi bercerai, lebih baik utarakan semuanya. Entah bagaimana akhir kisah cintanya kali ini, dia hanya bisa pasrah dan mencoba yang terbaik saja.
__ADS_1
“Katakan, Gwen. Aku ingin mendengar secara langsung dari bibir manismu,” jawab Danzel. Ingin rasanya mengelus permukaan kulit wanitanya yang sedang melingkar di perutnya, tapi tahan, itu istri orang.
Gwen menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan dari mulut. Otaknya sedang menyusun dari mana harus menceritakan kisah rumah tangganya yang terbangun tanpa cinta.